Nilai Ekspor Kaltim Februari 2026 Naik 5,53 Persen Dibandingkan Januari

Foto BPS Kaltim.

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 tercatat US$1.672,66 juta, atau naik sebesar 5,53 persen dibandingkan dengan Januari 2026.

Demikian dilaporkan Aryanti C, SST, M.Si, Ketua Tim Statistik Distribusi Badan Pust Statistik (BPS) Kaltim dalam konferensi pers secara daring, Rabu (1/4/2026).

Dirincikan, ekspor migas Februari 2026 tercatat sebesar US$228,85 juta, atau naik sebesar 97,39 persen dibandingkan dengan Januari 2026. Sebaliknya, ekspor nonmigas tercatat US$1.443,81 juta, atau turun sebesar 1,72 persen.

Sedangkan nilai impor Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar US$347,44 juta, atau turun sebesar 45,51 persen jika dibandingkan dengan nilai impor Januari 2026.

Nilai impor migas tercatat sebesar US$262,23 juta, atau turun sebesar 55,11 persen dibandingkan dengan nilai impor Januari 2026. Sebaliknya, nilai impor nonmigas Februari 2026 tercatat sebesar US$85,21 juta, atau naik sebesar 59,51 persen.

“Neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 mengalami surplus sebesar US$1.325,22 juta. Neraca perdagangan sektor nonmigas tercatat surplus sebesar US$1.358,60 juta, sebaliknya sektor migas tercatat defisit sebesar US$33,38 juta,” pungkasnya.

Sebagai catatan atas mitra dagang utama Kaltim, impor CPO China meningkat pada Februari 2026, baik secara m-to-m maupun y-on-y, masing masing sebesar 59,21 persen dan 1.237,73 persen. Pada Februari 2026, terdapat penambahan Mitra Dagang Utama Kalimantan Timur untuk ekspor CPO, diantaranya Belanda, Brazil, Malaysia, dan Yunani.

Impor batu bara China pada Februari 2026 mengalami penurunan menjadi 30,94 juta ton atau turun sebesar 9,95 persen dari tahun sebelumnya (y-on-y).

Total impor batu bara India pada Februari 2026 turun menjadi 19,32 juta ton. Angka ini merupakan angka terendah dari impor batu bara India selama 6 bulan terakhir.

“Sedangkan impor batu bara Jepang pada Februari 2026 meningkat secara y-on-y menjadi 13,64 juta ton atau sebesar 1,81 persen,” kata Aryanti.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan

Tag: