Malam Minggu Omzet UMKM di Simpang Odah Etam Tembus Rp120 Juta

Simpang Odah Etam setiap malam Minggu menjadi etalase UMKM lokal di Kota Raja. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Sebelum matahari sepenuhnya condong ke barat, denyut aktivitas di Simpang Odah Etam (SOE) sudah mulai terasa. Sekitar pukul 15.00 WITA, satu per satu pelaku UMKM tampak sangat sibuk melakukan persiapan.

Tenda berwarna merah dengan logo ‘UMKM Idaman Kutai Kartanegara’ berdiri kokoh, meja dan kursi ditata, peralatan masak dipanaskan, sementara lampu-lampu hias berwarna putih mulai dirangkai menyambut malam.

Sore hari, Sabtu (24/1/2026), kawasan Jalan Mayjen Sutoyo Tenggarong mulai dipadati warga. Sebagian datang lebih awal hanya untuk sekadar berjalan-jalan santai. Mereka menemani anak bermain, atau berburu jajanan sebelum keramaian memuncak.

Suasana di samping Museum Mulawarman serta Pendopo Odah Etam ini pun kian hidup saat jalan utamanya secara resmi ditutup dan sepenuhnya benar-benar menjadi ruang publik bagi masyarakat.

Memasuki malam, SOE menjelma menjadi magnet bagi warga Tenggarong. Keramaian semakin padat, para pengunjung datang dari berbagai kalangan usia.

Anak-anak tampak girang, remaja berkumpul dengan teman-temannya, pasangan muda menikmati waktu berdua, hingga orang tua dan keluarga kecil yang membawa anak-anak mereka juga larut dalam suasana malam Minggu yang hangat dan penuh keceriaan.

Deretan UMKM tersusun rapi di sepanjang jalan. Aroma kuliner menyeruak di udara. Dimsum hangat, kebab dengan daging yang menggoda, gorengan renyah, hingga aneka minuman segar menjadi pelepas dahaga.

Salah satu stand hewan di Simpang Odah Etam memamerkan berbagai jenis reftil, menjadi daya tarik tersendiri di tengah keramaian malam Minggu. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Para pengunjung tampak menikmati konsep ‘jajan sambil jalan’, berpindah dari satu tenant ke tenant lainnya.

Tak hanya soal rasa, SOE juga menyuguhkan pengalaman berbeda. Di beberapa sudut kota, tenant memamerkan beragam hewan seperti kura-kura, monyet, gecko, hingga ular. Anak-anak terlihat antusias, saling menunjuk dan tertawa, sementara para orang tua terlihat mendampingi anaknya dengan sabar.

Menariknya, di balik semarak malam Minggu di SOE, terdapat perputaran ekonomi yang tidak kecil. Kepala Bidang Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Zikri Umulda, mengungkapkan bahwa geliat UMKM di kawasan ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Menurutnya, dalam satu malam Minggu saja, total perputaran uang atau omzet UMKM di Simpang Odah Etam bisa menembus angka lebih dari Rp120 juta. Angka itu merupakan akumulasi pendapatan para pelaku UMKM yang berjualan di kawasan tersebut.

“Di Simpang Odah Etam itu, semalam-malam Minggunya pendapatan mereka bisa Rp120 juta lebih. Itu perputaran UMKM-nya di sana,” ujar Kiki sapaan akrabnya, Sabtu (24/1/2026).

Kabid Ekraf Dispar Kukar Zikri Umulda. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Lebih dari sekadar pusat kuliner kata Kiki, SOE kini telah bertransformasi menjadi ikon baru Kota Raja, Tenggarong. Kawasan ini tak hanya menawarkan makanan, tetapi juga hiburan, pertunjukan, hingga ruang berkumpul yang ramah bagi semua kalangan.

“Sekarang SOE itu landmark-nya Tenggarong. Kalau mau ke Tenggarong malam Minggu, orang-orang pasti ke SOE, cari makanan, cari hiburan, pertunjukan, semuanya ada di sana lengkap,” jelasnya.

Keberhasilan konsep SOE, kata Kiki, tak akan berhenti Tenggarong saja. Pemerintah daerah melalui Dispar mulai mereplikasi konsep yang serupa ke kecamatan-kecamatan lain. Salah satunya di Kecamatan Kota Bangun dengan kegiatan bertajuk AWUH, Acara Wadeh Urang Hulu.

Salah satu spot foto favorit pengunjung di Simpang Odah Etam. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Di wilayah hulu tersebut, pendekatan yang digunakan tetap sama, yakni mengangkat akar budaya lokal sebagai identitas utama kegiatan. Mayoritas masyarakat hulu yang merupakan suku Kutai, menjadi kekuatan utama dalam konsep acara tersebut.

“Mereka kami ajarkan bagaimana caranya membuat kegiatan yang mengangkat akar atau kebudayaan lokal. Di hulu itu kebanyakan Kutai, jadi diangkatlah konsep Awuh, Acara Wadeh Urang Hulu. Di sana juga konsepnya mirip seperti SOE, kita mentreatment-nya,” terangnya.

Kegiatan tersebut juga digelar rutin setiap malam Minggu, sebagaimana di SOE. Bahkan, lanjut dia, kecamatan-kecamatan lain di Kukar kini mulai bergerak dan berinisiatif mengembangkan kegiatan serupa.

Namun demikian, pelaksanaannya tidak sepenuhnya bergantung pada intervensi pemerintah. Dispar Kukar justru mendorong terbentuknya ekosistem bisnis yang mandiri melalui pola business to business (B2B).

“Kami gandeng pelaku ekonomi kreatifnya, lalu BUMDes, kecamatan, dan semua desa di sana terlibat. Jadi meskipun kegiatannya di satu titik, tapi semua desa dan kelurahan ikut berperan dengan kecamatan sebagai leader,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: