
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Sebulan ini bersileweran di beragai platform media sosial oknum mencaci-maki Kurawal Fondation. Yayasan Kurawal atau Kurawal Fondation ini dituding sebagai anek-antek asing karena menerima donor dari George Soros, angkanya disebut-sebut 2 juta USD, atau setara sekitar 32 miliar rupiah.
Makian dan cacian terhadap Kurawal Fondation, di media sosial sangat luar biasa, dapat disetarakan sebagai kekerasan sipil terhadap masyarakat sipil seperti pasca G30S/PKI. Apa dan siapakah dibalik Kurawal Fondation, berikut informasi yang disampaikan Kurawal Fondation di https://www.kurawalfoundation.org/ yang taglinenya#Menuju Demokrasi yang Bermartabat dan Bermaslahat
Yayasan Kurawal merupakan lembaga filantropi untuk keadilan sosial yang bekerja mendukung gagasan, inisiatif, dan upaya baru untuk mewujudkan demokrasi yang bermartabat dan bermaslahat di Indonesia dan Asia Tenggara.
Kurawal berupaya mengatasi masalah “demokrasi tanpa demokrat” (democracy without democrats) dengan mendorong munculnya individu dan agensi yang mempercayai, menghormati dan menerapkan nilai dan prinsip demokrasi bahwa kuasa mayoritas harus dibarengi perlindungan atas hak minoritas (majority rules minority rights) secara konsisten.

Kurawal percaya, tatanan demokrasi yang kuat memerlukan kehadiran lebih banyak demokrat. Oleh karena itu, jika kita mengakui bahwa para demokrat dibentuk, bukan dilahirkan, kita harus menerima bahwa dukungan warga terhadap demokrasi adalah hasil dari proses pembelajaran sosial-politik dan bukan kualitas yang hadir dengan sendirinya secara inheren dalam tiap individu.
Dalam menjalankan organisasi, Kurawal berpegang pada seperangkat nilai, antara lain:
Integritas dan Akuntabilitas
Kurawal mengutamakan prinsip keterbukaan, efektivitas dan pertanggunggugatan dalam pengelolaan organisasi. Kurawal percaya bahwa tata kelola yang bertanggung jawab akan menumbuhkan kepercayaan dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan terhadap kerja-kerja yang dilakukan.
Kemerdekaan
Untuk memastikan bahwa pemerintah benar-benar akuntabel dan mendengarkan aspirasi serta kekhawatiran masyarakat, Kurawal bertekad untuk tetap independen dalam menjalankan kerja-kerjanya. Hal ini memungkinkan Kurawal untuk melakukan evaluasi yang objektif dan memberikan kritik yang konstruktif tanpa terpengaruh oleh kepentingan pihak-pihak tertentu, termasuk pemerintah, mitra, dan donor.

Kurawal akan tetap menjaga kebebasan dalam mengkritik atau menilai kebijakan yang mungkin tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan atau kepentingan publik. Dengan cara ini, Kurawal dapat memastikan bahwa suara dan pendapat yang berbeda tetap didengar dan diperhitungkan, yang pada akhirnya mendukung terciptanya pemerintahan yang lebih transparan dan responsif.
Inklusi dan Kesetaraan
Kurawal berkomitmen untuk senantiasa mengedepankan inklusivitas dan kesetaraan dalam menjalankan kerja dan perannya di dalam ekosistem masyarakat sipil sebab setiap individu berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan tanpa diskriminasi. Selain menjadi bagian penting dalam demokrasi yang sehat, komitmen ini adalah cara Kurawal mengakui dan merayakan perbedaan. Dengan begitu, Kurawal dapat belajar dari berbagai perspektif dan pengalaman, yang pada akhirnya dapat memperkaya program dan inisiatif organisasi
Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Kurawal terdiri dari Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Dewan Pengurus dan Direktur Eksekutif. Dewan Pembina Kurawqal diketuai Made Supriatna dengan anggota Mia Siscawati.

Dewan Pengawas Kuawal diketuai Yati Andiyani dengan anggota dua orang yakni Amalinda Savirani dan Yan Christian Warinussy. Sedangkan Dewan Pengurus terdiri dari, Ketua Asfinawati, Sekretaris Robertus Robet, Bendahara Inaya Rokhmani, dan Direktur Eksekutif: Darmawan Triwibowo.
Kerja-kerja Kurawal
Kurawal juga secara terbuka mempublikasikan kerja-kerjanya, atau semacam program kerjanya seperti:
Pendidikan Kritis Orang Muda
Kurawal percaya bahwa demokrasi hidup dan dihidupi oleh setiap keputusan yang diambil maupun pilihan yang ditunda hari ini. Suka maupun tidak suka, kita harus menerima bahwa demokrasi dimaknai, ditahbiskan, dirajam, maupun dibangkitkan oleh para pemilik hari ini. Hitam putihnya ditentukan oleh mereka yang baru saja beranjak dari ufuk pagi – orang muda. Pertanyaan yang diajukan, tantangan yang dijabarkan bukanlah milik mereka yang tinggal dalam bayang-bayang senja.
Oleh karena itu, Kurawal melihat pentingnya upaya untuk mengkonsolidasikan basis-basis gerakan yang terserak, memfasilitasi ruang pertukaran gagasan dan pematangan pandangan politik, serta mempertemukan orang muda dengan kelompok-kelompok progresif dari berbagai lapisan kelas sosial guna menyatukan kekuatan-kekuatan tanding terhadap kuasa negara. Membendung apatisme politik yang sengaja ditebar oleh penguasa di kalangan orang muda adalah kunci.

Dalam konteks tersebut, Kurawal memahami bahwa seni adalah alat yang efektif untuk menarik perhatian dan melibatkan orang muda serta masyarakat luas yang mungkin belum tersentuh oleh gerakan aktivisme tradisional bai penguatan demokrasi.
Dalam konteks ini, seni dapat menjembatani isu-isu demokrasi kepada publik dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami. Melalui seni, pesan-pesan tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial dapat disampaikan dengan cara yang lebih emosional dan mendalam, yang seringkali lebih efektif dalam menggugah kesadaran dan menginspirasi tindakan nyata.
Sekilas tentang program Kurawal di area tematik “Pendidikan Kritis Orang Muda”
Menurut Kurawal, masih banyak orang muda Indonesia yang belum mengetahui kekejaman Negara pada masa lalu seperti yang terjadi pada tahun 1965 dan 1998, karena narasi tentang peristiwa-peristiwa itu masih dikendalilan pemerintah.
Fakta-fakta sebenarnya di balik kejadian-kejadian itu dihapus dari buku sejarah, yang berpotensi memperpanjang impunitas bagi mereka yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia pada masa lalu.

Program Buried Chapter oleh Talamedia, bekerja sama dengan Kurawal, bertujuan untuk mengganggu siklus tersebut dengan berbagi kisah-kisah yang belum terungkap dan mengemasnya secara kreatif. Dengan melibatkan para sutradara muda, Talamedia telah memproduksi empat film dokumenter dengan perspektif dari warga atau komunitas yang menjadi korban peristiwa tersebut.
Langkah ini memberikan suara alternatif yang selama ini kurang terdengar. Dua film mengenai peristiwa 1965 (Acung Berani Bersuara dan Di Balik Rupa) telah ditonton lebih dari 10 ribu kali di platform YouTube, memperkaya produk pengetahuan tentang peristiwa 1965 dari sudut pandang non-negara.
Sementara itu, dua film soal kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat pada 1998 (Hotline 1998 dan Dia Pergi dan Belum Kembali) memiliki total tayangan lebih dari 16 ribu. Film ”Hotline 1998” yang mengangkat cerita soal Peristiwa Pemerkosaan Masal pada 1998 juga diputar di beberapa kota seperti Jakarta dan Makassar dengan respon yang cukup menggugah perasaan dari penontonnya. Selain membuka perbincangan di ruang pubik yang selama ini tertutup, film itu juga membangkitkan kesadaran dan empati publik terhadap korban.
Buried Chapters menyediakan ruang aman bagi orang muda untuk bertanya, berdiskusi, dan berbagi kisah tentang babak-babak dalam sejarah bangsa yang dikuburkan. Kunjungi situsnya.
Demokrasi Tanpa Batas
Kurawal menjelaskan, dalam beberapa dekade terakhir, demokrasi di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ini.

Peningkatan kebebasan pers, penyelenggaraan pemilihan umum yang relatif baik, dan partisipasi aktif masyarakat sipil menunjukkan bahwa Indonesia telah membuat kemajuan penting dalam pengembangan demokrasinya.
Namun, keadaan ini tidak berlaku merata di seluruh ASEAN. Beberapa negara masih menghadapi tantangan besar dalam hal kebebasan politik, hak asasi manusia, dan partisipasi publik. Banyak dari negara-negara ini menghadapi hambatan dari rezim otoriter, pembatasan kebebasan berekspresi, serta sistem politik yang tidak inklusif.
Sebagai negara dengan demokrasi yang lebih maju di kawasan, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong dan mendukung upaya penguatan demokrasi di negara-negara tetangganya. Karena itu, Kurawal berkomitmen untuk memperkuat demokrasi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh Asia Tenggara.
Dengan melakukan pekerjaan di area ini, Kurawal berupaya memanfaatkan kemajuan demokrasi di Indonesia sebagai dasar untuk memperkuat demokrasi di seluruh Asia Tenggara. Kami yakin bahwa keberhasilan demokrasi di satu negara dapat berfungsi sebagai inspirasi dan pemicu bagi negara-negara lain untuk melaksanakan reformasi serupa.

Sekilas tentang program Kurawal di area tematik “Demokrasi Tanpa Batas”.
Media Kepentingan Publik
Kurawal juga punya perhatian terhadap media. Menurut Kurawal, sejak era reformasi di Indonesia, kebebasan pers mulai terbuka, memungkinkan pendirian dan operasi perusahaan media dengan lebih sedikit campur tangan dari pemerintah. Namun, meski demokratisasi media diharapkan setelah jatuhnya rezim otoriter Orde Baru, kenyataannya oligarki media justru semakin kuat.

Konsentrasi kepemilikan media semakin terpusat menyumbat ruang redaksi melakukan peliputan mendalam dan investigatif. Industrinya dimiliki oleh segelintir konglomerat-cum-politikus atau pengusaha yang menggantungkan kedekatan dengan penguasa serta sebaliknya Selain itu, para reporternya dikejar-kejar target kuota berita per hari dalam sistem produksi yang mengejar tren “konten viral” di media sosial.
Tetapi, dalam lima tahun terakhir juga muncul suatu tren global, termasuk di Indonesia, yakni kelahiran media-media independen, media-media yang tidak terhubung dengan industri. Media-media ini muncul di banyak daerah, termasuk di Jakarta, yang tujuan didirikannya adalah membela kepentingan publik, membongkar kejahatan lingkungan, mengusik dinasti politik lokal dan nasional.
Media-media independen berkepentingan publik ini, selain media-media industri yang masih merawat semangat dan tugasnya di ruang redaksi sebagai pengawas kekuasaan, memunculkan seberkas harapan dalam kekuatan institusi media untuk mengabarkan kebenaran dan realitas sesungguhnya di tingkat akar rumput. Mereka melawan sebuah rezim yang menutupi realitas dengan kebohongan dan manipulasi lewat jaringan influencer pemerintah.

Namun, media-media ini juga menghadapi banyak tantangan, Selain masalah pendanaan, media independen berkepentingan publik juga menghadapi tantangan serius terkait keamanan dan keselamatan. Jurnalis dan organisasi media sering kali menjadi sasaran upaya kriminalisasi, ancaman, serta serangan fisik dan digital. Ancaman ini tidak hanya membahayakan individu yang bekerja di media, tetapi juga mengganggu fungsi penting media dalam menyampaikan informasi yang akurat dan independen kepada publik.
Kurawal memahami betapa pentingnya mendukung media-media independen ini. Dalam konteks demokrasi yang semakin dihadapkan pada tantangan dan ancaman, media yang benar-benar independen dan berfokus pada kepentingan publik sangat penting untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu, mendukung keberlanjutan media independen yang konsisten memperjuangkan kepentingan publik adalah prioritas utama yang perlu mendapat perhatian dan dukungan penuh.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Kurawal FondationPemikiran Alternatif