
NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesP2KB) Nunukan, mengingatkan masyarakat agar menjaga keluarganya dari pergaulan seks menyimpang, atau melakukan hubungan seks sesama jenis, sebab temuan terbaru 50 persen lebih atau kasus AIDs didominasi homoseksual, para lelaki suka lelaki, sisanya dari kalangan heteroseksual.
“Kasus AIDs di Nunukan didominasi kalangan homoseksual atay gay yang belakangan ini mulai berkembang di Nunukan,” kata KadinkesP2KB Nunukan, Hj. Miskia, pada Niaga.Asia, Rabu (14/01/2026).
Merujuk data DinkesP2KB Nunukan tahun 2025, tercacat 50 persen penderita Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDs) di Nunukan, merupakan laki-laki homo atau gay.
Satu orang laki-laki homo penderita AIDs di Nunukan yang tergolong masih remaja diketahui meninggal dunia di tahun 2025, selebihnya masih dalam pengobatan di RSUD Nunukan maupun RSUD kota Tarakan.
“Jumlah penderita AIDs yang tercatat di Nunukan sebanyak 34 orang, tapi jumlah riilnya kemungkinan lebih banyak karena sebagian penderita berobat di Tarakan dan lainnya,” sebutnya.
Melihat tingginya dominasi penderita AIDs dari kalangan lelaki, Miskia menghimbau masyarakat dan keluarga mengawasi pergaulan anak-anaknya, terutama untuk anak usia remaja yang rentan tertular hubungan seks sesama jenis.
Pergaulan seks sesama jenis biasanya menyasar anak remaja, hal ini dibuktikan dari hasil pendataan DinkesP2KB Nunukan tahun 2024 – 2025 yang mencatat jumlah remaja dan dewasa tertular AIDs lebih tinggi dibandingkan orang tua.
“Jumlah penderita AIDs mengalami penurunan dari 36 orang di tahun 2024 turun menjadi menjadi 34 orang di tahun 2025,” ujarnya.
Kehidupan sosial homoseksual di tiap daerah biasanya terhubung dengan berbagai kelompok sejenis di berbagai daerah lainnya, tapi sangat tertutup. Mereka saling melindungi dan biasanya saling memberikan dukungan baik materi maupun kasih sayang.
Miskia tidak menjelaskan secara rinci kelompok homo atau gay di Nunukan, namun menurutnya, kelompok-kelompok telah membentuk sirkel yang terus berkembang setiap tahun yang jika tidak dihentikan akan berkembang semakin luas.
“Kalangan homoseksual biasanya mencari anak remaja dan dewasa baru, satu orang berhubungan dengan banyak lelaki yang secara tidak langsung menambah jumlah penderita,” bebernya.
Mengingat tingginya kasus AIDs, Miskia mewanti-wanti orang tua mengawasi anak-anak remajanya apabila terlalu akrab bergaul dengan lelaki. Meski tidak semua laki-laki homo, tapi hubungan dua orang pria terlalu dekat perlu diwaspadai.
Begitu pula dengan wanita, walaupun jumlah wanita penyuka wanita tidak seberapa tinggi, namun kelainan perilaku hubungan seks menyimpang ini mulai menjadi pembicaraan warga di Kabupaten Nunukan.
“Korban homo biasanya mengalami trauma yang mendorong dirinya menjadi pelaku baru mencari korban lainnya sebagai pelampiasan,” tuturnya.
Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan
Tag: Kesehatan