
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Kalimantan Timur perlu punya gudang logistik (pangan) tersebar di luar kota Samarinda dan Balikpapan, serti di Kutai Barat, Kutai Timur, dan di Paser. Gudang logistik tersebut diperlukan agar logistik dekat ke masyarakat, sekaligus mengendalikan inflasi.
“Bila punya gudang logistik tersebar, saat stok di pasar kosong, pemerintah bisa cepat mengintervensi pasar, harga barang pangan tidak sempat naik,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto dalam Temu Media hari Rabu (21/1/2026). Dalam acara temu media ini Budi didampingi deputinya, Bayuadi Hardiyanto dan Agus Taufik, dan acara tanya jawab dimoderatori Abraham Wahyu Nugroho.
Menurut Budi yang juga wakil ketua TPID Kaltim, untuk bahan pangan, pemerintah di Kaltim sudah menjalin kerja sama dengan banyak daerah penyuplai beras dan lain sebagainya bahan pangan, seperti cabai, bawang merah, dan lain-lain.
Tapi itu tidak cukup, pasokan masih saja bisa terganggu atau tidak lancar, karena faktor cuaca dan alat transportasi. Sebagai alternatif mengatasinya Kaltim punya gudang logistik tersebar di luar Samarinda dan Balikpapan.
Faktor cuaca di Kaltim sendiri juga memicu inflasi, harga barang pangan naik di Kutai Barat dan Mahulu sebab, ketika air sungai surut karena kemarau, semua barang naik harganya. Kenaikan harga bahan pangan itu tidak bisa diintervensi secara cepat karena stok logistik ada di Samarinda, perlu 2-3 hari baru tiba di Kubar atau Mahulu.
“Kalau di Kubar ada gudang logistik, maka ketika harga pangan naik di Kubar dan Mahulu, pada hari yang sama logistik bisa dikeluarkan dari gudang untuk mengintervensi pasar, atau menekan kenaikan harga barang,” kata Budi.
“Hal yang sama juga bisa dilakukan kalau ada gudang logistik di Paser dan Kutim untuk mengintervensi pasar kalau harga pangan naik di Kutim sendiri atau di Berau dan Bontang,” imbuhnya.
Inflasi 2025
Budi mengatakan, emas perhiasan, beras, ikan layang masih mendominasi tekanan inflasi Kaltim di tahun 2025 hingga Desember 2025. Kondisi ketidakpastian ekonomi global serta kondisi cuaca yang kurang kondusif menjadikan 3 komoditas ini sebagai pemegang andil inflasi tertinggi secara nasional.

“Meski demikian hingga November 2025, tekanan inflasi nasional masih berada dalam range sasaran inflasi sebesar 2,5% ± 1,00%,” ungkapnya. Secara nasional di tahun 2025, inflasi di Kaltim termasuk rendah, diurutan ke-14 dari 38 provinsi.
Secara tahunan, kelompok barang yang memberikan andil inflasi terbesar adalah Makanan, Minuman, dan Tembakau, tapi pengeluaran masyarakat untuk perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menonjol pergerakannya memicu inflasi.
“Meski menemui sejumlah tantangan khususnya pada kelompok komoditas bahan makanan (volatile food), namun diprakirakan tekanan inflasi kaltim pada tahun 2026 akan berada dalam range sasaran target. Selain dari sisi bahan makanan, tantangan pengendalian inflasi Kaltim juga datang dari masih tingginya ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada volatilitas harga emas perhiasan dan bahan bakar,” pungkas Budi.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Inflasi Kaltim