Relawan mendistribusikan nasi kotak kepada warga korban banjir di Bengkuring, Minggu (24/5). (Foto : Info Taruna Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Permukiman warga di 3 kecamatan di Samarinda, terendam banjir, sejak Jumat (22/5). Lebih 15 ribu jiwa jadi korban banjir di momen lebaran tahun ini.

Banjir disebabkan guyuran hujan Jumat (22/5) dini hari selama 7 jam. Air banjir dari utara kota Samarinda, tumpah ruah mengalir deras ke Bendung Benanga di Lempake. Imbasnya, tinggi muka air (TMA) Bendung Benanga mencapai 107 cm di level merah.

Dampaknya sudah bisa ditebak. Sungai Karang Mumus meluap. Merendam pemukiman mulai dari Bengkuring, Gunung Lingai, Temindung Permai, hingga Sidodadi. Ketinggian air 30 cm hingga 1 meter.

Tenda darutat didirikan relawan kebencanaan, untuk mendistribusikan bantuan makanan kepada warga terdampak banjir. Relawan juga berjibaku mengevakuasi warga menggunakan perahu karet.

“Kami catat sementara, ada 5.006 kepala keluarga, atau sekitar 15.110 jiwa jadi korban banjir,” kata salah satu koordinator relawan Info Taruna Samarinda (ITS) Joko Iswanto, dihubungi Niaga Asia, Minggu (24/5) malam.

Tim Basarnas mengerahkan perahu karet untuk mengevakuasi warga korban banjir di Gunung Lingai, Samarinda, Minggu (24/5). (Foto : HO/Basarnas)

Joko menerangkan, 15 ribu jiwa terdampak banjir itu tersebar di 6 kelurahan di 3 kecamatan Samarinda Utara, kecamatan Sungai Pinang, serta kecamatan Samarinda Ulu.

“Di Sempaja Timur, ada 16 RT terdampak banjir. Sebagian besar warga mengungsi karena ketinggian air sampai 1 meter,” ujar Joko.

Joko menerangkan, relawan terus bergerak mengerahkan perahu karet, untuk menyisir warga yang memerlukan bantuan. Apalagi, sebagian wilayah banjir malam ini gelap gulita. “Data yang kami himpun dari penyusuran relawan, hingga pukul 17.25 Wita. Pendataan terus berjalan,” ungkap Joko.

Sadi (38), warga Gunung Lingai mengatakan, banjir kali ini nyaris menyamai banjir tiga hari setelah lebaran Idulfitri 2019 lalu. Saat itu, ada 50 ribu jiwa jadi korban banjir, hingga 2 pekan.

“Nyaris tidak ada yang bisa diperbuat pemerintah meminimalisir dampak banjir ini. Kurang apalagi banjir 2019? Sekarang terulang lagi. Saat lebaran, pas pandemi Corona,” demikian Sadi. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *