
NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Bisnis penjualan air bersih keliling menjadi salah satu usaha paling menguntungkan saat Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Taka Perintah Nunukan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih ke pelanggan.
Pembelian air bersih dari masyarakat meningkat berkali-kali lipat, bahkan tidak sedikit pelaku usaha kewalahan dalam memenuhi tingginya permintaan yang rata-rata per harinya mencapai 10 sampai 17 kali pemesanan.
“Kemarin pengantaran pesanan air dari masyarakat sekitar 17 kali dengan harga jual Rp 100.000 tiap pengisian profil tank atau tandon ukuran 1.200 liter,” kata Arki Hardiansyah, salah satu pelaku usaha penyediaan air bersih kepada niaga.asia, Rabu 1 April 2026.
Harga air bersih isi profil tank 1.200 liter akan semakin meningkat, menyesuaikan jarak pengantaran jauh dari pusat kota Nunukan. Menurut Arki, dia biasa menaikan harga jual menjadi Rp 120.000 sebagai biaya tambahan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Larisnya penjualan air bersih keliling mulai dirasakan oleh Arki sejak tiga hari belakangan, bersamaan berkurangnya pasokan air bersih Perumda Tirta Taka Nunukan, imbas menyusutnya air baku di embung Bolong dan embung Bilal.
“Kalau lagi banyak permintaan air bersih, saya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 1,7 juta sampai Rp 2 juta per hari,” ujar Arki.
Meningkatnya permintaan air bersih keliling dirasakan pula oleh Suherman. Bermodal kendaraan pikap dan profil tank atau tandon, Suherman mengaku kebanjiran orderan air sejak musim minimnya hujan yang mengguyur Nunukan.
“Sejak tiga hari ini saya selalu dapat telepon orderan minta diantar air ke rumah warga. Pemesanan per hari bisa tembus 27 profil tank,” katanya.
Terbatasnya air bersih yang mampu disiapkan Perumda Tirta Taka Nunukan menjadi berkah buat keluarga Suharman, lantaran orderan air terus mengalir. Bahkan beberapa di antaranya banyak minta diantar cepat karena warga sudah benar-benar kehabisan stok air bersih.
Sama halnya dengan Arki, Suharman juga mempromosikan usahanya lewat media sosial dengan mencantumkan gambar dan nomor telepon yang dapat dihubungi, untuk memudahkan pemasaran air bersih.
“Saya sudah lama jual air, sudah punya pelanggan tetap juga. Tahun kemarin saat musim kemarau bisa tembus 37 profil tank sehari,” jelasnya.
Suharman mendapatkan sumber air dengan cara membeli dari pemilik sumur bor. Selain biaya pembelian air. Suharman juga membayar tenaga untuk dua orang pekerja, dan biaya pembelian BBM untuk kendaraan dan mesin pompa air.
Meski sangat bersyukur atas melimpahnya rezeki dari usahanya, Suharman nyatanya tetap berharap hujan turun mengguyur pulau Nunukan agar embung-embung milik Perumda Tirta Taka kembali terisi dan dapat beroperasi maksimal melayani kebutuhan air bersih.
“Saya tidak pernah berharap kemarau panjang, Jangan juga kita mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain. Semoga aja Nunukan hujan lagi,” demikian Suharman.
Penulis: Budi Anshori | Editor: Saud Rosadi
Tag: Kemarau 2026