Alat Tangkap Ilegal Sebabkan Sungai Mahakam Kehilangan 70 Persen Spesies Ikan Lokal

Sungai Mahakam yang membelah Kota Samarinda turut menyimpan berbagai spesies ikan di dalamnya. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Praktik penangkapan ikan ilegal menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan dan predasi ikan asing yang memakan ikan lokal, disinyalir menjadi penyebab utama hilangnya puluhan spesies ikan lokal dalam kurun waktu 50 tahun terakhir di perairan Sungai Mahakam.

Akademisi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman Samarinda Iwan Suyatna menjelaskan, kawasan Mahakam Tengah merupakan wilayah yang luar biasa subur. Di Kaltim, kawasan itu dinilai sebagai titik paling subur untuk ekosistem perairan.

“Mahakam tengah itu paling produktif dibanding Mahakam Hilir dan Mahakam Hulu,” kata Iwan, saat bicara di Simposium Nasional, Gedung Masjaya Universitas Mulawarman, Gunung Kelua, Samarinda, Jumat 6 Februari 2026.

Menurut Iwan, Mahakam Tengah menjadi ekosistem air tawar paling subur di Kaltim karena didukung oleh keberadaan lahan basah dan tanah gambut di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tim peneliti telah melakukan penelusuran dengan mengambil sampel hingga ratusan ekor ikan. Penelitian menjajaki ratusan kilometer aliran sungai, mulai dari hilir hingga hulu Mahakam Tengah, untuk mendapatkan perbandingan yang lebih akurat.

Iwan menegaskan, jika ingin pengelolaan perikanan di Mahakam Tengah tetap baik, harus ada keseimbangan yang menciptakan perikanan berkelanjutan. Artinya, jumlah ikan yang diambil dan yang tersisa di alam harus seimbang.

“Kemudian kita harus juga gencar melakukan pengawasan, masih banyak praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan masih marak terjadi. Makanya harus ada pengawasan dan penerapan regulasi,” ujar Iwan.

Beberapa alat tangkap ilegal yang paling mengkhawatirkan antara lain setrum, pukat harimau, alat peledak dan lainnya. Penangkapan dengan cara ilegal ini membuat ekosistem di air berkurang saat ini.

Selain itu, jenis ikan yang diproduksi saat ini juga turut menyebabkan terkurasnya sumber daya Kaltim. Populasi ikan lokal terancam habis karena keberadaan ikan mas, kerapu, dan nila yang memangsa ikan lokal.

“Makanya ikan gabus sudah jarang ada, karena ikan ini, faktor tersebut betul-betul menjadi ancaman kedua setelah alat tangkap ilegal. Selama 50 tahun, mulai 1980-2025 kita sudah kehilangan 50 persen atau kira-kira 70 spesies dari 140 spesies ikan,” demikian Iwan Suyatna

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: