
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Ratusan juta rupiah diperkirakan akan berputar setiap hari di Festival dan Bazar Ramadan yang digelar di Tangga Arung Square, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dengan total sekitar 200 tenant yang berjualan, potensi transaksi harian disebut bisa menembus angka Rp200 juta bahkan lebih.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menyampaikan bahwa, perhitungan sederhana ini didapat saat dirinya meninjau langsung aktivitas pelaku UMKM. Ia mencontohkan, jika satu tenant saja meraup omzet Rp1 juta per hari, maka total transaksi sudah mencapai Rp200 juta.
“Kalau dihitung-hitung satu tenant Rp1 juta saja per hari, berarti sudah Rp200 juta. Itu minimal. Rata-rata bisa lebih,” ujarnya usai berbincang-bincang dengan pedagang cireng legend yang dagangannya ludes sebelum magrib, Kamis (19/2/2026).
Meski begitu, angka pasti perputaran uang masih akan dihitung lebih rinci oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar. Namun melihat tingginya antusiasme masyarakat Tenggarong dan variasi produk yang ditawarkan, transaksi harian diyakini berada di kisaran ratusan juta rupiah.
“Nanti dari Dinas Perindag yang hitung berapa perputaran uangnya,” jelasnya.
Bazar yang menghadirkan ratusan pelaku UMKM ini tidak hanya menjadi pusat berburu takjil dan kebutuhan berbuka puasa, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat selama Ramadan.
Untuk semakin mengoptimalkan transaksi, Pemkab Kukar juga sudah menggandeng Bank Kaltimtara dalam mendorong inklusi keuangan. Para tenant difasilitasi penggunaan QRIS agar pembayaran tidak hanya dilakukan secara tunai, tetapi juga non tunai.
Menurut Aulia, kemudahan transaksi digital dapat meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus membantu pelaku UMKM naik kelas, baik dari sisi manajemen usaha maupun sistem pembayaran.
“Harapan kami, para pelaku UMKM di sini bisa meningkatkan kuantitas maupun kualitasnya. Dari segi kuantitas seperti permodalannya. Dan dari kualitas seperti cara penjualannya, cara pembayarannya itu bisa ditingkatkan lagi,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Pengelola Tangga Arung Square, Adi, pun mengaku belum melakukan penghitungan detail terkait total perputaran uang selama pelaksanaan bazar.
“Belum sempat hitung,” katanya singkat kepada Niaga.Asia, Jumat (20/2/2026).
Ia mengaku bahwa penghitungan omzet di lapangan memang tidak mudah dilakukan secara akurat. Sebab, ketika ditanya soal pendapatan, tidak semua pedagang terbuka menyampaikan angka sebenarnya.
“Kalau pedagang ditanya kadang sering tidak jujur. Rame dibilang sepi, tapi masih jualan terus. Mungkin supaya orang iba,” tegasnya.
Meski demikian, Adi memastikan tingkat kunjungan masyarakat setiap sore hingga menjelang berbuka puasa cukup tinggi. Hampir seluruh tenant terlihat melayani pembeli tanpa henti, bahkan beberapa dagangan habis sebelum waktu magrib.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Tangga Arung Squera