
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Hasil Survei Ekonomi Pertanian (SEP) 2024 mengungkapkan bahwa Unit Usaha Pertanian Perorangan (UTP) di Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi berbagai kendala produksi yang bersifat multidimensi dan saling terkait. Permasalahan paling dominan adalah kesulitan akses terhadap bahan input, yang dilaporkan oleh 46,91% UTP.
“Hambatan ini mencakup keterbatasan ketersediaan pupuk, benih, dan pestisida, serta tingginya harga akibat inflasi biaya dan tekanan pembangunan IKN (Ibu Kota Negara). Distribusi pupuk bersubsidi yang tidak optimal dan rantai pasok yang panjang memperburuk kondisi ini,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Kaltim, Dr. Yusniar Juliana, SST, MIDEC dalam bukua Potret Pertanian Kaltim 2025 yang dipublikasikan akhir Desember tahun lalu.

Menurut Yusniar, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa penyebab kesulitan akses bahan input bervariasi antarwilayah. Secara umum, dua faktor utama mendominasi: harga yang mahal (66,88%) dan kelangkaan barang (33,12%). Pola ini berbeda antar kabupaten/kota.
Di Kabupaten Paser sebagian besar UTP (88,78%) mengeluhkan harga bahan input yang mahal, sedangkan hanya 11,22% menyebut kelangkaan. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli menjadi isu utama di wilayah ini.
“Sedangkan di Kabupaten Kutai Kartanegara, pola keluhan berbanding terbalik, di mana 63,15% UTP mengeluhkan kelangkaan bahan input dan 36,85% terkait harga mahal. Kondisi ini mengindikasikan distribusi pupuk dan benih yang sangat terbatas.,” ujar Yusniar.

Di Kabupaten Mahakam Ulu, seluruh UTP (100,00%) menyebut kelangkaan bahan input tanpa keluhan harga, menandakan masalah infrastruktur dan akses distribusi yang ekstrem. Distribusi relatif lebih baik dibanding Mahakam Ulu, tetapi daya beli tetap menjadi isu.
Kemudian di Kota Bontang dan Samarinda, hampir seluruh keluhan terkait harga mahal (95,03% dan 92,65%), menunjukkan bahwa bahan input tersedia tetapi tidak terjangkau secara ekonomi.
“Sedangkan di Kabupaten Kutai Timur dan Berau menghadapi kombinasi masalah harga dan kelangkaan. Kutai Timur mencatat 66,33% keluhan harga mahal dan 33,67% kelangkaan, sedangkan Berau 74,27% harga mahal dan 25,73% kelangkaan,” pungkas Yusniar.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Pertanian