Bangun Ekosistem Industri Fesyen Nasional Berbasis Potensi Daerah

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita resmikan Sentra Industri Fesyen Seri Kuala Lobam di Kabupaten Bintan, Rabu (21/1). (Foto Kemenperin/Niaga.Asia) 

JAKARTA.NIAGA.ASIA – Pengembangan industri fesyen, khususnya skala kecil dan menengah, di berbagai wilayah Indonesia perlu terus didorong agar potensi pasar nasional dapat diisi dan dimaksimalkan oleh pelaku usaha dalam negeri.

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) secara konsisten melakukan berbagai upaya strategis untuk menjaga pertumbuhan dan keberlanjutan industri fesyen nasional.

Adapun upaya yang telah dilakukan, antara lain melalui pelaksanaan bimbingan teknis, fasilitasi mesin dan peralatan, sertifikasi berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), serta pengembangan sentra industri kecil dan menengah (IKM) melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan melibatkan pemerintah daerah.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, peresmian Sentra Industri Fashion Seri Kuala Lobam di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri fesyen nasional berbasis potensi daerah.

Menurutnya, pengembangan sentra IKM memiliki peran strategis dalam meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, serta daya saing pelaku industri kecil dan menengah agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

“Kami terus mendorong penguatan sentra-sentra IKM sebagai pusat pertumbuhan industri di daerah yang berkelanjutan, sekaligus sebagai sarana peningkatan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Menperin dalam keterangannya, Selasa (27/1).

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan, Sentra Industri Fashion Seri Kuala Lobam akan menjadi pusat produksi strategis yang mampu memperkuat daya saing IKM fesyen Indonesia.

Reni juga menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara Kemenperin dengan Pemerintah Kabupaten Bintan dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam pengembangan sentra tersebut.

“Sentra ini kami dorong sebagai rumah produksi bersama sekaligus wahana peningkatan kapasitas pelaku IKM, mulai dari akses fasilitas produksi, pelatihan teknis, hingga penguatan manajemen usaha,” ungkap Reni saat peresmian Sentra Industri Fesyen Seri Kuala Lobam di Kabupaten Bintan, Rabu (21/1).

Dirjen IKMA menambahkan, industri fesyen memiliki kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional. Kemenperin mencatat, jumlah sektor IKM pakaian jadi sekitar 590 ribu unit usaha, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang.

“Oleh karena itu, pengembangan sentra IKM menjadi langkah konkret untuk memperkuat peran sektor tersebut dalam struktur industri nasional,” imbuhnya.

Reni mengemukakan, dukungan anggaran dan fasilitas pengembangan Sentra Industri Fashion Seri Kuala Lobam dilaksanakan melalui mekanisme DAK fisik tahun anggaran 2024 dan 2025. Selain pembangunan infrastruktur fisik, pemerintah juga menyalurkan DAK nonfisik pada tahun anggaran 2025 untuk mendukung pengembangan kapasitas kelembagaan pengelola sentra.

Sentra Industri Fashion Seri Kuala Lobam memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, antara lain fasilitas produksi modern yang dilengkapi mesin dan peralatan untuk mendukung standardisasi kualitas produk, lokasi yang strategis, serta keberadaan sentra di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Kuala Lobam yang memberikan fasilitas bea ekspor dan impor sebesar nol persen.

Selain itu, kedekatan geografis dengan negara tujuan ekspor utama seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina turut mendukung efisiensi biaya logistik.

“Keunggulan tersebut diharapkan dapat menjadi katalis bagi pelaku IKM fesyen di Kabupaten Bintan untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses pasar ekspor,” ungkapnya.

Acara peresmian Sentra Industri Fashion Seri Kuala Lobam turut dihadiri oleh Wakil Bupati Bintan Deby Maryanti, Ketua Dekranasda Kabupaten Bintan Fiven Sumanti, serta jajaran pimpinan daerah setempat. Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Ditjen IKMA Budi Setiawan menyampaikan bahwa meskipun baru diresmikan, sentra ini telah memperoleh penilaian kinerja yang baik dengan skor 4 dari 5 pada triwulan IV tahun 2025 karena telah beroperasi secara rutin.

“Ke depan, kami berharap sentra ini dapat menjadi penghubung bagi pelaku IKM untuk masuk ke dalam rantai pasok industri besar di kawasan industri, serta mendorong terwujudnya kemitraan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan,” tutup Budi.

Sumber: Siaran Pers Kemenperin | Editor: Intoniswan

Tag: