
SANGASANGA.NIAGA.ASIA – Jejak sejarah perjuangan warga Sangasanga di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali dimaknai sebagai memori yang selalu terjaga dan terus diperingati setiap tahunnya, terutama dalam momentum peringatan Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga ke-79.
Peringatan ini kata Wakil Bupati Rendi Solihin, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang sudah diraih Indonesia selama ini, sebenarnya melalui perjuangan panjang dan pengorbanan rakyat di daerah, termasuk di Sangasanga.
“Peringatan ini menjadi momentum agar kita semua sadar, kemerdekaan ini bukan datang begitu saja, tapi penuh dengan pertumpahan darah dan perjuangan para pahlawan. Maka itu, kegiatan ini wajib terus dilestarikan dan didukung seluruh tingkatan pemerintahan,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Semangat perjuangan ini, harus terus dijaga, bahkan diwujudkan sebagai energi bersama yang mendorong kemajuan daerah. Hal itu terutama direalisasikan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta penguatan peran generasi muda agar mampu berkontribusi positif dalam pembangunan Kukar.
“Kita nyalakan api perjuangan di Kukar agar itu bisa menjadi semangat kita untuk tumbuh berkembang, untuk kemajuan generasi muda, SDM yang ada di Kukar,” jelasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Gubernur Seno Aji mengungkapkan bahwa Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga adalah bagian paling penting dari mozaik sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya di Kaltim.
Ia mengingatkan bahwa pada 27 Januari 1947, rakyat Sangasanga menunjukkan keberanian luar biasa dengan mengangkat senjata dan tekad untuk menentang upaya penjajah yang hendak kembali menguasai tanah air. Namun dengan semangat persatuan bersama, Merah Putih pun dikibarkan.
“Kemerdekaan Indonesia berdiri di atas semangat kolektif rakyat, termasuk dari pelosok daerah. Sangasanga membuktikan bahwa perjuangan tidak mengenal pusat dan pinggiran. Semua anak bangsa memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam menjaga Republik Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, pengorbanan para pejuang Sangasanga mengajarkan arti keteguhan sikap, keberanian mengambil risiko, serta kesetiaan terhadap cita-cita kemerdekaan. Nilai-nilai tersebut harus terus dirawat dan diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Saat ini, lanjut Seno Aji, tantangan bangsa tidak lagi hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui persoalan ketimpangan, disrupsi teknologi, ancaman disintegrasi, krisis lingkungan, hingga degradasi nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, semangat juang Sangasanga harus diterjemahkan dalam kerja nyata.
“Menjaga persatuan, memperkuat toleransi, meningkatkan kualitas SDM dan membangun daerah dengan prinsip keadilan berkelanjutan, ini merupakan wujud perjuangan masa kini,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: sejarah sangasanga