Bupati Aulia Ingin Tenaga Kerja Lokal Naik Kelas, Jadi Manajer

Bupati Aulia Rahman Basri. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Bupati Aulia Rahman Basri mencita-citakan transformasi besar terhadap peran tenaga kerja lokal agar naik kelas dan lebih berdaya saing, terutama para pemuda di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Ia ingin generasi muda daerah tidak lagi hanya menjadi tenaga kerja di level bawah, tetapi setelah meningkatkan kompetensi bisa menembus posisi-posisi strategis hingga jajaran manajerial di berbagai sektor unggulan, khususnya perkebunan sawit.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan buka puasa bersama Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Jamaluddin Jompa di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Rabu (4/3/2026).

Bupati Aulia menyampaikan kegelisahannya terhadap posisi tenaga kerja lokal di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Saya punya mimpi. Bagaimana ke depan manajer-manajer sawit yang ada di kebun-kebun sawit itu bukan orang dari luar lagi. Tetapi nantinya, putra-putri daerah Kabupaten Kukar yang menjadi manajer-manajer di kebun sawit,” ujarnya.

Menurutnya, Kukar memiliki potensi besar di sektor perkebunan. Di daerah yang kaya akan sumber daya alam ini kata Bupati, terdapat puluhan Perusahaan Besar Swasta (PBS), kebun inti dan plasma, serta sekitar kurang lebih 20 pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi.

Namun ironisnya, ia mengakui realitas di lapangan masih menunjukkan dominasi tenaga kerja lokal hanya menempati posisi di level bawah.

“Ada puluhan PBS dan PKS, tapi ketika kita masuk ke dalam, warga lokal dengan berat hati saya katakan, ya cuma pekerja kasar saja,” jelasnya.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar. Oleh karenanya, Aulia menilai perlu ada langkah konkret untuk memutus rantai ketergantungan daerah terhadap tenaga ahli dari luar. Salah satu caranya, dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal.

“Ini menjadi PR kami, menjadi kegelisahan bersama dengan Rektor Unikarta. Bagaimana cara kita memutus rantai ketergantungan itu di Kukar,” terangnya.

Kekayaan sumber daya alam (SDA) seperti batubara, minyak, gas, hingga sawit tidak akan selamanya menjadi penopang ekonomi daerah. Jika tidak diimbangi dengan kesiapan SDM unggul kata Bupati Aulia, Kukar berisiko menghadapi masa depan yang suram.

“Kalau seandainya sumber daya alamnya habis, kita tidak mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, maka tempat kita hanya akan menjadi kota zombi, kota hantu. Siapa lagi yang akan datang ke tempat kita,” tegasnya.

Aulia menegaskan, seluruh potensi alam bisa habis digali, tetapi investasi pada manusia akan memberikan dampak jangka panjang. Maka dari itu, kolaborasi dengan universitas dinilai sangat penting untuk mencetak tenaga profesional di sektor-sektor strategis, termasuk perkebunan sawit.

“Jika tidak kita siapkan. Ya, kita tidak tahu ke depan seperti apa,” katanya.

Sementara itu, Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menyebut Kukar sebagai kabupaten yang sebenarnya kerap menjadi perbincangan positif di lingkup kampusnya. Ia menilai Kukar memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, ditopang kemampuan fiskal daerah yang kuat. Namun, menurutnya, kunci utama kemajuan tetap terletak pada kualitas SDM.

“Semua negara maju itu kata kuncinya di sumber daya manusia,” tuturnya.

Contohnya saja seperti Singapura yang minim sumber daya alam, tetapi mampu menjadi negara maju karena fokus pada pembangunan manusia.

“Lihatlah Singapura yang enggak punya sumber daya alam. Tapi begitu hebatnya Singapura, dengan tidak ada sumber daya alam dia bisa maju,” tegasnya.

Keberhasilan Singapura menjadi bukti bahwa investasi terbesar yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah pada sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan SDM unggul, berbagai keterbatasan bisa diatasi dan potensi yang ada dapat dimaksimalkan.

“Khususnya kalau saya bisa berharap, ini harapan dari lubuk hati saya, jadikanlah Kukar kabupaten yang bahkan bisa mengalahkan Singapura. Kukar bisa menjadi kabupaten percontohan,” harapnya.

Cita-cita besar ini bukan hal yang mustahil jika ada komitmen kuat dan konsisten dalam membangun kualitas manusia. Kuncinya, kata dia, adalah keseriusan menjadikan pendidikan dan peningkatan kompetensi sebagai prioritas utama pembangunan daerah.

“Tapi kata kuncinya itu tadi, jangan pernah merasa bahwa sumber daya manusia itu investasi sia-sia. Justru kata kuncinya di situ,” tutupnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: