
BALIKPAPAN.NIAGA.ASIA – Industri perhotelan di Kota Balikpapan mengawali tahun 2026 dengan laju yang relatif lambat.
Pada Januari 2026, tingkat keterisian kamar belum memperlihatkan lonjakan berarti dan masih bertahan di kisaran 40 persen.
Data itu disampaikan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan.
Ketua PHRI Balikpapan, Sugianto, menuturkan kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya aktivitas perjalanan yang telah terjadi pada penghujung tahun 2025, sehingga awal tahun cenderung mengalami perlambatan.
Menurutnya, pergerakan tamu pada Januari belum kembali normal, karena sebagian besar perjalanan sudah dilakukan sebelumnya.
“Memasuki tahun 2026, khususnya Januari, memang belum terlihat peningkatan. Aktivitas tamu sudah ramai di akhir 2025, sehingga awal tahun ini okupansi hotel masih berada di sekitar 40 persen,” kata Sugianto, Jumat 13 Februari 2026.
Dia menjelaskan situasi itu bukanlah hal baru bagi pelaku usaha perhotelan. Pola penurunan hunian kerap berulang setiap awal tahun, bahkan bisa semakin terasa menjelang bulan Ramadan.
“Biasanya kalau mendekati puasa, tingkat hunian kamar justru kembali menurun. Ini sudah menjadi tren tahunan,” ungkap Sugianto.
Menghadapi kondisi itu, pelaku industri perhotelan mulai menyiapkan langkah antisipatif. Salah satu strategi yang disiapkan adalah memaksimalkan potensi pendapatan non kamar, khususnya melalui penawaran paket berbuka puasa selama Ramadan yang dikemas dengan berbagai promo.
“Harapannya, di bulan puasa nanti hotel tetap bisa memperoleh pemasukan. Paket buka puasa dengan konsep dan promosi menarik menjadi andalan untuk menjaga revenue,” demikian Sugianto.
PHRI Balikpapan optimistis, langkah ini dapat membantu menutup penurunan okupansi kamar, sekaligus menjaga roda perekonomian sektor perhotelan tetap berputar hingga memasuki momentum libur Lebaran.
Penulis: Heri | Editor: Saud Rosadi
Tag: BalikpapanBisnisPHRIRamadan 2026