
BOGOR.NIAGA.ASIA – “Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% di tahun 2029, kita perlu terlebih dahulu memahami peluang dan tantangan yang akan hadir. Hal tersebut menjadi bahan untuk menetapkan langkah yang strategis dan adaptif sesuai dengan tren kondisi global,” ucap Plt. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag), Johni Martha saat memberikan sambutan di GTT ke-21.
Dalam rangka menyusun strategi dan memetakan berbagai proyeksi peluang serta tantangan tahun mendatang, Kementerian Perdagangan menggelar Gambir Trade Talk (GTT) ke-21 dengan tema “Outlook Perdagangan Luar Negeri 2026”.
GTT merupakan ruang dialog kebijakanyang dilaksanakan secara rutin oleh Kementerian Perdagangan untuk membahas isu terkini dan menghadirkan berbagai pakar di bidangnya. Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrida di Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, di Dramaga, Kabupaten Bogor, Kamis (27/11).
Johni menambahkan, prospek perdagangan global ke depan tidak lepas dari berbagai tantangan yang perlu terus diantisipasi, salah satunya melalui sinergi lintas pihak. Untuk itu, forum tersebut mengangkat tiga bahasan utama, yaitu proyeksi kinerja ekspor Indonesia tahun 2026, kebijakan industrialisasi dalam mendukung pencapaian target ekspor nasional, dan peran sektor swasta dalam mendorong penguatan ekspor.
“Kondisi perekonomian global selalu dinamis. Oleh karena itu, mahasiswa tidak boleh berhenti belajar agar mampu memanfaatkan peluang dan menciptakan solusi,” tandasnya.
Hadir secara daring Dekan FEM IPB University, Prof. Irfan Syauqi Beik yang dalam sambutannya menekankan pentingnya basis data yang kuat dan wawasan yang luas dalam menentukan respons terhadap tantangan yang ada. Ia menilai, GTT sebagai suatu ruang dialog kolaboratif yang penting dan relevan untuk hal tersebut.
“Melalui forum ini, kita akan bersama menganalisa dan mengeksplorasi peluang ekspor Indonesia di tahun 2026, khususnya dalamkonteks upaya diversifikasi tujuan pasar dan diferensiasi jenis produk. Saya harap, mahasiswa dapat memanfaatkan forum ini dengan sebaik mungkin,” terang Irfan.
Pada sesi diskusi yang dimoderatori oleh Prof. Sahara selaku Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) IPB University, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga/institusi.
Mengawali sesi, Direktur Eksekutif INDEF, Esther Agustin menekankan betapa krusialnya diversifikasi ekspor sebagai cara menghadapi fenomena geopolitik dan menciptakan postur ekspor Indonesia yang tangguh.
Dalam konteks diversifikasi pasar tujuan ekspor, Esther meyakini perlunya optimalisasi pemanfaatan FTA dan integrasi kawasan.Tidak berhenti di sana, menurut Esther, diversifikasi ekspor juga perlu disertai dengan navigasi pelengkap.
“Indonesia perlu menerapkan transformasi industri hijau mengingat proteksionisme global sangat menekankan hal tersebut dan memperluas basis pajak untuk fokus pada belanja infrastruktur, energi bersih, dan pendidikan vokasi,” tuturnya.
Selanjutnya, Direktur Industri, Perdagangan, dan Peningkatan Investasi Bappenas, Roby Fadillah memaparkan bagaimana industri manufaktur berkontribusi tinggi terhadap ekspor nasional dengan didominasi oleh produk manufaktur berteknologi menengah.
Berdasarkan fakta tersebut, ia menilai bahwa pada 2026, Indonesia perlu memanfaatkan global shifting sebagai peluang dan dorongan untuk meningkatkan ekspor, terutama bagi produk manufaktur berteknologi menengah dan tinggi.
“Strategi yang dapat diterapkan yaitu diferensiasi produk dengan daya saing tinggi, penguatan SDM dan riset, efisiensi industri, perbaikan sisi suplai, dan promosi dagang strategis. Keseluruhan faktor tersebut membuat Indonesia menjadi lebih kompetitif,” ujar Roby.
Adapun Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Luar Negeri Kadin Indonesia, Pahala Mansury turut melengkapi perspektif dengan berfokus pada peran sektor swasta. Menurutnya, peran pelaku usaha menjadi sangat sentral dalam memastikan Indonesia jadi bagian rantai pasok dunia melalui proses industrialisasi yang efektif dan sesuai standar global.
Pahala mengangkat studi kasus nikel di mana Indonesia sukses menjadi bagian dari rantai pasok global dengan peningkatan nilai tambah yang sangat signifikan. Namun, masih muncul tantangan yaitu ketergantungan terhadap investasi RRT dan kurangnya alih teknologi.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia menggarisbawahi pentingnya optimalisasi pemanfaatan CEPA, termasuk untuk sektor strategis lainnya seperti ekonomi hijau (baterai dan panel surya), mesin dan otomotif, dan sistem pengadaan untuk produk tekstil, alas kaki, dan kesehatan (obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan).
“Indonesia saat ini telah memiliki akses pasar yang baik. Yang masih perlu ditingkatkan yaitu kemitraanstrategis antara pelaku usaha Indonesia dengan produsen global,” jelasnya.
Di sisi lain, Alisa Kartika Dewi sebagai salah satu mahasiswa yang menjadi peserta, mengungkapkan kesannya terhadap pelaksanaan acara ini.
“Kegiatan ini penuh wawasan yang baru dan berguna bagi kami mahasiswa, sehingga membuat kami paham tentang tantangan global dan bagaimana generasi muda perlu bersikap dan bersiap diri. Kami berharap, GTT dapat dilaksanakan kembali di IPB University tahun depan,” tutur Alisa
Sumber: Siaran Pers Kemendag | Editor: Intoniswan
Tag: Ekspor