Ramadan Sehat, Dinkes Balikpapan Ingatkan Bahaya Gorengan dan Makanan Asin

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati. (niaga.asia/Heri)

BALIKPAPAN.NIAGA.ASIA – Menjelang dan selama bulan suci Ramadan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mengingatkan masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan, agar ibadah puasa dapat dijalani secara khusyuk dan maksimal.

Kepala Dinkes Kota Balikpapan, Alwiati, menekankan pentingnya menjaga pola makan seimbang serta menghindari kebiasaan konsumsi makanan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan.

Menurutnya, masyarakat kerap abai terhadap jenis makanan yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka.

“Kalau di bulan Ramadan itu supaya kita bisa melaksanakan ibadah puasa lebih khusyuk dan lebih maksimal, saya menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap menjaga kesehatannya dengan mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang,” kata Alwiati, Selasa 10 Februari 2026.

Dia secara khusus juga mengingatkan agar masyarakat tidak berlebihan mengonsumsi gorengan dan minuman dingin. Kedua jenis konsumsi itu kerap menjadi pemicu utama gangguan kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga peningkatan tekanan darah.

“Jangan terlalu banyak makan gorengan dan minum es. Gorengan itu biasanya memicu masalah kesehatan, termasuk batuk dan gangguan lainnya. Padahal gorengan itu level satu yang harus dihindari,” tegasnya.

Alwiati menyebutkan, penyakit yang juga paling sering muncul saat Ramadan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan hipertensi.

Pola makan tinggi garam dan lemak menjadi salah satu penyebab naiknya tekanan darah, terutama bagi penderita hipertensi.

“Hipertensi biasanya naik karena pola makan, gorengan dan makanan asin. Untuk penderita diabetes melitus (DM), tetap harus menjaga keseimbangan makanan dan jangan lupa minum obat. Obat hipertensi dan DM itu wajib diminum seumur hidup, tidak boleh dilepas,” jelasnya.

Terkait kondisi ISPA di Kota Balikpapan, Alwiati memastikan hingga Februari jumlah kasus masih relatif terkendali. Namun, Alwiati mengingatkan bahwa penyakit ini bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta perilaku masyarakat.

“Sampai dengan bulan Februari ini, kasus ISPA kita tidak terlalu tinggi, sekitar 7 ribuan kasus. Tapi ISPA ini trennya naik turun tergantung cuaca,” ungkapnya.

“Selama masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga pola makan, dan yang sakit melakukan isolasi serta memakai masker, InsyaAllah penyebarannya tidak akan terlalu signifikan,” pesan Alwiati.

Penulis: Heri | Editor: Saud Rosadi

Tag: