Pedagang Pasar Pagi Keluhkan Letak Lapak Kurang Strategis Dilihat Pembeli

Lorong sempit pedagang buah di Pasar Pagi Samarinda. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Sejumlah pedagang mengeluhkan penataan denah bangunan baru Pasar Pagi Samarinda yang dinilai kurang mempertimbangkan aspek aksesibilitas konsumen.

Sorotan utama pada letak pedagang buah yang lapaknya berada di area lorong bagian dalam dan tertutup tiang beton, membuat dagangan mereka sepi peminat karena jarang dilewati pengunjung pasar.

Pantauan di lokasi, aktivitas jual beli di pasar yang berada di Jalan Gajah Mada itu sebenarnya mulai menggeliat sejak pertengahan Januari 2026. Namun, kemeriahan itu tidak dirasakan oleh pedagang yang menempati lapak.

Kondisi itu dirasakan langsung pedagang buah Pasar Pagi, Samiah, 50 tahun, yang sudah menggantungkan hidupnya di Pasar Pagi sejak tahun 2002 lalu. Dia mengeluhkan posisi lapaknya yang berada di lorong sempit, sehingga nyaris tidak pernah dilewati pengunjung.

“Kami sudah berjualan sekitar satu minggu di sini, tapi tidak ada yang laku sama sekali,” kata Samiah, Selasa 3 Februari 2026.

Karena tidak ada yang membeli, berkilo-kilo buah membusuk dan berujung pedagang merugi, karena harus membuang dagangan buahnya.

Pedagang buah pasar pagi, Samiah (niaga. Asia/Nur Asih Damayanti)

Menurutnya, dagangan buah-buahan segar sangat bergantung pada penjualan. Sifat buah yang tidak tahan lama seperti jeruk, mangga, dan salak, hanya mampu bertahan tiga hingga empat hari sebelum akhirnya membusuk.

“Kasihan kami, buahnya busuk semua karena tidak ada yang beli. Akhirnya semua dibuang karena busuk, tidak ada yang beli karena tidak terlihat,” ujar Samiah.

Ke depannya, Pemerintah Kota Samarinda diharapkan dapat mengevaluasi penataan klaster pedagang. Dia tidak keberatan jika harus berpindah tempat, asalkan lokasinya memiliki aksesibilitas yang baik bagi konsumen.

“Saya meminta tempat yang terbuka, Tidak masalah jika harus bergabung dengan lapak sayur, yang penting terlihat dan tidak tertutup tiang seperti ini. Tertutup tiang dan di lorong sempit,” jelas Samiah.

Samiah membandingkan dengan letak lapak pedagang basah penjual ayam dan ikan yang memiliki desain ruangan lebih terbuka, sehingga sirkulasi pembeli jauh lebih lancar.

Baginya, penataan berdasarkan jenis memang baik, namun harus dibarengi dengan kemudahan akses bagi pengunjung, agar tidak ada pihak yang dirugikan secara ekonomi.

Dia berharap keluhan tersebut segera direspons oleh pengelola pasar. Jika terus dibiarkan tanpa ada perubahan tata ruang atau rekayasa alur pengunjung, para pedagang buah di area terpencil tersebut terancam gulung tikar, karena modal mereka habis terbuang bersama buah yang membusuk.

“Saya minta tempat lain yang terlihat. Dulu saya jualan waktu di Pasar Pagi lama, lapaknya di bawah dan terbuka. Sebenarnya tidak mempermasalahkan tempatnya, tapi tolong ditempatkan di tempat yang mudah terlihat pengunjung, pasti banyak yang beli. Kalau di sini jarang yang masuk kemudian terhalang tiang tembok jadi tidak kelihatan,” terang Samiah.

Sementara, pedagang lainnya dari klaster aksesoris dan kelontongan juga mengeluhkan posisi lapak yang dinilai kurang strategis.

Salah satu pedagang aksesori wanita, pemilik toko Pink Souvenir, Ernawati mengungkapkan kegelisahannya terkait bentuk bangunan yang dianggap tidak representatif. Karena posisi pintu toko miliknya justru membelakangi eskalator, sehingga pengunjung yang naik atau turun sama sekali tidak bisa melihat produk yang dijajakannya.

Permasalahan tata letak ini merugikan pedagang karena tidak terlihat pengunjung Pasar Pagi. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Jadi, orang yang naik eskalator itu melihatnya tembok belakang toko, bukan dagangan kami. Kami seperti berdagang di dalam terowongan, lorong kami ini sepi pembeli,” katanya.

Menurut Ernawati, eskalator seharusnya menjadi sarana vital yang membawa calon pembeli ke depan mata pedagang. Namun, di Pasar Pagi yang baru, fasilitas itu justru dianggap tidak memberikan dampak positif bagi visibilitas toko mereka.

“Harapan kami, kalau bisa dagangan kami menghadap ke eskalator biar enak dilihat pembeli bukan membelakangi. Kalau begini yang dilihat pembeli hanya tembok,” jelasnya.

Ernawati menegaskan bahwa keluhan ini bukan bentuk perlawanan atau upaya untuk menyudutkan Pemerintah Kota Samarinda. Namun, dia meminta agar ada koreksi nyata terhadap hasil pembangunan fisik, yang menurutnya kurang mempertimbangkan aspek konsumen.

“Kita tidak memojokkan pemerintah, cuman tolong dikoreksi pekerjaan yang kurang supaya pedagang di klaster kelontongan, aksesoris, buah dan lainnya kelihatan. Kalau begini dagangan kita membelakangi, karena pintu depan tempat jualan kita menghadap kedalam lorong, jadi sulit terlihat pembeli,” demikian Ernawati.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: