
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Provinsi Kalimantan Timur juga menjadi salah provinsi di Indonesia yang saat ini berada pada fase bonus demografi. Pada tahun 2025, penduduk Kalimantan Timur tercatat sebesar 4,27 juta jiwa, dengan proporsi penduduk usia produktif mencapai 71,34 persen.
Angka rasio beban ketergantungan sebesar 40,17 persen, menurun dibandingkan tahun 2020. Hal ini berarti, pada tahun 2025, pada setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung beban sekitar 40–41 penduduk usia non-produktif (anak-anak dan lansia).
Angka rasio beban ketergantungan akan berimplikasi pada kemampuan penduduk usia produktif untuk menyediakan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kelompok non produktif.
Demikian dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim dalam Publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Timur 2025, yang dilaunching akhir Desember 2025.
Publikasi ini menyajikan data yang dikumpulkan langsung oleh BPS melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Proyeksi Penduduk 2015-2045, dan berbagai sata lainnya dengan maksud untuk memberikan gambaran umum mengenai keadaan kesejahteraan rakyat di Provinsi Kalimantan Timur.
Publikasi ini menyajikan berbagai aspek kesejahteraan yang datanya tersedia dan terukur. Untuk memudahkan interpretasi, perubahan taraf kesejahteraan dikaji menurut aspek Kependudukan, Kesehatan, Pendidikan, Ketenagakerjaan, Pola Konsumsi, serta Perumahan.

Sedangkan rasio jenis kelamin di Kaltim, menurut Kepala BPS Kaltim, Dr. Yusniar Juliana, SST, MIDEC, sebesar 106,8 menunjukkan jumlah laki-laki jauh lebih banyak dibandingkan perempuan atau sekitar 107 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
“Rasio ini berbeda cukup signifikan dibandingkan gambaran nasional. Perbedaan ini terutama disebabkan karena Kaltim menjadi provinsi tujuan migrasi masuk bagi para pekerja di sektor pertambangan, industri, dan konstruksi,” katanya. Sektor pertambangan, industri, dan konstruksi ini didominasi oleh tenaga kerja laki-laki, sehingga komposisi gender menjadi cukup timpang.
Kemudian, persebaran penduduk di Provinsi Kaltim juga masih terpusat di kawasan perkotaan, seperti Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada tahun 2025, ketiga wilayah ini menampung lebih dari separuh atau sekitar 57,09 persen dari total penduduk Kaltim. Sementara itu, Kabupaten Mahakam Ulu hanya ditinggali oleh 0,81 persen penduduk Kaltim.
“Kepadatan penduduk di wilayah ini juga cukup bervariasi. Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi, yaitu sebesar 20,28 persen dan 19,81 persen, sedangkan Kabupaten Mahakam Ulu merupakan kabupaten dengan kepadatan penduduk terendah,” demikian Yusniar.

Berdasarkan proyeksi penduduk 2020-2050, jumlah penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan. Hasil Sensus Penduduk 2020 mencatat penduduk sebesar 270,20 juta jiwa dan diproyeksi pada tahun 2025, penduduk Indonesia telah mencapai 284,44 juta jiwa.
Lebih dari separuh penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, sisanya tersebar di pulau lainnya. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kepadatan penduduk di Indonesia juga meningkat. Pada tahun 2020, kepadatan penduduk Indonesia tercatat sebesar 140,96 jiwa per kilometer persegi dan pada tahun 2025 meningkat menjadi 150 jiwa per kilometer persegi, dengan Provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Penduduk