Terminal Bus Sungai Kunjang Tak Terawat

Terminal Bus Sungai Kunjang. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Dilihat dari jauh, Terminal Bus Tipe B Sungai Kunjang Samarinda sudah tampak tak terawat. Bangunan bercat pudar itu seolah menyimpan cerita panjang sebagai salah satu gerbang transportasi darat di ibu kota Kalimantan Timur (Kaltim).

Begitu mendekat, akan terlihat lantai ruang tunggu dan kantor terminal bus antar kota dalam provinsi Kaltim yang sudah berusia puluhan tahun ini nampak kusam dan retak, toilet berbau tak sedap, wastafel mati, hingga plafon bolong. Sementara area taman yang sangat terlihat suram tanpa sentuhan perawatan menjadi pemandangan sehari-hari.

Alih-alih nyaman, suasana terminal ini justru menghadirkan rasa muram. Penumpang yang datang pun lebih banyak memilih menunggu angkutan kota di luar terminal. Mereka rela menyeret kopernya sesaat turun dari bus yang ditumpanginya, ketimbang harus duduk di ruang tunggu yang jauh dari nyaman.

Bagi Panjul, wajah kumuh terminal bukan hal baru. Pria berusia 48 tahun yang sejak lama telah menggantungkan hidupnya di Terminal Sungai Kunjang ini paham betul bagaimana bangunan itu berdiri, dipoles, lalu dibiarkan lagi tak terawat.

Dari asongan hingga kini jadi penjaga toilet, Panjul menjadi saksi hidup pasang surutnya Terminal Sungai Kunjang, dari awalnya dikelola Pemerintah Kota Samarinda hingga beralih ke Pemerintah Provinsi Kaltim. Ia juga mengaku bahwa toilet berbayar Rp3-8 ribu yang dijaganya ini benar-benar tak layak.

“Untuk toilet, beberapa tahun lalu memang sempat ada perbaikan, tapi cuma plafonnya diganti. Lantainya dari pertama kali dibangun puluhan tahun sampai sekarang nggak pernah diganti. Kalau ada yang rusak, ya saya tambal sendiri,” ujar Panjul Senin (25/8).

Alih-alih jadi ruang hijau yang asri, taman Terminal Sungai Kunjang terlihat gersang dan tak terurus. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Berdasarkan data yang didapatkan dengan Nomor 01/KPA.SPK/PEMEL.TRV/VI/2022, toilet umum Terminal Sungai Kunjang terakhir kali direnovasi bersama enam terminal lainnya pada tahun 2022 dengan anggaran sebesar Rp199,7 juta dari APBD Kaltim.

Anggaran sebesar Rp199,7 juta itu dibagi untuk tujuh terminal tipe B yang ada di Provinsi Kaltim, termasuk Sungai Kunjang; Terminal Lempake; Terminal Timbau; Terminal Bontang; Terminal Sangatta; Terminal Paser; dan Terminal Berau.

“Sebenarnya bangunan toilet habis diperbaiki, cuman plafonnya saja, itu juga sebentar saja sudah jatuh sendiri, biar dipaku mana tahan,” jelasnya.

Beginilah wajah toilet umum berbayar milik Terminal Sungai Kunjang di Samarinda, plafon jebol dan lantai kusam tak pernah diganti sejak awal dibangun (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Plafon baru toilet yang tidak menggunakan plywood, tapi gipsum cepat rusak. Getaran puluhan bus dan kendaraan-kendaraan yang hilir-mudik di depan toilet umum membuat sambungan plafon mudah retak hingga akhirnya jebol.

“Kalau dulu pakai plywood, lebih tahan lama. Sekarang cepat hancur,” tambahnya.

Meski kondisi bangunan memprihatinkan, Panjul tetap berusaha menjaga kebersihan toilet. Setiap hari, sejak pukul 04.30 subuh ia sudah menyiapkan air, mengepel, hingga menyikat lantai.

“Nanti jam enam pagi orang sudah datang. Kalau hujan lumpur naik, ya saya pel lagi. Saya nggak bisa nyuruh orang lepas sepatu atau sandal. Kalau hilang, siapa yang tanggung jawab. Jadi biar lantai kotor, ya saya yang bersihkan,” terangnya.

Kepala UPTD Terminal Sungai Kunjang, Jaka Purwa Indarta kepada Niaga.Asia, mengakui, buruknya kondisi terminal bukan semata-mata soal perawatan yang tak rutin dilakukan, melainkan juga faktor minimnya anggaran yang diberikan Pemerintah Provinsi Kaltim.

Ruang tunggu dan Kantor UPT Terminal Bus Sungai Kunjang, sepi aktivitas. Cat nampak memudar dan dinding kusam mencerminkan minimnya perawatan. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

“Memang begitu kondisinya, anggaran minim. Tahun 2022 lalu, diberi anggaran Rp200 juta. Itu pun dibagi untuk 6 terminal, khusus tahun lalu Terminal Timbau yang anggarannya pisah. Jadi untuk 6 terminal, apa yang bisa diperbaiki ya hanya yang sifatnya darurat saja, kan pakai skala prioritas,” jelasnya, Selasa (26/8).

Jaka sendiri tak mengetahui pasti mengapa anggaran yang diberikan untuk terminal tipe B sangat minim. Padahal lanjutnya, terminal bukan sekadar tempat naik-turun penumpang saja. Ia merupakan wajah pelayanan publik yang seharusnya mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap masyarakat.

Loket bus di Terminal Sungai Kunjang tidak terurus lagi, menambah wajah muram salah satu gerbang transportasi darat di Samarinda. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Meskipun diberikan anggaran terbatas, pihak UPTD tetap berusaha menjaga agar Terminal Sungai Kunjang tetap berfungsi dengan baik. Mereka bahkan telah merancang desain baru, lengkap dengan toilet di tiap lantai, sistem pembuangan yang jelas, dan fasilitas modern.

Cita-cita itu sederhana, yakni menghadirkan terminal yang setara dengan bandara. Toilet gratis, bersih, dan nyaman menjadi mimpi yang suatu saat ingin diwujudkan.

Namun, hingga saat ini, kenyataan tersebut masih jauh dari harapan. Terminal Sungai Kunjang dan terminal-terminal tipe B lainnya di Kaltim masih menunggu perhatian lebih dari Pemerintah Provinsi Kaltim.

Dan selama anggaran hanya sekadar angka kecil di baris bawah APBD, wajah muram terminal itu akan tetap jadi potret buram layanan publik di Provinsi Kaltim.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: