
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Kuliner martabak kareh khas India yang hadir sejak tahun 1942 rupanya masih bertahan dan eksis hingga kini di Kota Raja, julukan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim).
Warisan kuliner tersebut dikenal dengan nama ‘Martabak Kareh India Hj Mariam’, yakni usaha keluarga yang kini dikelola generasi ketiga.
Usaha ini berawal dari seorang perantau asal Kerala, India, bernama Tuan Amat atau Akkan Kandy Muhammad, yang dikenal sebagai orang pertama yang membawa kuliner kareh India ke wilayah Loa Tebu dan Tenggarong pada sekitar tahun 1942.
Margita, cucu dari Tuan Amat, menceritakan bahwa sang kakek merantau jauh dari India hingga akhirnya menetap di Kabupaten Kukar dan memperkenalkan martabak kareh kepada masyarakat setempat.
“Martabak kareh ini pertama kali dijual oleh kakek saya. Beliaulah yang membawa resep kareh India dari Kerala ke sini sejak tahun 1942,” ujar perempuan berusia 27 tahun itu, Minggu sore (15/3/2026).

Perjalanan sang kakek menuju Kukar tidaklah singkat. Sebelum menetap di Tenggarong, ia terlebih dahulu merantau ke beberapa negara dan daerah di Asia Tenggara.
Menurut Margita, kakeknya sempat singgah di Singapura dan Malaysia sebelum akhirnya tiba di Indonesia. Dari sana perjalanan berlanjut ke Muara Kaman, kemudian pindah ke Loa Tebu sekitar tahun 1942 hingga 1943.
“Dari Muara Kaman kakek singgah sebentar, kemudian pindah ke Loa Tebu. Setelah itu akhirnya berjualan di Tenggarong,” jelasnya.
Di Tenggarong ini lah kata Margita, kakeknya mulai memperkenalkan martabak kareh dan roti canai kepada masyarakat. Seiring waktu, kuliner ini semakin dikenal luas dan menjadi salah satu makanan yang cukup populer di daerah tersebut.
Bahkan pada masa lalu, martabak kareh buatan Tuan Amat sering hadir dalam berbagai kegiatan besar di Tenggarong.
“Kalau dulu setiap ada acara Erau atau kegiatan besar di Tenggarong, kakek saya sering diberi tempat untuk berjualan. Orang-orang dari kalangan kesultanan juga sering membeli,” bebernya.

Salah satu lokasi yang cukup dikenal oleh masyarakat pada masa itu adalah di sekitar Hotel 17 Bahari di kawasan pusat Kota Raja. Di tempat itulah Tuan Amat kerap berjualan martabak kareh yang kemudian menjadi langganan banyak warga.
Seiring waktu, usaha itu kemudian diwariskan kepada putrinya, bernama Hj Mariam, yang merupakan generasi kedua penerus usaha keluarga. Nama sang ibu pun, lalu diabadikan sebagai nama usaha yang hingga kini masih digunakan.
Margita mengaku sejak kecil sudah akrab dengan aktivitas berjualan. Ia sering ikut membantu ibunya menyiapkan bahan hingga melayani pembeli.
“Dari kecil saya sudah ikut ibu jualan. Jadi setelah lulus kuliah saya merasa sayang kalau usaha ini tidak diteruskan. Akhirnya saya memilih membantu mengembangkan usaha keluarga,” terangnya.
Kini di usianya yang ke-27 tahun, Margita menjadi generasi ketiga yang menjaga warisan usaha martabak kareh tersebut.
Salah satu hal yang tetap dipertahankannya hingga sekarang adalah resep asli dari sang kakek, yakni proses pembuatan bumbu kareh yang masih dilakukan secara tradisional.
“Resep kareh-nya masih resep rahasia kakek. Cara buatnya juga masih sangat tradisional, bumbunya itu digiling pakai batu, tidak pakai blender,” paparnya.
Keaslian resep yang tetap dipertahankan itulah yang membuat martabak kareh buatan keluarga ini masih diminati hingga sekarang. Ia mengungkapkan, martabak kareh menjadi menu yang paling banyak dicari oleh para pembeli.
Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar 90 – 100 porsi martabak kareh, terutama saat bulan Ramadan, permintaan meningkat menjelang waktu berbuka puasa.
“Martabak memang paling banyak diminati. Biasanya sehari bisa habis sekitar 90 – 100 porsi,” katanya.
Selain martabak kareh yang menjadi menu andalannya, Margita juga menjual beberapa makanan khas India lainnya seperti roti canai dan nasi briyani.

Untuk roti canai, biasanya ia menyiapkan sekitar 30 porsi setiap harinya. Sementara nasi briyani dibuat dalam jumlah terbatas karena peminatnya tidak sebanyak martabak kareh.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Martabak kareh ayam dijual seharga Rp25 ribu per porsi, sedangkan martabak kareh daging dibanderol Rp30 ribu.
Sementara itu, roti canai dijual mulai dari Rp5 ribu untuk roti canai original, Rp15 ribu untuk roti canai dengan kare ayam, dan Rp20 ribu untuk roti canai kare daging. Adapun nasi briyani dijual seharga Rp25 ribu per porsi.
Dengan pilihan menu itu, lapak Martabak Kareh India Hj Mariam kerap menjadi salah satu tujuan pengunjung bazar yang ingin mencicipi kuliner khas India dengan cita rasa autentik.
Selama Ramadan, Margita dan keluarganya membuka lapak di kios nomor 5 VVIP dari pintu masuk Bazar Ramadan Tangga Arung Square, tepatnya di deretan sebelah kanan dari pintu masuk.
Setiap hari mereka menyiapkan dagangan sejak pukul 14.00 WITA di rumah, kemudian menuju lokasi bazar untuk membuka lapak sekitar pukul 15.00 WITA hingga menjelang waktu berbuka puasa.
Omzet kotor dari penjualan martabak kareh dan menu lainnya dalam sehari bisa mencapai sekitar Rp3 juta.
“Kalau omzet kotor sekitar Rp3 juta sehari. Karena modal martabak juga besar, jadi kalau bersihnya sekitar Rp2 jutaan,” tegasnya.
Tak hanya berjualan langsung di bazar, ia membeberkan bahwa warung Martabak Kareh India Hj Mariam juga melayani pesanan untuk berbagai acara seperti pernikahan maupun pesanan khusus menjelang Hari Raya Idulfitri.
Biasanya pesanan mulai direkap sekitar dua minggu sebelum lebaran dan diambil oleh para pelanggan pada malam takbiran.
Disinggung soal semakin banyaknya penjual martabak kareh yang bermunculan, Margita mengaku akan tetap optimistis. Menurutnya, keluarganya terus berusaha mempertahankan cita rasa asli warisan sang kakek yang telah dijaga secara turun-temurun. Ia yakin, resep keluarga menjadi ciri khas yang membedakan martabak kareh buatan mereka dengan yang lainnya.
“Memang sekarang ini banyak yang jual martabak kareh. Tapi resep kami ini memang dari kakek langsung, jadi rasanya juga beda,” tuturnya.
Bagi Margita, melanjutkan usaha keluarga bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga warisan kuliner yang telah bertahan sejak puluhan tahun lalu.
“Semoga kuliner ini tetap dikenal dan bisa terus bertahan. Kami berharap kedepannya UMKM semakin diperhatikan pemerintah,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Kulinermartabak