Impor Migas Kaltim Desember 2025 Mencapai US$527,46 Juta

Indonesia masih mengimpor minyak mentah untuk menutup devisit produksi dalam negeri. (Foto Istimewa)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Nilai impor Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Desember 2025 tercatat sebesar US$603,73 juta, atau naik sebesar 37,98 persen jika dibandingkan dengan nilai impor November 2025.

Nilai impor migas tercatat sebesar US$527,46 juta, atau naik sebesar 50,61 persen dibandingkan dengan nilai impor November 2025. Sebaliknya, nilai impor nonmigas Desember 2025 tercatat sebesar US$76,27 juta, atau turun sebesar 12,66 persen.

Hal itu diungkap Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim,  Ariyanti Cahyaningsih SST., M.Si, dan Vivi Azwar SP, M.Si. dalam konferensi pers secara daring hari ini, Senin (2/2/2026).

Peningkatan nilai impor nonmigas terbesar terjadi pada golongan barang pupuk yang mengalami kenaikan sebesar US$7,62 juta (tidak dilakukan impor pada bulan sebelumnya). Sebaliknya, penurunan nilai terdalam terjadi pada golongan barang mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya sebesar US$19,17 juta (45,05 persen).

“Dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas pada periode Januari– Desember 2025, kontribusi terbesar negara asal barang didominasi oleh Tiongkok sebesar US$362,12 juta dengan peranan 32,04 persen, diikuti oleh Jerman sebesar US$99,20 juta dengan peranan 8,78 persen, dan Amerika Serikat sebesar US$91,83 juta dengan peranan 8,12 persen,” kata Vivi.

Jika dibandingkan dengan bulan November 2025 dan dirinci menurut golongan penggunaan barang, maka pada Desember 2025 terjadi peningkatan impor pada golongan penggunaan barang bahan baku/penolong sebesar 47,37 persen.

“Sebaliknya, golongan barang konsumsi dan golongan barang modal mengalami penurunan sebesar 40,82 persen dan 44,39 persen,” lanjutnya.

Neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Desember 2025 mengalami surplus sebesar US$1.701,86 juta. Neraca perdagangan sektor nonmigas tercatat surplus sebesar US$1.964,41 juta, sebaliknya sektor migas tercatat defisit sebesar US$262,55 juta.

Impor Nonmigas Menurut Golongan Barang

Menurut Vivi, nilai impor nonmigas Desember 2025 untuk 10 golongan barang utama tercatat sebesar US$68,79 juta, atau turun sebesar 17,23 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Dilihat dari perkembangannya terhadap November 2025 peningkatan nilai impor nonmigas terbesar terjadi pada golongan barang pupuk yang mengalami kenaikan sebesar US$7,62 juta (tidak dilakukan impor pada bulan sebelumnya). Sebaliknya, penurunan nilai terdalam terjadi pada golongan barang mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya sebesar US$19,17 juta (45,05 persen).

“Komoditas lain dengan peningkatan nilai impor cukup besar adalah golongan barang korek api, kembang api, dan bahan peledak yang naik sebesar US$5,67 juta (tidak dilakukan impor pada bulan sebelumnya) dan golongan barang kendaraan dan bagiannya yang naik sebesar US$2,25 juta (61,48 persen),” paparnya.

Sebaliknya, komoditas lain yang mengalami penurunan nilai impor adalah golongan barang kapal, perahu, dan struktur terapung yang turun sebesar US$12,08 juta (58,05 persen) dan golongan barang instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis yang turun sebesar US$1,09 juta (27,95 persen).

Selama Januari–Desember 2025, impor 10 golongan barang (HS 2 digit) memberikan kontribusi sebesar 89,89 persen terhadap total impor nonmigas. Golongan barang yang memberikan andil besar terhadap total impor nonmigas adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya dengan kontribusi sebesar 37,11 persen.

Untuk diketahui, Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pada 2024, impor minyak mentah mencapai 128 juta barel, dengan pemasok utama Nigeria, Arab Saudi, Angola, dan Gabon. Impor ini bertujuan menutupi defisit produksi dalam negeri guna mengoptimalkan kapasitas kilang.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan

Tag: