
NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Panglima Koarmada (Pangkoarmada) RI, Laksamana Madya TNI. Denih Hendrata, berkunjung ke suar Karang Unarang dan bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat di pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.
Pertemuan yang digelar di atas Kapal Republik Indonesia (KRI) dr. Wahidin Sudirohusodo -991 yang berlabuh di perairan laut Ambalat kawal KRI Sidat – 851, KRI Ajak – 653 dan KRI Ahmad Yani – 351.
Dalam pertemuan penuh keakraban, Pangkoarmada RI Laksamana Madya TNI. Denih Hendrata, menyampaikan bangsa Indonesia adalah bangsa Maritim yang sebagian besar masyarakatnya hidup dan tinggal di pesisir laut.
“Bangsa Indonesia mengandalkan laut sebagai sumber perdagangan, sumber daya alam dan pertahanan dengan identitas budaya yang kuat terkait bahari,” kata Denih Hendrata, Jumat (16/01/2026).
Sebagai bentuk perhatian TNI AL terhadap perairan perbatasan, Denih menuturkan kunjungannya ke Sebatik kali ini disertai oleh Pangkoarmada II Laksamana Muda TNI. Gung Putu Alit Jaya dan Danguspurla Koarmada II Laksamana Pertama TNI Endra Hartono.
Kehadiran para petinggi TNI AL bersama KRI dr. Wahidin Sudirohusodo di perbatasan Sebatik, merupakan bagian dari tugas misi kemanusiaan sekaligus menyalurkan bantuan paket sembako kepada kelompok nelayan.
“KRI dr. Wahidin Sudirohusodo adalah kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) yang memiliki misi manusiaan, kapal ini dilengkapi sarana pelayanan pengobatan dan kesehatan,” sebutnya.
Menurut Denih, sebelum tiba di perairan Ambalat, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo membawa misi kemanusiaan. Berangkat dari Bitung menuju pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara untuk memberikan bantuan secara langsung kepada masyarakat terdampak bencana banjir bandang.
Berdasarkan laporan Danlanal Natuna, bencana banjir bandang di Siau telah menghancurkan 30 rumah milik warga. Bencana ini tidak hanya merugikan material tapi juga menghilangkan 2 orang personel TNI yang sampai sekarang belum ditemukan.
“Kita di Indonesia berada di lingkaran ring of fire bencana gunung berapi dan tektonik. Keadaan ini menjadi tugas TNI AL dalam membantu meringankan beban masyarakat,” ujarnya.
Pertalian darah
Denih menambahkan, sebagai wilayah perbatasan Indonesia, pulau Sebatik memiliki hubungan erat dengan masyarakat Tawau, Sabah, Malaysia. Sejarah mencatat banyak penduduk Malaysia, bagian dari keturunan suku Bugis Sulawesi Selatan.
Pertalian darah inilah yang menjadikan bangsa Indonesia dengan Malaysia, selalu menjaga hubungan baik, begitu pula kehidupan perairan laut Sebatik dan Tawau diharapkan terus terjaga dengan baik.
“Walaupun masih ada sedikit garis perbatasan belum terselesaikan, namun kami yakin bisa diselesaikan karena masyarakatnya mendukung penyelesaian kearah baik pula,” terangnya.
Denih menyampaikan terima kasih diberikan waktu bertemu dengan tokoh masyarakat sebatik dan para kelompok nelayan, pertemuan ini menjadi momentum mendekatkan TNI AL dengan masyarakat perbatasan.
Sebelum mengakhiri pertemuan dan menyerahkan paket bantuan sembako ke nelayan, rombongan Pangkoarmada RI, Laksamana Madya TNI. Denih Hendrata, meninjau suar karang unarang yang berada di batas laut Indonesia.
Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan
Tag: TNI AL