
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Di balik aroma bumbu kacang di sebuah warung kecil Jalan Danau Murung, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Isna menyimpan rindu yang tak kunjung terbayar.
Perempuan asal Madura kelahiran 1989 itu sudah tiga tahun tak pulang kampung. Bukan karena tak ingin, melainkan karena hidup di perantauan memaksanya memilih bertahan demi kebutuhan sehari-hari dan masa depan anak-anaknya.
Sejak pagi hari, Isna menyiapkan dagangan gado-gado Madura yang menjadi tumpuan hidupnya. Warung sederhana yang juga ia tempati sebagai ‘rumah’ itu buka sejak pukul 07.00 hingga magrib.
Di sanalah rindu pada kampung halaman ia tahan, sambil terus berharap suatu hari bisa pulang membawa kabar baik.
Isna pertama kali merantau ke Kalimantan pada 2004. Saat itu usianya 18 tahun dan baru saja menikah. Ia datang bersama suaminya, meninggalkan Madura demi mencari sesuap nasi dan penghidupan yang lebih baik.

“Tahun 2004 awalnya kerja di warung Padang,” kenangnya dihadapan wartawan Niaga.Asia, Sabtu sore (7/2/2026).
Namun perjalanan hidup di perantauan tak selalu ramah. Tahun 2006, Isna pulang ke Madura untuk melahirkan anak pertamanya. Duka mendalam justru menantinya kala itu. Anak pertamanya meninggal dunia. Setelah hampir setahun, ia kembali ke Kalimantan dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Di perantauan, Isna mulai merintis usaha gado-gadonya secara mandiri. Ia berjualan keliling sejak 2008, menyusuri jalanan Tenggarong tanpa mengenal arah. Dari pagi hingga sore, ia memaksa dirinya untuk terus berjalan, meski tak jarang air mata jatuh karena lelah dan sepi pembeli.
“Dulu aku enggak tahu jalan. Keliling sampai nangis.”
Demi bertahan, Isna bahkan menjajakan gado-gado hingga ke Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, sekitar 2015. Ia menempuh perjalanan dengan angkot, membayar ongkos mahal, dan menjual seporsi gado-gadonya seharga Rp8.000. Jauh dari rumah, jauh pula dari keluarga di Madura.

Kini, sejak 2020, Isna menetap dan membuka warung tetap di Jalan Danau Murung. Masa itu bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang membuat kondisi ekonominya semakin berat. Omset tak menentu, kadang hanya cukup untuk makan dan membayar sewa tempat.
“Kadang dapat Rp40 ribu, Rp60 ribu. Pas-pasan cuma bisa untuk makan dan bayar sewa,” katanya.
Untuk menambah penghasilan di tahun 2026 ini, ia memutuskan untuk menjual es campur dan kelapa muda juga. Meski keuntungannya tipis, ia tetap bersyukur dan menyisihkan uang itu untuk kebutuhan anaknya yang mondok di Jawa. Suaminya membantu dengan bekerja sebagai buruh bangunan.
Rindu Isna kian terasa setiap kali mendengar kabar dari kampung. Anak keduanya yang kini duduk di kelas tiga SMA di Madura memasuki tahun terakhirnya. Sayangnya, Isna tak bisa hadir mendampingi di hari kelulusan anaknya, momen yang hanya bisa ia saksikan dari jauh.
“Anakku bilang, ‘Mak, nggak pulang Mak? Aku terakhir ini Mak, masa Mamak nggak pulang.’ Aku bilang nggak ada uang. Setelah itu dia mengerti ‘Mak enggak apa-apa kalau belum pulang, nanti saja kalau ada uang’,” ucapnya pelan sambil menitikan air mata dan menyeka dengan tangan kanannya.
Sudah tiga tahun Isna tak menjejakkan kaki di tanah kelahirannya. Ongkos pulang pergi yang mahal membuat keinginan itu terus ia tunda. Kerinduan ia simpan sendiri, di antara piring gado-gado yang kini tak seramai dulu.
Setiap kali melihat ponselnya berdering dari kampung, dada Isna kerap terasa sesak. Rindu pada anak perempuannya di Madura, harus ia telan sendiri. Tak jarang air mata jatuh diam-diam di sudut warung, saat tak ada pembeli dan pikirannya melayang jauh ke rumah yang telah lama ia tinggalkan.
Di usia 40 tahun, Isna mengaku tak berani menggantungkan harapan terlalu tinggi. Ia hanya ingin anak-anaknya bisa menyelesaikan sekolah dengan baik, meski itu berarti ia harus menahan rindu lebih lama. Pulang kampung kini bukan lagi soal keinginan, melainkan soal kemampuan.
“Kalau nanti ada rezeki, ingin pulang. Sekadar ketemu anak, lihat keluarga, itu aja keinginan saya,” katanya lirih.
Setiap sore, saat matahari mulai condong dan jalanan Danau Murung kian lengang, Isna menutup warungnya perlahan. Habis atau tidak, dagangannya tetap dibereskan. Di balik lelah yang mengendap, rindu pada Madura tak bisa ia tutupi melalui tetesan air mata itu.
Kendati begitu, keesokan harinya, Isna akan kembali menanak lontong, meracik bumbu kacang khasnya, dan membuka warung kecil itu seperti biasa demi mencari uang untuk bertemu anaknya di tanah Madura.

Bagi yang ingin membeli gado-gado Madura, langsung saja datang ke warung Isna sekitar Pasar Tangga Arung. Lokasinya di dekat Balai Pertemuan Kelurahan Melayu jalan Danau Murung, Tenggarong.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: penjual gado gado