
NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, membuka kios Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna mengatasi lonjakan harga kebutuhan dan harga bahan pokok di bulan Ramadan maupun jelang Hari Raya Idulfitri.
Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan, Dior Frames mengatakan, kios TPID berlokasi di Gedung UMKM Center Jalan Tanah Merah, Kecamatan Nunukan.
“Jam operasional kios TPID mulai pukul 09.00-11.00 Wita. Masyarakat yang terdampak kenaikan harga barang bisa berbelanja di kios TPID,” kata Dior, Senin 9 Maret 2026.
Kenaikan ekskalasi harga yang terjadi saat ini cukup membebani masyarakat, terutama kebutuhan barang produk Malaysia yang didatangkan pedagang lintas batas atau border trade seperti tabung gas dan gula pasir, maupun minyak makan.
Lonjakan harga sebagian kebutuhan barang ini disebabkan kenaikan nilai mata uang Ringgit Malaysia, sehingga nilai harga barang meningkat ketika para pedagang berbelanja menggunakan mata uang rupiah.
“Selain nilai Ringgit Malaysia naik, lonjakan harga barang dipengaruhi terlambatnya bongkar muat Bahan Bakar Minyak ((BBM) hingga menggangu distribusi barang,” ujar Dior.
Kios murah TPID lebih dikhususkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk menjaga daya beli, serta mengendalikan inflasi daerah agar lonjakan harga tidak mengganggu stabilitas ekonomi.
Saat ini, lanjut Dior, stok komoditas barang yang disiapkan pada kios TPID masih cukup terbatas seperti minyak goreng premium, tepung terigu, kopi, beras, sabun cuci piring, sabun cuci pakaian, gula pasir, bawang putih, bawang merah.
“Untuk pembelian dibatasi agar tidak terjadi penumpukan barang di satu orang pembeli. Masyarakat yang terdampak kenaikan harga silahkan datang ke UMKM canter,” jelas Dior.
Salah satu komoditas barang yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah telur ayam dari harga Rp55.000 – Rp58.000/piring di bulan Februari 2026, kini naik menjadi Rp 62.000 – Rp 65.000/piring di awal Maret 2026.
Kenaikan harga telur tidak lepas dari semakin banyaknya dapur-dapur pengelola Makan Bergizi Gratis (MBG) di pulau Nunukan dan Sebatik, sementara stok telur ayam lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Pedagang Nunukan sudah mencoba mendatangkan telur ayam lebih banyak, tapi masalahnya daerah penghasil juga menyetok telur untuk kebutuhan MBG di sana,” jelas Dior.
Untuk harga beras biasa di kisaran Rp 14.000/liter, sedangkan beras premium Rp 16.000/liter. Begitu pula harga daging ayam masih stabil di angka Rp 55.000 – Rp 58.000 per kilogram. Belum adanya kenaikan harga daging ayam ini dipicu oleh ketersedian ayam lokal yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Potensi kenaikan pasti ada di jelang Ramahan. Makanya nanti kami mau rapat koordinasi melibatkan Satpol PP mengawasi harga dan kadaluarsa,” jeas Dior.
Penulis: Budi Anshori | Editor: Saud Rosadi
Tag: InflasiKomoditas PanganNunukan