Kapal Rute Hulu Mahakam Sepi Penumpang, Orgamu: Standar Keselamatan Diperketat

Kapal sungai rute Samarinda ke Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Penumpang dilaporkan turun drastis. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Aktivitas pelayaran angkutan sungai di Pelabuhan Sungai Kunjang, Samarinda, tujuan Melak Kutai Barat (Kubar) dan Long Bagun Mahakam Ulu (Mahulu) terpantau sepi.

Kondisi itu ditengarai sebagai dampak psikologis dari insiden karamnya KM Dahliya F3 di perairan Sungai Mahakam, tepatnya di kawasan Ulak Besar, Desa Rantau Hempang, Muara Kaman, Kutai Kartanegara, yang terjadi pertengahan Februari 2026 lalu.

Ketua Organisasi Angkutan Sungai Mahakam Ulu (Orgamu), Husaini Anwar mengatakan meski operasional kapal rute Kutai Barat dan Mahakam Ulu kembali normal sejak 20 Februari 2026, minat masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi sungai menurun.

“Sejak insiden KM Dahliya F3, banyak orang trauma. Penumpang masih minim sekali yang naik. Seperti hari Minggu, kapal tujuan Melak hanya membawa sekitar 30 orang, untuk rute Long Bagun bahkan lebih sedikit lagi. Padahal kapasitasnya mencapai 100 orang,” kata Anwar kepada niaga.asia, Senin 2 Maret 2026.

Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, Orgamu bekerja sama dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda dan Dinas Perhubungan Samarinda dan Kaltim memperketat standar keselamatan.

Di mana saat ini tidak boleh lagi kapal yang melebihi kapasitas (overload), baik penumpang maupun barang.

“Sekarang sudah ada garis muat yang ditentukan. Jika muatan menyentuh garis batas di permukaan air, barang harus dibongkar dan dikurangi. Dek kapal lantai atas juga tidak boleh lagi diisi muatan barang,” tegasnya.

Aturan baru ini menetapkan batas maksimal 100 penumpang dengan beban barang sekitar 30-40 ton. Jika jumlah penumpang bertambah, maka volume barang wajib dikurangi agar keseimbangan kapal tetap terjaga. Jika nantinya ada yang melebihi batasan yang ditetapkan, muatan kapal itu harus dibongkar untuk dikurangi.

“Sekarang semua pemilik kapal menyetujui aturan yang diterapkan soal total muatnya,” sebut Anwar.

Meski sepi penumpang, Husaini menegaskan bahwa para pengusaha kapal tetap bertanggung jawab menjalankan armada setiap hari pada pukul 07.00 Wita.

Untuk Senin hingga Sabtu berangkat dua kapal setiap harinya. Khusus hari Minggu, jumlah armada ditambah menjadi tiga kapal yakni rute tambahan Samarinda ke Muara Pahu.

Adapun tarif penumpang kelas ekonomi lantai 1 dipatok Rp150 ribu dan lantai 2 sebesar Rp180 ribu per orang. Untuk angkutan logistik tarif barang umum dikenakan Rp250 per ton.

“Kalau barang ringan seperti dus, itu bervariasi tergantung nilai bahannya.
Kalau pop mie dan air minum kemasan itu kurang lebih harganya. Kalau barang berupa alat berat, rokok, itu harganya tidak sama,” jelasnya.

Terkait konsumsi bahan bakar, Husaini menjelaskan bahwa tiap kapal memiliki kebutuhan berbeda tergantung besaran daya mesin atau Power (PK). Untuk rute Samarinda-Melak, rata-rata menghabiskan 8-9 drum BBM, sedangkan rute Long Bagun membutuhkan 17-25 drum.

“Sementara kemarin, izin operasi dinas provinsi dan BPH hanya dikasih tembusan. Jadi kemarin hanya disampaikan ke BPH migas dan BPH migas mengeluarkan surat rekom untuk mendapatkan BBM,” terang Anwar.

Husaini berharap dengan dilakukannya pembenahan dan diterapkannya batas muatan ini, bisa meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat untuk kembali menggunakan armada transportasi sungai.

“Sekarang kapalnya lancar, BBM-nya lancar, penumpangnya saja yang masih kurang. Mungkin masih penyesuaian karena trauma itu. Kita ingin menyampaikan untuk keselamatan, kita sudah menerapkan batasan, kapal tidak boleh bawa penumpang berlebih dan barang berlebih,” demikian Husaini Anwar.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: