Keuangan RSUD Nunukan Membaik, Utang Tinggal Rp16 Miliar

Direktur RSUD Nunukan dr. Andi Bau Tune Mangkau dan Sekretaris RSUD Nunukan, M Sholeh. (Foto : Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan, terus melakukan perbaikan sistem pelayanan dan manajemen keuangan, hasilnya bisa memangkas utang dari Rp26.040.601.368 di awal tahun 2025, tinggal Rp16.986.500.297 di awal tahun 2026.

“Tahun 2025 keuangan RSUD mulai membaik dibuktikan dengan kemampuan melunasi utang sebesar Rp 9,054.101.071,” kata Direktur RSUD Nunukan dr. Andi Bau Tune Mangkau pada Niaga.Asia, Jumat (06/03/2026).

Keberhasilan memangkas utang tidak lepas dari peran Pemerintah Nunukan yang pada tahun 2024 menyuntikan anggaran dua kali  untuk membayar obat-obatan ke vendor dan membayar gaji pegawai honorer, biaya listrik dan biaya air bersih, sangat membantu rumah sakit mengatasi kesulitan keuangan.

“Pengurangan biaya inilah yang membuat keuangan RSUD semakin sehat, sehingga mampu mencicil utang ke sejumlah perusahaan rekanan pengadaan obat dan alat medis lainnya,” sebutnya.

Selain bantuan keuangan pemerintah daerah, pendapatan BLUD sepanjang tahun 2025 mengalami peningkatan dengan rata-rata perbulan Rp 4,5 miliar, penambahan penghasilan ini dipengaruhi oleh meningkatkan jumlah kunjungan perawatan pasien.

Andi menerangkan, meningkatkan kunjungan perawatan pasien dibuktikan oleh menurunnya angka rujukan pasien dari Nunukan ke RSUD Tarakan maupun RSUD Malinau maupun ke luar negeri Malaysia.

“Meningkatnya kunjungan pasien ini dihubungkan dengan semakin membaiknya pelayanan obat-obatan sesuai kebutuhan perawatan,” tuturnya.

Kebutuhan obat-obatan yang dulunya sangat terbatas akibat sulitnya keuangan RSUD mulai membaik dengan terbayarnya tunggakan utang ke pihak vendor sejak tahun 2021 hingga 2024.

Dengan membaiknya pelayanan, jumlah pasien rawat inap dari sebelumnya 747 pasien pada Januari naik menjadi 909 pasien di bulan Desember, begitu pula jumlah rawat jalan di bulan Februari sebanyak 4.047 naik menjadi 5.558 pasien di Desember 2025

“Bertambahnya jumlah pasien ini tentunya menghasilkan pendapatan, dari total pendapatan ini disisihkan untuk membayar utang sebesar Rp 9,054.101.071,” terang Andi.

Meski perlahan pendapatan meningkat, Andi mengaku belum merasa puas atas kinerja RSUD Nunukan. Pasalnya, target pendapatan yang direncanakan sebesar Rp6,8 miliar hanya terealisasi Rp 6,1 miliar.

Belum tercapainya target pendapatan akan menjadi pemicu bagi seluruh staf dan pegawai rumah sakit agar semakin mengoptimalkan pelayanan kesehatan dengan menambah jumlah kunjungan pasien dan efisiensi belanja.

“Tidak hanya perbaikan layanan obat-obatan, kami juga secara berkala meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga medis sebagai timbal balik pelayan prima,” ungkapnya.

Untuk diketahui, manajemen RSUD Nunukan sempat hampir bangkrut lantaran terlilit utang tahun 2021-2024 sebesar Rp42 miliar. Akibat tumpukan hutang yang terus meningkatkan rumah sakit kesulitan mendapatkan obat-obatan dari pihak vendor.

Dalam waktu bersamaan, Direktur RSUD Nunukan Dulman Lekong sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Bendahara RSUD Nunukan Nur Hasanah, tersandung kasus korupsi

Berdasarkan audit keuangan dan pemeriksaan Kejaksaan Negeri Nunukan, Direktur bersama Bendahara RSUD Nunukan melakukan tindak pidana korupsi anggaran BLUD tahun 2021-2022 dengan merugikan negara sebesar Rp 2,5 miliar.

Modus korupsi keduanya dilakukan dengan melakukan duplikasi realisasi belanja atas 73 transaksi yang tidak dibayarkan, serta tidak membayar 20 transaksi belanja yang dananya telah dicairkan.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan

Tag: