
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Harga cabai dan bawang merah di Pasar Mangkurawang, jalan Ahmad Dahlan, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), mengalami kenaikan jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Harga cabai yang sebelumnya sekitar Rp80 ribu/kilogram, kini mencapai hingga Rp100 ribu/kilogram, sementara bawang merah naik dari Rp33 ribu menjadi Rp40 ribu/kilogram.
Di salah satu lapak sayur di pasar tersebut, Siti (80), pedagang yang telah lama berjualan di Pasar Mangkurawang membenarkan bahwa lonjakan harga cabai mulai terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Banyak kenaikan. Dari agen sekarang Rp100 ribu sekilo, kalau eceran lain lagi. Sebelumnya masih Rp80 ribu,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, kenaikan harga cabai sudah berlangsung sekitar empat hari terakhir. Bahkan ia memperkirakan harga komoditas tersebut masih berpotensi naik dalam waktu dekat karena pasokan yang terbatas.
“Empat harian ini naik jadi Rp100 ribu. Ini besok kemungkinan naik lagi, karena enggak ada lombok,” jelasnya.

Siti memperkirakan bahwa harga cabai bisa melampaui lebih dari Rp100 ribu per kilogram. Bahkan di beberapa daerah di Pulau Jawa kata dia, harga cabai bahkan sudah mencapai Rp150 ribu/kilogram.
“Kira-kira ya lebih dari Rp100 ribu lah. Di Jawa saja Rp150 ribu,” terangnya.
Ia menilai bahwa kenaikan harga bahan pokok menjelang Lebaran sebenarnya memang kerap terjadi setiap tahun.
“Iya, dekat-dekat Lebaran memang seperti itu, naik semuanya meningkat,” tuturnya.
Selain cabai, harga bawang merah juga mengalami kenaikan meski tidak sebesar cabai. Saat ini harga bawang merah berada di kisaran Rp40 ribu/kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp33 ribu.
“Kalau bawang merah sekarang Rp40 ribu. Sebelumnya Rp33 ribu saja,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan bawang merah sejujurnya sudah terjadi lebih lama, sekitar setengah bulan terakhir, karena pasokan yang sempat kosong di pasaran.
“Kalau bawang itu lama sudah naiknya. Sekitar setengah bulanan,” bebernya.
Disela-sela perbincangan bersama Niaga.Asia terkait kenaikan harga bahan pokok tersebut, para pedagang justru mengeluhkan kondisi pasar yang dinilai semakin sepi dari pembeli. Menurut Siti, aktivitas pengunjung di Pasar Mangkurawang hanya ramai sebentar pada pagi hari.
“Nanti sekitar jam 10 ke atas itu sudah enggak ada orang. Paling satu dua orang saja,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Merry Simbolon (54), pedagang barang pecah belah di pasar tersebut. Ia menyebut kondisi pasar bahkan lebih sepi pada hari-hari biasa.
“Kalau hari biasa, jam 9 sudah bisa main bola di sini saking sepinya,” ujarnya.
Siti sendiri adalah pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Tangga Arung sebelum pindah ke Pasar Mangkurawang. Ia menilai perbedaan jumlah pembeli di kedua pasar tersebut sangat jauh.
“Bedanya jauh. Di Tangga Arung saya bawa satu mobil barang bisa habis. Kalau di sini dua karung saja belum tentu habis,” lanjut Siti.
Lokasi pasar yang berada agak jauh dari pusat kota membuat banyak warga Tenggarong enggan berbelanja ke sana. Bahkan sebagian orang menyebutnya sebagai “pasar hutan”.
“Orang bilang ini pasar hutan. Orang bingung mau ke sini karena pasarnya di pagar,” katanya.
Ia juga mengenang kondisi awal pasar ketika masih banyak pepohonan di sekitarnya. Saat itu, kata dia, monyet bahkan sering turun ke area pasar untuk mencari makanan.
“Dulu timun sama wortel dimakan monyet. Monyet turun minta makan,” kenangnya.
Para pedagang juga menilai maraknya pasar tumpah di sejumlah titik di Kota Tenggarong turut membuat Pasar Mangkurawang semakin sepi.
“Di Pesut ada pasar tumpah, di Belida ada, di Mangkuraja juga ada, di Pasar Lumpur ada, Panjaitan juga ada. Jadinya di sini mati,” kata Merry menambahkan.
Ia mengungkapkan bahwa keberadaan portal di akses masuk Pasar Mangkurawang juga semakin mengurangi minat masyarakat untuk datang berbelanja.
“Dulu sebelum diportal masih ada orang datang dari jam 5 pagi. Setelah ada portal, orang makin malas masuk,” keluhnya.
Karena itu para pedagang sangat berharap pemerintah dapat menata kembali aktivitas perdagangan di Ibu Kota Kabupaten tersebut dengan memusatkan pedagang, terutama para pedagang pasar tumpah, ke Pasar Mangkurawang.
“Kalau bisa pasar tumpah itu dijadikan satu ke sini. Sayur, ikan, ayam semua di sini. Jadi kita sama-sama kebagian,” harapnya.
Harapan serupa juga disampaikan oleh Siti. Ia menilai jika seluruh pedagang dipusatkan di satu pasar, maka aktivitas ekonomi di Kota Raja bisa kembali hidup.
“Harusnya semuanya dipindah ke sini, jangan lagi di pinggir jalan. Kalau begini terus, kami pedagang bisa enggak makan,” tutupnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Cabei