
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Komoditas kratom terus dilirik Wakil Bupati Rendi Solihin, sebagai salah satu sumber ekonomi baru yang sangat menjanjikan. Potensi perputaran uangnya bahkan disebut-sebut bisa mencapai Rp300 miliar per tahun.
Hal tersebut disampaikannya usai meninjau aktivitas produksi kratom di Kukar, tepatnya di Pabrik Ekspor Kratom yang berlokasi di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Minggu (28/3/2026).
Menurutnya, kratom saat ini telah berkembang menjadi tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan masyarakat di sejumlah wilayah Kukar. Karenanya, kratom dapat menjadi salah satu penopang ekonomi daerah di tengah keterbatasan fiskal.
“Uangnya Kukar enggak sebanyak dulu, guys. Jadi kita harus pandai-pandai melihat seluruh peluang yang ada, termasuk tanaman kratom. Kratom ini kan menjadi tanaman endemik di Kukar yang bisa kita andalkan dan unggulkan di tengah efisiensi,” ujarnya di Kantor Dinas Transnaker Kukar, Senin (30/3/2026).
Produksi kratom di Kukar kata Rendi, dapat mencapai ratusan ton setiap bulannya yang dihasilkan oleh lebih dari 12.000 orang petani. Sebagian besar dari mereka ini tersebar di Kecamatan Kota Bangun, Tabang, Loa Kulu dan wilayah Tenggarong Seberang.
Ia juga membeberkan besaran nilai tambah kratom ketika sudah diolah menjadi produk ekstrak. Menurutnya, harga ekstrak kratom di pasar internasional bisa mencapai 2.000 – 3.000 dolar AS per kilogram, sehingga punya potensi keuntungan yang sangat besar.
“Berarti 1 kilogram dari kratom yang sudah menjadi ekstrak itu sama dengan satu motor N-MAX harganya. Kalau kita hitung secara konservatif, dari produksi yang ada, potensi perputaran uangnya bisa mencapai sekitar Rp300 miliar per tahun,” jelasnya.
Saat ini, Kecamatan Tenggarong Seberang menjadi salah satu sentra utama produksi kratom di Kukar, bahkan tercatat sebagai penghasil terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim) dan kedua terbesar di Indonesia setelah Kalimantan Barat (Kalbar).
Menariknya, Tenggarong Seberang juga menjadi satu-satunya wilayah di Kukar yang telah memiliki pabrik pengolahan kratom dari bahan mentah menjadi ekstrak. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai menjadi keunggulan tersendiri, mengingat daerah lain, termasuk Kalbar sebagai produsen terbesar nasional, belum memiliki fasilitas serupa.
“Ini jadi keunggulan Kukar. Kita dorong dan bantu seluruh pelaku, termasuk usaha ekstrak, supaya produk ini benar-benar punya nilai tambah,” terangnya.
Rendi memaparkan, permintaan kratom di pasar internasional saat ini tergolong tinggi. Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Thailand, hingga beberapa negara di Eropa disebut menjadi tujuan pasar potensial.
Selain itu, kratom juga memiliki beragam produk turunan yang bernilai ekonomi, mulai dari bahan kosmetik, farmasi, hingga suplemen. Bahkan, komoditas ini disebut menjadi salah satu bahan baku dalam industri minuman energi di pasar global.
Dengan potensi ini, Pemerintah Kabupaten Kukar berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan kratom sebagai komoditas unggulan daerah, sekaligus memperkuat posisi Kukar dalam rantai pasok pasar global.
“Di Indonesia kita kenal produk seperti Extra Joss, Kratingdaeng, M150. Di luar negeri ada Monster dan Red Bull. Itu salah satu bahan dasarnya dari kratom. Makanya, saya katakan kratom ini punya potensi besar,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Pertanian