178 Patok Batas Negara di Kabupaten Nunukan Tidak Ditemukan

Giat patroli patok Satgas Pamtas Yonarmed 18/Komposit Buritkang di perbatasan Nunukan (foto Istimewa/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Sebanyak 178 patok batas negara Republik Indonesia dengan Malaysia di  Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) tidak ditemukan di  titik koordinatnya, diduga karena adanya perubahan alam, seperti tanah longsor.

“Hasil patroli pos – pos Satgas Pamtas di perbatasan Nunukan, tidak menemukan keberadaan 178 patok batas negara kita,” kata Komandan Satgas Pamtas (Dansatgas) Yonarmed 18/Komposit Buritkang, Letkol Arm Yudhi Ari Irawan pada Niga.Asia, Selasa (10/05/2022).

Penyebab patok itu tak ditemukan lagi di titik koordinatnya, kemungkinan disebabkan  perubahan alam seperti tanah longsor, pohon tumbang dan atau sudah tertimbun di bawah  permukaan tanah.

Hilangnya fisik patok bukanlah masalah sebab, batas negara antara Indonesia dan Malaysia, telah tercatat dalam titik koordinat sempadan perjanjian dua negara. Patok hanyalah tanda batas negara yang bisa diganti atau diperbaharui.

“Kalau patok rusak atau hilang bisa diganti, beda dengan titik koordinatnya tidak mungkin dirubah – rubah,” sebut Letkol Yudhi Ari Irawan.

Yudhi menuturkan, total patok yang berapa di sepanjang garis perbatasan Kabupaten Nunukan, berjumlah 6.873 patok. Dari jumlah tersebut telah terpatroli sebanyak 5.521 patok, sedangkan 1352 patok belum dilakukan patroli pengawasan.

Jenis-jenis patok yang terdapat di Nunukan berjumlah 4 tipe dengan rincian, tipe A sebanyak 7 patok, tipe B berjumlah 27 patok, tipe C ada 295 patok dan terbanyak tipe D ada 5.192 patok. Masing-masing patok memiliki ukuran yang berbeda.

“Patok tipe D berada di kawasan hutan belantara dan jarak tempuhnya sangat sulit dijangkau,” ungkapnya.

Dari hasil patroli patok pula, ditemukan 5.118 patok dalam kondisi baik, 166 patok kondisinya miring, kondisi rusak 10, kondisi patah 4, kondisi roboh 31, tertimpa pohon 21, tidak ditemukan 178 dan tenggelam 3 patok.

“Kebanyakan patok yang tidak ditemukannya dalam patrol berada di lokasi SKK 3 Kecamatan Lumbis,” ujarnya.

Belum tuntasnya patrol patok disebabkan kondisi pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak dalam bertugas, seperti yang berlaku pada pos bersama di wilayah Malaysia, yakni Pos Gabma Ba’ Kelalan dan Pos Gabma Seliku.

Dilain sisi, lokasi keberadaan patok khususnya di wilayah Kecamatan Lumbis sangatlah sulit di jangkau, posisi patok berada di medan ekstrim seperti tebing jurang maupun sungai dan di tengah hutan belantara.

“Patroli kita sempat terkendala doorlop logistik karena helicopter dalam perbaikan, sehingga sulit mengirimkan logistik ke medan patroli,” terangnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: