
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan hingga saat ini tercatat baru ada 8 penderita HIV yang resmi terlaporkan di Kutai Timur.
Penegasan itu sekaligus membantah mengenai banyaknya jumlah pengidap HIV di wilayah itu, yang mencapai ratusan.
Sebelumnya, beredar informasi Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melaporkan 422 orang diduga terindikasi HIV/AIDS. Sebanyak 119 di antaranya adalah Laki-laki yang Berhubungan Seks dengan Laki-laki (LSL).
Informasi itu menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim Fitnawati, hari Kamis 22 Januari 2026, masih memerlukan penelusuran lebih lanjut seperti diberitakan niaga.asia.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menerangkan, berdasarkan data resmi yang masuk ke sistem pelaporan, jumlah kasus yang ditemukan jauh lebih rendah dari isu yang beredar saat ini.
“Itu salah, di Kutim hanya delapan yang terlaporkan kemarin. Jadi saat kami membaca informasi di media sosial, saya langsung melakukan pengecekan, sedikit aja gak sampai ratusan,” kata Jaya, ditemui di Hotel Diamond, Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda, Senin 26 Januari 2026.
Jaya menjelaskan tren penyebaran saat ini memang banyak ditemukan pada kelompok berisiko tertentu, salah satunya adalah komunitas Laki-laki Suka Laki-laki (LSL).
Di tahun 2025 sendiri tercatat kasus positif HIV di daerah mencapai 1.018 kasus dan paling banyak ditemukan di daerah Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara.
Untuk menekan angka penyebaran, Dinkes Kaltim terus menggencarkan deteksi dini melalui metode skrining. Fokus utamanya adalah menyasar komunitas berisiko serta lokasi-lokasi yang rawan terjadi penularan.
“Upaya kita dengan lakukan skrining untuk komunitas tertentu seperti skrining pada komunitas LSL,” jelas Jaya.
Selain itu, pihaknya juga memantau tempat-tempat lokalisasi untuk menekan penyebaran kasus HIV ini.
Menurutnya tingkat keparahan gejala HIV dapat ditekan dengan meminum obat Antiretroviral (ARV). Pengobatan yang rutin dan konsisten ini diklaim mampu menekan jumlah virus hingga ke tingkat yang tidak dapat menularkan kepada orang lain. Jaya juga mengingatkan bahaya membiarkan infeksi HIV tanpa penanganan medis.
“Jika tidak diobati, virusnya akan muncul terus dan penyakit penyertanya akan banyak, hingga akhirnya jatuh pada kondisi AIDS,” jelasnya
Terakhir, Jaya menjelaskan terkait penanganan HIV ini, para peneliti sedang mengembangkan jenis vaksin untuk pencegahan HIV.
“Sekarang lagi dikembangkan vaksinnya. Mudahan 2 tahun lagi sudah bisa ada,” demikian Jaya Mualimin.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: AIDSHIV/AIDSKaltimKutai TimurPenyakit Menular