Pesona Tersembunyi Pulau Kumala yang Mulai Dirindukan

Para pengunjung terlihat asik berkeliling Pulau Kumala menggunakan sepeda listrik. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Di tengah tren wisata modern yang kian ramai diminati anak muda, dengan beragam wahana dan gemerlap hiburan mengasikkan. Pulau Kumala di Kota Raja justru tetap diminati karena menawarkan hal berbeda, yakni ketenangan yang kini mulai dirindukan sebagian orang.

Pulau di jantung Kota Tenggarong itu memang tak ramai lagi. Sore hari, Jumat (27/3/2026), suasananya cenderung sangat lengang, hanya beberapa pengunjung yang tampak menikmati waktu dengan caranya masing-masing.

Justru dalam kesederhanaan tersebut, Pulau Kumala menghadirkan ruang jeda yang terasa lebih intim. Di bawah rindangnya pepohonan, beberapa orang berjalan santai, sementara lainnya bersepeda perlahan menyusuri jalur yang teduh.

Sesekali terlihat sepasang kekasih mengayuh sepeda berdampingan, mereka bercanda ringan di sela perjalanan, seolah menikmati waktu tanpa gangguan hiruk pikuk kota yang melelahkan. Tak jauh dari jalur itu, hamparan rerumputan hijau yang luas pun turut menjadi tempat favorit pengunjung untuk duduk santai atau sekadar berbaring menikmati suasana.

Jembatan Repo-Repo menuju Pulau Kumala. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Menjelang senja, langit berubah warna. Sinar matahari perlahan meredup, menghadirkan panorama matahari terbenam yang indah di balik aliran Sungai Mahakam. Duduk di tengah rerumputan, ditemani angin sejuk dan suara alam, menjadi pengalaman sederhana yang justru terasa begitu berharga.

Bagi Langit yang merupakan warga ibu kota provinsi, Samarinda, pemandangan seperti itulah yang justru menjadi alasan ia kembali ke Pulau Kumala setelah tujuh tahun lamanya.

Menurutnya, pulau wisata yang berada di jantung Kota Tenggarong itu bukan sekadar destinasi lama yang pernah berjaya. Lebih dari itu, Pulau Kumala adalah ruang jeda, tempat untuk kembali bernapas di tengah padatnya rutinitas dan hiruk pikuk kota.

“Pulau Kumala ini masih menjadi ikon wisata pilihan di Kukar, khususnya di Tenggarong. Meski fasilitasnya sudah mulai downgrade, tapi kita enggak bisa pungkiri, ruang terbuka hijau di sini masih sangat banyak. Dan itu yang harus dijaga,” ujarnya saat berbincang dengan Niaga.Asia, Jumat (27/3/2026).

Gembok cinta di Pulau Kumala yang sempat viral pada masanya. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Pengalamannya menempuh pendidikan di luar Kalimantan membuat Langit melihat Pulau Kumala bukan hanya sekadar tempat wisata, melainkan ruang terbuka yang sangat bernilai.

Pria berusia 25 tahun ini pun membandingkan Pulau Kumala dengan lingkungan kampusnya dulu yang memiliki ruang terbuka hijau luas, tempat favorite mahasiswa menghabiskan waktu mereka dengan cara sederhana.

“Universitas di Jawa dan luar negeri itu, orang-orang liburannya bukan ke tempat yang penuh wahana. Cukup ke taman terbuka, pepohonan rindang. Kami duduk di rumput hijau sambil ngerjain tugas, bercanda gurau dan itu bikin tenang sekali. Pulau Kumala ini mirip,” katanya.

Baginya, konsep sederhana itu justru menjadi kekuatan utama Kabupaten Kukar jika benar-benar dikelola dan dijaga dengan konsisten. Hamparan hijau, udara sejuk, serta suara alam seperti gemericik air serta kicauan burung-burung menghadirkan pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan pusat perbelanjaan.

“Saya pribadi sudah bosan liburan ke mall. Di sini kita bisa rileks sejenak, dengar suara sungai, burung-burung. Tadi di jalan raya panas sekali, tapi begitu nyebrang ke sini, langsung sejuk,” tuturnya.

Para pemuda terlihat sangat bersemangat jogging sore di Pulau Kumala. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Pulau Kumala, lanjutnya, menjadi salah satu destinasi yang ramah bagi semua kalangan. Dengan tiket masuk yang terjangkau hanya Rp10 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati panorama luas sekaligus beraktivitas ringan seperti jogging di sore hari.

Ia sempat mengingat masa kejayaan Pulau Kumala dulu. Wahana seperti kereta gantung dan menara menjadi daya tarik wisatawan. Bahkan, akses menuju pulau ini menggunakan kapal sebelum adanya jembatan penghubung Repo-Repo.

“Dulu ini tempat wisata yang megah sekali. Ada tower, kereta gantung. Sekarang memang sudah tidak seperti itu lagi,” kenangnya.

Namun di balik pesona Pulau Kumala yang justru menjadi daya tarik utamanya, kondisi fasilitas yang mulai menurun juga tak luput dari perhatian. Hal ini seharusnya menjadi catatan bagi Pemerintah Kabupaten Kukar, khususnya Bupati Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin.

“Kalau dibandingkan dengan dulu, memang hiburannya lebih rontok sekarang. Bangunan ada yang lepas-lepas. Tapi saya yakin ini bisa diperbaiki bupati. Yang penting manajemen bisa mengelola Pulau Kumala dengan baik,” jelasnya.

Pepohonan rindang di Pulau Kumala yang sangat menyejukkan. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Meski demikian, Langit menilai bahwa arah pengembangan wisata tak harus kembali pada kemegahan lama. Ia justru berharap pemerintah bisa lebih fokus menjaga dan mengembangkan potensi alam yang sudah ada.

“Saya enggak minta dibangun yang aneh-aneh. Cukup jaga pohon-pohonnya, hutannya. Kalau bisa ditambah burung, dibuat aviary supaya lebih hidup. Itu sudah cukup,” katanya.

Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya kesadaran masyarakat dalam memaknai liburan. Menurutnya, banyak orang terjebak hanya pada keramaian tanpa benar-benar mendapatkan ketenangan.

“Orang kadang lupa, tujuan liburan itu untuk memuaskan diri. Tapi malah ke tempat ramai, krodit, akhirnya capek sendiri. Di sini cukup duduk, matikan HP, sudah terasa banget nikmatnya,” terangnya.

Pulau Kumala bukan sekadar destinasi bagi Langit, melainkan simbol yang harus dijaga. Ia pun menitipkan harapan kepada Pemerintah Kabupaten Kukar agar ikon tersebut tidak semakin terabaikan.

“Ini ikon, loh. Sejarahnya panjang. Sayang sekali kalau ditelantarkan. Harapannya di masa kepemimpinan Aulia-Rendi bisa benar-benar diperhatikan lagi,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: