Klappertaart Belanda Meymey, Warisan Oma yang Bertahan Lebih dari Satu Dekade di Samarinda

Adonan klappertaart dituang satu per satu ke dalam cup di dapur sederhana Meymey. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Masyarakat Benua Etam tak perlu jauh-jauh terbang ke Manado untuk mengantre di toko klappertaart. Karena klappertaart khas negara kincir angin Belanda bercita rasa autentik dapat dinikmati langsung dari dapur rumahan ‘Klappertaart Belanda Meymey’.

Hadir lebih dari satu dekade di Kota Tepian, klappertaart ini bukan sekadar tren kuliner musiman. Melainkan warisan yang dijaga turun-temurun hingga generasi ketiga. Cita rasa khasnya membuat Klappertaart Belanda Meymey ini berbeda daripada yang lain.

Di balik tekstur lembut dan rasa gurih yang pas di lidah, klappertaart ini juga menyimpan kisah panjang dari perjuangan seorang wanita tangguh yang menjaga resep Oma agar tak hilang ditelan zaman.

Marchela Marlein Sanger, atau yang akrab disapa Meymey, adalah sosok di balik usaha rumahan kecil yang terus mengepul sejak tahun 2012.

Berawal dari kecintaannya pada masakan khas Manado dan kenangan saat melihat sang Oma mengadon klappertaart, Meymey mulai mencoba membuat klappertaartnya sendiri di tahun tersebut.

Resep itu bukan sembarang resep, ia adalah resep keluarga yang diwariskan secara lisan, tanpa takaran gram, tanpa buku catatan dari sang Oma, hanya mengandalkan rasa serta kebiasaan tangan menakar yang telah terlatih oleh waktu dan pengalaman.

“Ini asli resep Oma. Dari dulu sudah dikasih tau sama Oma jangan sembarang kasih resep ke orang. Karena ini kan resep keluarga. Terus didukung juga buat jualan kue, pertama kali buka masih online,” ujar Meymey mengenang pesan Oma kala itu.

Deretan klappertaart pesanan pelanggan siap dikirim. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Keistimewaan Klappertaart Belanda Meymey terletak pada kesetiaannya mempertahankan cara lama yang diwariskan sang Oma. Bahan dasarnya memang sama seperti klappertaart pada umumnya, tetap kelapa parut segar dan air kelapa asli.

Namun poses pemanggangannya sangat berbeda daripada yang lain. Klappertaart ini dipanggang hingga berjam-jam menggunakan api kecil.

Metode tradisional ini pun diyakini membuat klappertaart lebih tahan lama, tidak cepat basi, serta menghadirkan rasa yang lembut dan tidak enek di mulut.

Berbeda dengan klappertaart lain yang hanya dikukus atau dipanggang singkat. Teknik lama ini justru membentuk identitas rasa yang khas dari Klappertaart Belanda Meymey. Gurihnya seimbang, manisnya tidak berlebihan, dan aromanya khas.

“Kalau masaknya cuma setengah jam, sore sudah basi. Kalau ini bisa tahan lama, bahkan bisa dibekukan sampai sebulan,” jelasnya.

Semua klappertaart dibuat langsung oleh tangan Meymey. Ia mengaku, meski sempat membuka toko kue sendiri di tahun 2019, rasa tetap tidak sama jika bukan dirinya yang mengadon dan memanggang klappertaart.

Klappertaart Belanda Meymey ukuran jumbo dibanderol Rp200 ribu. Dipanggang berjam-jam dengan api kecil, satu loyang besar ini jadi pilihan favorit untuk acara keluarga dan pesanan khusus pelanggan setia. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

“Dulu waktu saya buka toko kue, tetap saya yang mengadon bahan-bahannya walau punya 4 karyawan. Kalau orang lain yang mengadon rasanya beda. Pernah adik mengadon, itu para pelanggan sudah tau ‘ini bukan kamu ya Mey yang buat’. Padahal nggak ditakar, dikira-kira aja buat adonannya itu,” terangnya.

Kenang Masa-masa Honorer

Perjalanan Klappertaart Belanda Meymey tak bisa dilepaskan dari fase hidup Meymey saat masih menjadi tenaga honorer. Di masa itu, penghasilan yang terbatas memaksanya berpikir keras mencari tambahan pemasukan demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Dulu gaji honorer kecil sekali. Papa sudah meninggal, saya juga masih sendiri single parents waktu itu belum nikah lagi. Sambil kuliah juga kan. Jadi aku harus kerja keras mutar otak bagaimana bisa dapat penghasilan tambahan. Dari jualan klappertaart inilah saya bisa bertahan sampai sekarang,” kenangnya.

Sambil bekerja dan kuliah jurusan S1 Hukum Pidana dan Perdata kala itu, Meymey tetap memproduksi klappertaartnya dari rumah. Pesanan kerap datang dari lingkungan kantor, mulai dari rekan kerja hingga anggota dewan. Dari situlah usahanya perlahan tumbuh.

Menurut wanita berusia 42 tahun tersebut, klappertaart bukan hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga penopang ekonomi keluarganya di masa-masa sulit.

Daftar Harga Klappertaart Belanda Meymey per 1 Februari 2025. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Ketika pesanan meningkat, Meymey tetap memilih mengerjakan semuanya sendiri. Ia tak ingin mengorbankan cita rasa yang telah diwariskan Oma hanya demi mengejar jumlah produksi. Meski kerap harus begadang hingga dini hari dan membuatnya sakit, ia pun tetap menjalaninya dengan perasaan gembira.

“Namanya hobby, jadi senang aja walau kadang sempat sakit,” tuturnya.

Lanjut Kuliah S2

Seiring berjalannya waktu, perjuangan ibu dua anak ini pun perlahan membuahkan hasil. Di tengah kesibukan Meymey mengelola usaha klappertaart rumahan, ia rupanya enggan meninggalkan dunia pendidikan.

Setelah menyelesaikan studi S1 Hukum Pidana dan Perdata di Universitas Widyagama Mahakam, Meymey memutuskan melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di Universitas Mulawarman. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan (MIP).

Keputusan melanjutkan kuliah diambil bukan semata-mata mengejar gelar, tetapi sebagai bentuk komitmennya untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

“Walaupun sibuk kerja dan jualan kue, saya tetap ingin lanjut kuliah. Ilmu itu penting, apalagi untuk masa depan,” katanya.

Di sisi lain, status pekerjaan Meymey pun juga mengalami perubahan. Dari tenaga honorer, ia kini resmi menjadi P3K dan bertugas di Kantor Gubernur jalan Gajah Mada Samarinda.

Marchela Marlein Sanger (Meymey) tampak di barisan kedua kiri bawah, berpose bersama dosen dan rekan-rekan mahasiswa. Di sela kesibukan kuliah dan pekerjaan, Meymey tetap aktif mengembangkan diri. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Meski begitu, kesibukannya itu tak membuat ia meninggalkan usaha klappertaart. Meymey justru semakin disiplin membagi waktu. Hari kerja difokuskannya untuk kantor, sementara akhir pekan dimanfaatkan untuk membuka pesanan dan memproduksi klappertaart.

“Biasanya saya buka pesanan untuk Jumat, Sabtu, Minggu. Hari kerja saya fokus kerja, kalau kuliah kan sudah tesis tinggal seminar aja ini,” bebernya.

Dari perjalanan panjang yang ia lalui, Meymey ingin menitipkan pesan khusus bagi generasi muda, terutama mereka yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. Baik itu keterbatasan ekonomi, waktu, maupun keadaan hidup. Ia merasa semua itu bukan alasan anak muda untuk berhenti bermimpi dan menyerah pada keadaan.

“Jangan takut mulai dari kecil. Jangan malu kerja apa saja selama itu halal. Saya juga mulai dari dapur rumah, dari jualan online, sambil kerja, sambil kuliah,” pesannya.

Ia mengingatkan pentingnya konsistensi dan kesabaran dalam menjalani proses. Baginya, hasil besar tak pernah datang secara instan, melainkan dari kerja keras yang dilakukan sedikit demi sedikit, namun terus-menerus.

“Kalau capek itu pasti. Tapi jangan berhenti. Ditekuni aja, dan jangan setengah-setengah. Biasanya banyak orang yang buka usaha itu setengah-setengah. Ketika enggak ketemu nih, akhirnya putus di tengah jalan. Usaha aja terus, pasti berhasil,” pungkasnya.

Jika ingin menikmati Klappertaart Belanda Meymey bisa hubungi ( 0812-5160-7798 ), atau cek media sosial instagramnya : @klappertaart_belanda_meymey.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: