
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Ekonomi Kalimantan Timur sampai dengan Triwulan III 2025 tumbuh melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan.
Meski demikian, ekonomi Kaltim masih memegang pangsa tertinggi diantara provinsi lainnya di Kalimantan. Adapun penyebab termoderasinya pertumbuhan ekonomi Kaltim utamanya ialah perlambatan sektor pertambangan dan ekspor seiring lesunya permintaan batubara dari negara mitra dagang.
Hal itu diungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto dalam tanya jawab dengan wartawan dalam kegiatan Temu Media hari ini, Rabu (21/1/2026). Dalam acara temu media ini Budi didampingi deputinya, Bayuadi Hardiyanto dan Agus Taufik, dan acara tanya jawab dimoderatori Abraham Wahyu Nugroho.
Menurut Budi, pertumbuhan ekonomi Kaltim hingga Triwulan III 2025 apada angka 4,35%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yaitu 6,17%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan sampai dengan Triwulan III 2025 4,65% atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yakni 5,2%.
“Pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan selama ini sangat bergantung pada ekonomi Kaltim. Apabila pertumbuhan ekonomi Kaltim teurun, dengan sendirinya angka pertumbuhan ekonomi Kalimantan turun juga,” kata Budi.
Angka pertumbuhan kumulatif Kaltim sampai dengan Triwulan III pun relative lebih rendah dibandingkan provinsi lainnya. Meski demikian, ekonomi Kaltim tetap unggul secara pangsa dibandingkan dengan provinsi lainnya seiring sektor sekunder yang tetap kuat menopang ekonomi Kaltim.
Pertambangan penopang pertumbuhan
Menurut Budi, secara pangsa, penopang terbesar ekonomi Kaltim di tahun 2025 masih bersumber dari LU (Lapangan Usaha) Pertambangan meski pertumbuhannya tertahan. Meski demikian, LU Industri, Pertanian, dan Perdagangan tumbuh relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan memiliki pangsa yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Sampai dengan Triwulan III 2025, produksi pertambangan batubara menurun -0,32% akibat permintaan negara mitra dagang yang lesu seiring peningkatan produksi domestik negara mitra di tengah kebutuhan yang turun seiring peralihan ke renewable energy.
“Pembangunan berbagai proyek pemerintah dan swasta di Triwulan III 2025 yang masih berlanjut namun dengan progress yang termoderasi 0,72%, khususnya di IKN, yang sejalan dengan penurunan pagunya yg mencapai 30-40% (yoy),” paparnya.
Sampai Triwulan III 2025 terjadi peningkatan kinerja industri migas 12,48% seiring peningkatan kapasitas kilang refinery migas yg disertai kembali optimalnya produksi pasca plant stop revamp di tahun 2024. Selain itu, terdapat penambahan sejumlah industri baru yg beroperasi di tahun 2025.
Kemudian yang tumbuh positif adalah peningkatan 7,49% luas panen kebun kelapa sawit seiring peningkatan produktivitas akibat pemupukan yang lebih baik di tahun 2024 (berdampak ke
2025). Peningkatan subsektor kehutanan seiring peningkatan permintaan industri kayu dari AS.
Selanjutnya, aktivitas perdagangan di Triwulan III 2025 tumbuh 10,24% seiring tetap berlanjutnya pelaksanaan berbagai festive event di tahun 2025. Selain itu, terdapat penambahan gerai penjualan ritel di Kaltim.
Budi juga menambahkan, secara pangsa, penopang terbesar ekonomi Kaltim di tahun 2025 masih bersumber dari ekspor meski pertumbuhannya termoderasi dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, hampir seluruh komponen pengeluaran utama (kecuali Konstruksi dan Pemerintah) memiliki pangsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2024.
Hingga Triwulan III 2025 permintaan batu bara dan komoditas utama lainnya (CPO) dari negara mitra dagang lesu seiring gejolak ekonomi global. Investasi swasta asing dan domestik masih tumbuh positif sejalan dengan target investasi Kaltim yang lebih tinggi dari realisasi tahunn 2024.
“Meski demikian, pertumbuhannya termoderasi seiring belanja modal pemerintah yang sempat tertahan akibat efisiensi anggaran,” katanya.
Konsumsi RT tetap tinggi seiring tetap berlanjutnya pelaksanaan berbagai festive event di tahun 2025 serta kenaikan UMR Kaltim di awal tahun 2025 yang menjaga daya beli masyatrakat. Kebijakan efisiensi anggaran menahan belanja pemerintah, khususnya untuk belanja pegawai (perjalanan dinas) dan kegiatan seremonial.
Impor Kaltim masih cukup kuat ditopang oleh impor migas serta barang konsumsi. Meski demikian, pertumbuhannya termoderasi seiring tertahannya impor barang modal dan konstruksi.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: BI KaltimEkonomi Kaltim