Sudirman (tengah), Senin (7/9/2020) bertemu sanak kaluarga di kampung halaman di jalan Lappa Anging, RT 002, Kelurahan Wattang Bacukki, Kecamatan Bacukki, Kabupaten Parepare, setelah diantar petugas Disdukcapil Nunukan dan Parepare. (foto Istimewa/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Terpisah dengan keluarga selama 21 tahun, Sudirman (35) akhirnya kembali bertemu dengan  ibu dan saudaranya yang selama ini hampir putus aja mencari jejak dan kabar dirinya sejak bekerja di Negeri Malaysia tahun 1998.

Kepulangan Sudirman ke kampung halamannya di jalan Lappa Anging, RT 002, Kelurahan Wattang Bacukki, Kecamatan Bacukki, Kabupaten Parepare, tidak terlepas dari jasa Kantor Cacatan Sipil dan Kependudukan (Disdukcapil) Nunukan yang berhasil mencari jejak rumah dan identitas Sudirman.

“Sudirman ini eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) deportasi yang datang ke Nunukan tanpa identitas,” kata Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil, Disdukcapil Nunukan, Samsudin, Rabu (16/09).

Paska di deportasi bulan Agustus tahun 2020, Sudirman bertahan di Nunukan dan tanpa sengaja bertemu warga Nunukan bernama H. Bahar Mandar, berkat kebaikan orang ini pula, Sudirman dicarikan kerja mengikat rumput laut di di Mamolo, Kecamatan Nunukan Selatan.

Bahar berinisiatif membawa Sudirman ke Disdukcapil Nunukan untuk pembuatan dokumen kependudukan, namun permohonanan ini terkendala karena pemohonsama sekali tidak memiliki identitas awal.

“Sudirman bilang pernah sekolah SDN, dari data sekolah itulah kami minta Disdukcapil Parepare mencari data atas nama Sudirman lengkap nama ibu dan bapaknya,” jelasnya.

Disducapil Parepare berhasil mendapatkan indentitas Sudirman dari tempatnya sekolah, bahkan nama ibu dan alamat rumahnya diketahui dari data sekolah dan ternyata, disana masih ada ibu dan adik-adiknya termasuk keluarga lainnya.

Dari data itulah, Disdukcapil Nunukan meminta pemerintah Parepare memindahkan data Sudirman ke Nunukan untuk penerbitan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sekaligus menghubungkan antara Sudirman dengan orang tuanya.

“Saya minta nomor kontak keluarganya disana, saya hubungi ibunya dan benar mereka sangat merindukan Sudirman yang hilang bertahun-tahun,” ungkap Bahar.

Komunikasi antara ibu dan anak lewat hubungan telepon sangat mengharukan. Sang ibu mengaku pernah beberapa kali pingsan, karena menahan rasa rindu kepada anaknya, bahkan pernah bertanya ke paranormal mencari informasi Sudirman.

Upaya menemukan Sudirman dilakukan pula dengan mengizinkan saudara bungsunya merantau ke Nunukan mencari kerja sambil mencari saudara, namun karena sudah terlalu lama tidak bertemu dan lupa bentuk wajah, sulit bagi mereka saling mengenal.

“Waktu Sudirman meninggalkan rumah, adiknya itu berusia 3 tahun, wajarlah mereka saling lupa wajah karena terlalu lama berpisah,” cerita Bahar.

Sudirman adalah anak pertama dari 4 saudara yang selepas menamatkan pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 32 Bacukiki, di Kabupaten Parepare. Ia memutuskan mencari kerja dengan mengikuti jejak seorang perantau asal Sulawesi yang telah 30 tahun bekerja di Malaysia.

Keputusan merantau ke negeri jiran diambilnya paska orang tua laki-lakinya meninggal dunia, padahal sang ibunya masih menginginkan Sudirman melanjutkan pendidikan. Namun sebagai anak pertama, Sudirman merasa memiliki tanggung jawab hidup mandiri tetap berangkat merantau.

Sejak merantau dan  bekerja di Malaysia kemudian dibawa Bahar ke Nunukan sebegai pekerja tidak tetap, bahkan jai penjaga toko, Sudirman tidak pernah pulang kampung ataupun memberikan kabar  ke keluarganya.

Tanpa dokumen paspor dan surat ketenagakerjaan, Sudirman tahun 2003 tertangkap dan di deportasi Imigrasi Malaysia ke Nunukan. Karena tidak memiliki kenalan dan sanak keluarga di Nunukan, Sudirman dan sejumlah eks PMI nekat kembali ke Malaysia.

Atas fasilitas rujukan Discukcapil kepada Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI) Nunukan,  Sudirman  bulan ini dipulangkan dengan didampingi oleh Samsudin dan staf Disdukcapil Nunukan lainnya.

“Kebetulan Discukcapil Nunukan ada tugas kantor di Parepare, jadi kami sekaliguslah antar Sudirman, tiba disana dijemput Disdukcapil Pare Pare,” kata Samsudin.

Dari kejadian ini, Samsudin menyampaikan bahwa untuk menelusuri identitas seseorang bisa melalui data sekolah tempat dia bersekolah. Kemudahan menelusiri data kependudukan ini pernah disampaikan Disdukcapil Nunukan dalam pertemuan dengan Dirjen Kependudukan dan Cacatan Sipil.

Artinya, kata Sudirman, selama seseorang pernah sekolah, maka tidak sulit bagi isdukcapil  mencari data pribadinya, hanya saja, perpindahan data kependudukan sering kali sulit dan agak berbelit-belit yang mengharuskan pemohon harus datang ke tempat asal.

“Sebenarnya perpindahan data kependudukan hanya hitungan detik, tapi nyatanya, masih ada urusan begini berbulan-bulan menunggu selesai,” terang Samsudin. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *