Produksi Air Bersih Perumda Air Minum Tirta Taka di Sebatik Mulai Berkurang

Stok air baku Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan di embung Lapri pulau Sebatik tinggal sedikit akibat curah hujan sangat rendah selama bulan Januari 2026. (Foto : Rusiansyah/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Distribusi air bersih Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan ke pelanggan di Sebatik alami penurunan karena berkurangnya stok air baku di embung Lapri selama bulan ini curah hujan sangat rendah.

Kepala Bagian Teknis, Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah, mengatakan, distribusi air bersih pelanggan mulai mengalami penurunan sejak satu minggu terakhir.

“Air di embung tinggal sedikit, jadi tidak memungkinkan di sedot mesin karena sedimennya sangat tinggi,” kata Rusdiansyah pada Niaga.Asia, Selasa (27/01/2026).

Kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) embung Lapri dalam kondisi normal bisa menghasilkan air bersih antara 40 sampai 45 kubik per detik dengan daya maksimal 50 kubik per detik.

Namun dalam kondisi musim kemarau, seperti sekarang, air yang bisa diolah juga menurun.

“Kita sudah coba mau pindahkan mesin penyedot tengah embung, tapi kondisinya tidak memungkinan, ketinggian air masih rendah,” ujarnya.

Saat ini produksi air tetap berjalan sesuai ketersedian bahan baku, tapi air bersih yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan sekitar 3.800 pelanggan di Sebatik Utara dan Sebatik Tengah.

Rusdiansyah menerangkan, embung Lapri memiliki kapasitas tampung 450.000 kubik tidak sepenuhnya bisa manfaatkan, karena pintu air harus dibuka agar air tidak menggenangi lahan perkebunan masyarakat. Masyarakat pemilik kebun kelapa sawit protes meminta pengelola embung membuka pintu air.

“Kami serba salah, menampung air banyak-banyak airnya malah meluap, tidak ditampung stok bahan baku sedikit,” beber Rusdiansyah.

Kondisi ini berbeda terjadi di Kecamatan Sebatik Barat, stok air baku masih memadai, sehingga produksi juga masih norma.

“Dam Sebatik Barat khusus melayani Kecamatan Sebatik Barat dengan berkapasitas pengolahan 20 liter per detik dengan jumlah pelanggan sekitar 1.000,” jelasnya.

Minimnya curah hujan di akhir bulan Januari 2026 juga tidak berdampak pada stok air baku di embung di pulau Nunukan. Stok air baku masih cukup untuk  dua bulan kedepan.

Meski begitu, Rudiansyah tetap meminta masyarakat Sebatik dan Nunukan lebih bijak menggunakan air bersih, gunakan air sesuai kebutuhan agar ketersedian air tercukupi di musim kemarau.

“Informasi dari BMKG Nunukan tidak terjadi kemarau panjang tahun ini, tapi kemungkinan  perubahan cuaca bisa terjadi di bulan Juni dan Juli,” tutupnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan

Tag: