
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Aroma kuah kuning hangat bercampur taburan koya khas Lamongan menyeruak tercium ke hidung para pengunjung yang melintasi Lantai 2 Pasar Tangga Arung Square, Tenggarong.
Tepat di dekat eskalator, lapak bernomor 563 itu nyaris tak pernah sepi. Di sanalah Soto Lamongan Cak Irul bertahan, bukan sekadar sebagai usaha kuliner, tetapi juga sebagai warisan perjuangan keluarga.
Pemiliknya, Khairul (32), menyapa pelanggan dengan senyum sederhana. Pria kelahiran Lamongan, 20 Maret 1993 ini, rupanya telah lama menetap di Tenggarong.
Soto yang ia sajikan bukanlah bisnis yang baru dirintis, melainkan usaha yang berakar dari perjuangan sang ibu sejak lebih dari dua dekade lalu.
“Awalnya ibu saya yang jualan soto, sekitar tahun 2003. Dulu masih pedagang kaki lima di depan terminal,” kenang Khairul saat ditemui media Niaga.Asia, Selasa (13/1/2026).
Khairul adalah generasi kedua dari usaha soto keluarga tersebut. Ia mulai membantu ibunya sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD. Bahkan, karena terlalu fokus membantu orang tua berdagang, pendidikannya terhenti di tingkat sekolah dasar.
“Saya memang dari kecil ikut orang tua. Jadi paham bumbu, paham masaknya,” ujarnya jujur.

Sebelum berjualan soto, sang ibu sempat berjualan sayur di pasar. Namun, pengalaman membuat soto saat masih berada di Jawa dan tingginya minat warga Tenggarong terhadap soto Lamongan membuat sang ibu mantap beralih usaha.
Ciri khas Soto Lamongan Cak Irul yang telah diwarisi langsung dari sang ibu terletak pada proses memasak dan pemilihan bahan. Kata dia, kunci utama ada pada ketepatan takaran bumbu yang diracik secara konsisten, mulai dari tahap perebusan hingga penyajian.
Soto dimasak dalam kondisi segar setiap pagi dengan menggunakan bahan utamanya ‘ayam kampung’, sehingga menghasilkan kuah yang gurih, bening, dan aroma rempah yang kuat tanpa menghilangkan cita rasa khas Soto Lamongan.
Konsistensi rasa inilah yang terus ia jaga agar pelanggan lama tetap setia dan pembeli baru kembali datang.
“Kalau rasanya tidak konsisten, pelanggan jera dan nggak mau kembali lagi,” katanya.
Semasa ibunya masih berjualan, soto tersebut belum memiliki nama. Baru setelah sang ibu meninggal dunia pada tahun 2018, Khairul memutuskan memberi identitas pada usaha yang ia lanjutkan.
“Saya kasih nama Soto Lamongan Cak Irul di tahun 2019 saat melanjutkan usaha ibu,” bebernya.

Nama itu sengaja diperkenalkan sebelum Pasar Tangga Arung dibongkar pada 2022, agar pelanggan tetap mengenali lapaknya meski harus berpindah tempat.
Selama masa renovasi pasar, Khairul dan istri berjualan di depan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kutai Kartanegara. Bahkan, tempat ini masih buka.
“Jadi ada dua cabang, di sini (Pasar Tangga Arung) dan di depan kantor perpustakaan,” tuturnya.
Kini, Soto Lamongan Cak Irul memiliki dua titik penjualan sejak Pasar Tangga Arung Square dibuka secara resmi oleh Bupati Aulia Rahman Basri pada tanggal 5 Januari 2026.
Pagi hari, Khairul sendiri melayani pembeli di depan kantor perpustakaan sejak pukul 07.00 hingga 12.00 Wita. Sementara lapak di Pasar Tangga Arung Square, dibuka mulai pukul 11.00 siang hingga 22.00 Wita, dijaga oleh sang istri.
Jumat Berkah Rp10 Ribu
Di antara pasang surut dagangannya, ada satu program yang membuat Soto Lamongan Cak Irul semakin dikenal, yaitu rutinnya ‘Jumat Berkah Rp10 ribu’ yang sudah berjalan lebih dari dua tahun.

Ia pun menceritakan awal tercetusnya ‘Jumat Berkah Rp10 Ribu’ ini. Program tersebut lahir dari pengalaman pahit namun penuh makna saat Pasar Tangga Arung dibongkar dan ia sempat tidak memiliki tempat berjualan.
Di tengah kondisi sulit itu, Khairul bertemu dengan seorang sesama pedagang yang dengan tulus memberinya tempat tanpa meminta bayaran sewa sedikit pun.
“Waktu itu saya benar-benar lagi susah. Tapi ada orang baik yang ngasih tempat, cuma disuruh nempatin saja,” jelasnya.
Dari pengalaman itulah muncul niat untuk berbagi rezeki kepada sesama. Baginya, kebaikan yang pernah ia terima harus terus mengalir seperti air yang mengalir.
Melalui program Jumat Berkah Rp10 ribu, Khairul berharap pelanggannya tetap bisa menikmati semangkuk soto hangat dengan harga yang sangat terjangkau.
Program ini juga sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya persaingan usaha, nilai solidaritas dan kepedulian masih bisa dijaga oleh para pedagang kecil.
“Dari situ saya niat berbagi. Biar rezeki juga mengalir,” tambahnya.

Dalam sehari, omzet Soto Lamongan Cak Irul berkisar Rp1,5 juta – Rp2 juta per cabang, meskipun omzetnya juga tak selalu menentu. Satu dandang soto biasanya menghabiskan 8 hingga 10 ekor ayam kampung. Di hari ramai, jumlahnya bisa lebih.
Namun, perjalanan menuju stabil bukanlah hal instan. Saat awal membuka usaha sendiri pada 2019, Khairul pernah hanya memperoleh omzet Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari.
“Itu cuma cukup buat muter belanja. Kadang buat makan aja pas-pasan,” katanya.
Menurutnya, fase naik turun hingga enam bulan bahkan satu tahun adalah hal yang wajar bagi pedagang baru. Kuncinya ada pada evaluasi, konsistensi rasa, dan keramahan pada pelanggan.
“Ini pesan untuk anak-anak muda yang baru merintis dan buka usaha, 6 bulan dagangan sepi itu wajar, yang penting jangan menyerah,” tegasnya.
Disinggung soal bagaimana tanggapannya terhadap Pasar Tangga Arung Square yang baru saja diresmikan, Khairul menilai kondisi pasar kini jauh lebih bersih, tertata, dan nyaman bagi pengunjung.
“Alhamdulillah ada peningkatan omset juga. Lebih nyaman orang makan di sini,” bebernya.
Sebagai pedagang relokasi, Khairul tidak dikenakan biaya sewa, hanya retribusi pajak. Ia berharap pemerintah terus memperhatikan pedagang kecil, termasuk soal penataan pedagang basah dan kering agar tidak terlalu berjauhan.
Ayah dua anak ini pun kembali menitipkan pesan sederhana namun kuat untuk generasi muda.
“Jangan malu berdagang. Kalau malu, kita nggak akan maju. Jatuh bangun itu biasa. Yang penting sabar dan terus berusaha.”
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Kuliner