
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Bank Indonesia mencatat perekonomian Indonesia tetap bertahan baik ditengah gempuran dinamika pasar keuangan global dan tensi geopolitik yang kian memanas. Kontribusi regional dinilai menjadi pilar krusial terhadap stabilitas tersebut, untuk daerah Kalimantan menyumbang nilai pangsa ekonomi sebesar 8,12 persen terhadap total ekonomi nasional pada tahun 2025.
Sedangkan perekonomian Kaltim yang tumbuh 4,53 persen pada tahun 2025 berkontribusi terhadap total perekonomian regional Kalimantan, yakni mencapai 46,31 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Himawan mengatakan bahwa, prospek perekonomian Global pada 2026 diperkirakan berada pada tingkat pertumbuhan yang lebih moderat ditengah dinamika pasar keuangan tetap tinggi karena dampak tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) dan berlanjutnya tensi geopolitik yang menekan perdagangan internasional.
Sementara, ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan melambat dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang turun sejalan dengan perlambatan ekonomi global serta permintaan domestik yang belum kuat.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian nasional tetap unggul di tengah gejolak global.
“Karena di topang oleh peningkatan sektor industri dan ekspor yang ditopang oleh produk hirilisasi logam dasar serta terjaganya permintaan domestik,” kata Jajang dalam Temu Media di Resto Kepala Kakap jalan Awang Long Samarinda, didampingi deputinya, Bayuadi Hardiyanto dan Agus Taufik,Jumat (27/2/2026).
Ketangguhan ekonomi Indonesia ini bukan sekadar prediksi. Pada triwulan IV-2025, ekonomi Indonesia melesat kuat di angka 5,39 persen (yoy).
Secara akumulatif, sepanjang tahun 2025 ekonomi Indonesia tumbuh di level 5,11 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar 5,04 persen.
Lebih lanjut, Jajang menjelaskan secara regional pangsa ekonomi terbesar masih berada di Jawa kemudian disusul oleh Sumatera dan Kalimantan dengan nilai kontribusi dalam peningkatan ekonomi nasional mencapai 8,12 persen yang ditopang oleh nilai ekspor, pertumbuhan investasi dan permintaan domestik rumah tangga.
Memasuki tahun 2026, Bank Indonesia Kaltim melihat adanya tren penguatan ekonomi yang berlanjut. Untuk mengawal pertumbuhan ini, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran untuk mempercepat digitalisasi ekonomi.
“Bank Indonesia bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan Indonesia yang diproyeksilan di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen,”tutup Jajang Himawan.
Penulis : Nur Asih Damayanti | Editor: Intoniswan
Tag: Ekonomi Kaltim