PAPI Light dan lampu runway di Bandara APT Pranoto Samarinda (foto : HO/UPBU APT Pranoto Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Kalibrasi Air Field Lighting (AFL) di Bandara APT Pranoto, Samarinda, Kalimantan Timur, beres dilakukan Kamis (2/4). Dengan begitu, salah satu bandara kebanggaan Kalimantan Timur itu, sudah bisa digunakan penerbangan malam hari.

Tim dari Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan Kemenhub, melakukan kalibrasi menggunakan pesawat jenis king Air B.200 GT, untuk pengecekkan terhadap sistem Precision Approach Path Indicator (PAPI) yang diawaki Pilot In Comand (PIC) Captain Novendra.

Pesawat jenis King Air B.200 GT khusus Kemenhub itu, mempunyai kelengkapan yang sangat komplit beserta dengan sistem komputer.

“Sistem PAPI, merupakan salah satu alat navigasi untuk melakukan pendaratan pesawat,” kata Novendra, dalam penjelasannya seperti disampaikan melalui keterangan tertulis Kantor UPBU Kelas I APT Pranoto Samarinda, Jumat (3/4).

PAPI sendiri berfungsi memberikan bantuan visual kepada pilot, dalam hal penyedian informasi panduan saat melakukan pendaratan di bandara.

Tim kalibrasi Kemenhub (foto : HO/UPBU APT Pranoto)

PAPI terdiri dari 4 lampu dengan sudut yang berbeda seperti sudut terendah, sudut aman untuk mendarat serta sudut tertinggi. Alat ini terletak disamping landasan pacu sekitar 300 meter di luar ambang pendaratan landasan pacu.

“Iya, kalibrasi ini, berhubungan erat dalam sistem pendaratan dan lampu-lampu yang telah terpasang,” kata Kepala UPBU Kelas I APT Pranoto Samarinda Dodi Dharma Cahyadi, dalam penjelasannya, Jumat (3/4).

Dengan rampungnya kalibrasi AFL, Dodi menyatakan, bandara Samarinda itu, sudah bisa digunakan untuk penerbangan malam hari, menuju dan dari Samarinda.

“Sekarang juga sudah bisa kita NOTAM (Notice to Airmen)-kan. Masalahnya, airline-nya ada yang mau terbang malam, atau tidak? Tergantung dari airline-nya sekarang. Ada jadwal penerbangan malam, atau tidak?” ujar Dodi.

Beban Runway Bandara Masih Dibatasi

Namun demikian, Dodi menggarisbawahi, yang memungkinkan adalah adanya pergeseran jadwal penerbangan maskapai di siang hari, ke malam hari, dengan tidak menambah frekuensi penerbangan.

Tracking pesawat saat melakukan proses kalibrasi, Kamis (2/4). (Foto : UPBU APT Pranoto)

Sebab, saat ini, Kemenhub masih melakukan pembatasan penambahan rute baru menuju dan dari Samarinda, dimana saat ini ada 48 penerbangan. Mengingat, beban runway bandara riskan untuk kembali ditambah penerbangan baik Boeing, maupun Airbus, dengan berat pesawat di atas 65 ton.

“Belum bisa (menambah rute dan menambah frekuensi penerbangan), masih pembatasan. Penerbangan malam hari tanpa menambah frekuensi ya. Karena runway kita masih off name,” ungkap Dodi.

Lalu, apa rekomendasi atau catatan dari PIC yang melakukan kalibrasi AFL di Bandara APT Pranoto? “Tidak ada, sudah baik, lampu sudah menyala semuanya. Ada sedikit tinggal setting saja, tapi akhirnya bisa, dan clear. Satu-satu PR (Pekerjaan Rumah) sudah selesai. Tinggal runway-nya kita sehatkan,” demikian Dodi.

Namun demikian, Dodi tidak menampik, pemasangan Instrument Landing System (ILS), benar-benar akan semakin melengkapi navigasi penerbangan di bandara Samarinda.

“Se-Indonesia, juga pengajuan (pemasangan ILS), di bandara-bandara yang belum dipasang alat navigasinya. InsyaAllah, pengadaannya oleh Air Nav tahun ini juga, kalau tidak ada perubahan ya,” tutup Dodi. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *