13 Tahun Merantau, Fransiska Temukan Lagi Kemeriahan Imlek di Samarinda

Masyarakat Tionghoa beribadah di Kelenteng Thien le Kong Samarinda, Selasa 17 Februari 2026. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Tiga belas tahun merantau di Jakarta, Fransiska Wijaya, 30 tahun, akhirnya memutuskan pulang ke kampung halaman di kota Samarinda untuk merayakan Imlek bersama keluarganya.

Tahun ini, Fransiska menemukan kembali kemeriahan dan kekentalan tradisi yang selama belasan tahun tidak dia rasakan di tanah rantau.

Suasana religi sekaligus meriah menyelimuti Kelenteng Thien Ie Kong di Jalan Yos Sudarso, Samarinda, Kalimantan Timur, pada perayaan Tahun Baru Imlek 2577, Selasa 17 Februari 2026. Masyarakat Tionghoa nampak ramai memadati kelenteng untuk beribadah dan memanjatkan doa.

Menurut Fransiska, yang datang bersama keluarga besarnya hari ini, Imlek menjadi momen yang paling ditunggu untuk berkumpul kembali bersama keluarga besar.

“Momen yang paling ditunggu itu kebersamaannya. Kami masih menjaga tradisi memakai baju baru dengan warna terang seperti merah, tidak boleh warna gelap. Hari Imlek, agenda wajib adalah bersembahyang ke kelenteng,” kata Fransiska, ditemui di Kelenteng Thien Ie Kong.

Fransiska Wijaya (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Menurut Fransiska, kemeriahan Imlek di Samarinda terasa lebih meriah dibandingkan saat dia menetap di Jakarta.

“Di Jakarta sudah tidak ada perayaan Imlek seperti ini. Kalau mau merasakan suasananya di Samarinda lebih meriah,” ujar Fransiska.

Bagi masyarakat Tionghoa, tradisi kunjung-mengunjungi tetap menjadi inti dari perayaan. Fransiska menjelaskan urutan silaturahmi dimulai dari mengunjungi anggota keluarga yang paling tua, kemudian berlanjut ke kerabat yang lebih muda.

Selain ritual sembahyang, hal yang paling dirindukan Fransiska adalah sajian khas Imlek. Baginya, makanan yang selalu ada disetiap Imlek dan selalu dirindukannya yakni kue keranjang dan lapis legit, yang menjadi hidangan wajib di tengah keluarganya.

“Kue keranjang itu melambangkan kerekatan, supaya tali persaudaraan selalu rekat. Selain itu, yang selalu ada yakni lapis legit. Itu masakan yang selalu dirindukan,” terang dia.

Meski merasakan kehangatan keluarga, Fransiska tidak menampik adanya perubahan zaman. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, keramaian di kelenteng saat ini dirasanya sedikit berkurang.

Bagi Fransiska Imlek di Samarinda meriah ketimbang di Jakarta. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Sekarang lebih sepi. Waktu saya SD dan SMP ramai banget, apalagi malam sebelum Imlek kelenteng itu penuh, tahun ini agak sepi,” ujarnya.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi suasana Imlek untuk berkumpul bersama keluarga. Fransiska memanjatkan doa. Di tahun baru ini, dia menyisipkan harapan sederhana namun mendalam bagi orang-orang tercintanya.

“Harapannya keluarga selalu disehatkan, dilancarkan rezeki dan dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat,” demikian Fransiska Wijaya mengakhiri perbincangan.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: