
SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Generasi Alpha dan generasi Z yang saat ini akrab dengan minuman cokelat maupun kopi, bisa jadi nampak asing dengan minuman bernama Es Salju Slush. Namun, bagi generasi milenial, minuman ini sempat populer di era 2012-an ke bawah.
Dahulu, es salju merupakan minuman yang paling digemari masyarakat dari berbagai usia. Pada masa jayanya, pedagang es dengan mesin slush ini menjamur di seluruh pusat perbelanjaan di Samarinda. Pusat perbelanjaan selalu dipadati penjual minuman ini, bahkan kehadirannya tak pernah luput dalam setiap perhelatan acara besar.
Namun sekarang jumlah penjual minuman itu semakin berkurang. Di antara banyaknya pusat perbelanjaan di Samarinda, hanya satu usaha es salju di Mall Mesra Indah, yang masih bertahan dan tetap eksis selama 19 tahun terakhir ini.
Berbeda dengan minuman dingin pada umumnya, es salju memiliki tekstur es batu yang halus menyerupai salju. Sensasi meminumnya menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan es cup modern yang saat ini lebih banyak disajikan dengan es batu kristal.
Varian rasanya pun beragam, mulai dari jeruk, melon, hingga semangka, yang tertata apik di dalam dispenser pendingin.
Memasuki tahun 2021, keberadaan penjual es salju kian menyusut seiring menurunnya minat pembeli. Saat ini, salah satu lapak yang masih setia bertahan, ada di lantai satu Mall Mesra Indah.
Penjual Es Salju Slush di Mall Mesra Indah Samarinda, Puji Rahardjo, 40 tahun, menerangkan, dia telah lama ikut berjualan sejak tahun 2007 di Mall Mesra Indah Samarinda.

“Kalau ini sih sudah lama, dari 2007 sudah ada. Dulu hampir di setiap sudut mall dan acara besar, es salju ini selalu ada. Sekarang, tinggal kami yang bertahan di sini,” kata Puji, ditemui niaga.asia, Jumat 16 Januari 2026.
Sebagai karyawan, Puji mengungkapkan bahwa sang pemilik usaha memilih untuk tetap bertahan karena optimis pengemae es salju di Samarinda masih ada, meski jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
“Bos minta bertahan saja, karena masih ada peminat es salju zaman dulu, walau gak sebanyak dulu,” ujar Puji.
Puji tidak menampik persaingan saat ini jauh lebih ketat. Beragam jenis minuman modern dan tren kopi-kopian membuat minuman klasik seperti es salju kian tersisih.
“Tapi Alhamdulillah kita masih bisa bertahan tidak tergerus zaman,” sebut Puji.
Puji masih mengingat jelas, jika dibandingkan dengan tahun 2007, jumlah peminat terus merosot. Puncaknya pada 2016 saat gelombang minuman baru mulai berdatangan, penjualan es salju pun kian melandai.
Hal ini berdampak langsung pada pendapatan. Pada periode 2007 ke atas, omzet penjualan menembus angka Rp20 juta per bulan.
Kini, sampai tahun 2026, omzet tersebut hanya menyentuh kisaran Rp10 juta. Meski pendapatan menurun hingga 50 persen, namun usaha ini tetap eksis. Pemiliknya lebih mengutamakan agar es salju ini tetap tersedia, di tengah masyarakat ketimbang sekadar mengejar keuntungan besar.

“Memang momennya sudah lewat. Sejak 2016 mulai menurun penjualan karena banyak berdatangan minuman yang baru-baru dan berbagai jenis,” terang Puji.
Lapak es salju ini mungkin menjadi satu-satunya yang tersisa di kota Samarinda. Sebelumnya, mereka sempat membuka cabang di Mall Lembuswana, namun terpaksa tutup akibat pandemi COVID-19 lantaran biaya sewa yang tidak sebanding dengan pemasukan.
“Jadi kita hanya buka satu toko di Mesra Indah saja saat itu sampai sekarang,” sebut Puji.
Adapun keunggulan es salju ini ada pada bahan-bahannya yang diklaim sehat, menggunakan gula asli dan sirup buah tanpa pemanis buatan, sehingga aman bagi tenggorokan, dan kesehatan pada umumnya.
Dalam sehari, Puji rata-rata mampu menjual lebih dari 30 cup. Satu gelas plastik dibanderol dengan harga mulai Rp10 ribu.
“Zaman dulu masih Rp3 ribuan, sekarang sudah Rp10 ribu per cup. Alhamdulillah masih ada yang beli, meski tergantung momen dan cuaca. Kalau hari normal bisa sampai 30 cup. Kalau ada acara bisa lebih banyak lagi,” demikian Puji Rahardjo di akhir perbincangan.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: Kisah InspiratifSamarindaUMKM