Iran Mulai Diserang AS dan Israel

Foto foto yang dilihat BBC menunjukkan asap membubung di kawasan Jomhouri Square dan Hassan Abad Square, Kota Teheran, pada Sabtu (28/02).

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Media internasional melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan AS telah melancarkan “operasi tempur besar-besaran” di Iran. Israel, menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjalankan operasi tersebut bersama AS untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”.

“Rangkaian gempuran AS dan Israel kemudian dibalas Iran dengan melesatkan rudal ke berbagai kota di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung kekuatan militer AS,” tulis BBC News Indonesia.

Dalam pernyataan video sebelumnya, Trump mendesak warga Iran memanfaatkan serangan besar besaran terhadap Iran untuk menggulingkan kelompok ulama yang memerintah negara itu.

“Ketika kami selesai, ambil alihlah pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kepada anggota pasukan keamanan Iran bahwa mereka akan diberi “imunitas” apabila meletakkan senjata. Jika tetap bertempur, lanjut Trump, mereka akan “menghadapi kematian yang pasti”.

Hal senada diucapkan Netanyahu.

“Waktunya telah tiba bagi seluruh kelompok masyarakat Iran—bangsa Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai,” kata Netanyahu.

Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan menyebut bahwa Iran mengetahui “niat” Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan. Meski demikian, pemerintah Iran tetap memilih untuk melanjutkan proses negosiasi.

Pernyataan itu juga mengakui bahwa serangan terjadi “ketika Iran dan Amerika Serikat sedang berada di tengah proses diplomatik”.

Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS digelar dua hari lalu, pada 26 Februari, di Jenewa, Swiss—tanpa menghasilkan terobosan.

Iran dan AS sebelumnya juga telah mengadakan lima putaran perundingan pada Mei 2025, namun tidak membuahkan kemajuan.

Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2025 dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap target target Iran, yang kemudian memicu konflik 12 hari. Saat itu, AS menggempur tiga lokasi nuklir utama Iran.

Sesaat setelah pukul 09:30 waktu Teheran (13.00 WIB), kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di Kota Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, serta di ibu kota Teheran.

Di Teheran, kantor Pemimpin Tertinggi Iran serta kantor kepresidenan dilaporkan ikut menjadi sasaran.

Sejumlah instalasi militer di Kermanshah, Qum, Isfahan, Tabriz dan Karaj, serta fasilitas Angkatan Laut Iran di Kenarak, wilayah selatan negara itu, juga dilaporkan terkena serangan.

Sebuah video dari kota kecil Kamyaran, di wilayah Kurdistan, menunjukkan sebuah pangkalan Korps Garda Revolusi dihantam bom.

Hingga kini belum diketahui sejauh mana jumlah korban atau luka luka.

Kantor berita Tasnim menyatakan bahwa wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan terjadi.

Di Iran, respons terhadap serangan tersebut sangat beragam.

Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan warga di dekat lokasi ledakan berlarian panik, diiringi teriakan dan tangis.

Namun pada saat yang sama, muncul pula rasa lega dan sebagian tampak merayakan serangan itu lantaran mereka meyakini bahwa kejatuhan rezim hanya bisa terjadi melalui intervensi militer.

Banyak warga telah lama menduga kemungkinan adanya serangan AS. Reaksi masyarakat Iran pun terbelah.

“Jika saya mati, jangan lupakan bahwa kami juga ada—mereka yang menolak serangan militer, mereka yang akan menjadi angka semata dalam laporan korban jiwa,” tulis seorang warga Iran di media sosial.

Tag: