
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Di balik bentuk yang ikonik dan sarat makna budaya, patung Lembuswana rupanya menyimpan potensi ekonomi yang tak main-main. Cinderamata khas Kutai Kartanegara (Kukar) ini kini dilirik sebagai ladang cuan baru yang berpotensi menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Kukar melalui Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Transnaker) mulai berupaya menggenjot produksi patung Lembuswana agar tidak lagi bergantung dari luar daerah. Pasalnya selama ini, sebagian besar kerajinan tersebut justru dipasok dari pengrajin di Samarinda.
Hal tersebut dikatakan Kabid Perencanaan dan Penempatan Transnaker Kukar Darma Gumawang di Ruang Kerjanya Kantor Dinas Transnaker Kukar, Kamis siang (2/4/2026). Menurutnya, nilai jual patung Lembuswana sebenarnya cukup menjanjikan.
Untuk ukuran cinderamata, harganya berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp450 ribu, bahkan bisa mencapai Rp600 ribu untuk produk tertentu yang dilengkapi kaca.
“Kalau kita lihat di museum-museum, harga patung Lembuswana cukup tinggi. Ini peluang yang harus kita ambil, jangan sampai justru dinikmati daerah lain,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Dinas Transnaker Kukar mulai mengembangkan program pelatihan berbasis keterampilan perkayuan, dengan salah satu fokus utamanya adalah pada pembuatan patung Lembuswana.
Ia membeberkan, selama ini produksi patung Lembuswana di Kukar masih bergantung pada pengrajin dari luar daerah. Sementara, keberadaan pengrajin lokal di Kukar sendiri masih sangat terbatas.
Berdasarkan data yang ada, jumlah pengrajin patung di Kukar saat ini baru sekitar 10 orang dan tersebar di wilayah Tenggarong serta Loa Kulu. Kondisi tersebut menjadi alasan bagi pemerintah untuk menarik kembali aktivitas produksi ke daerah sendiri.
“Ini jadi konsentrasi kami tahun ini dan tahun depan di sektor perkayuan, dan Lembuswana ini salah satu contohnya. Kita ingin, pengrajin patung tersebar di seluruh kecamatan di Kukar,” jelasnya.
Program ini kata Dadang, sapaan akrab Darma Gumawang, memang dirancang tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan saja, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat Kukar.
Menariknya, pelatihan yang diberikan Dinas Transnaker mengedepankan pendekatan sesuai minat peserta. Mereka diberikan kebebasan memilih jenis keterampilan yang ingin dipelajari, mulai dari teknik molding hingga pembuatan patung secara utuh.
“Ketika mereka datang, kami tanya dulu minatnya apa. Jadi tidak dipaksakan. Dengan begitu mereka lebih cepat memahami dan bisa langsung berkembang,” terangnya.
Pendekatan ini tegas dia, dinilai efektif untuk menciptakan pengrajin yang benar-benar siap terjun ke dunia usaha. Terlebih pemerintah tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memberikan dukungan berupa bantuan alat kerja seperti bor, mesin serut, hingga berbagai peralatan pertukangan lainnya. Harapannya, mereka dapat langsung memulai produksi setelah menyelesaikan pelatihan.
“Jadi bukan hanya kami latih, tapi juga kami beri alatnya. Istilahnya kami kasih umpan sekaligus pancing,” tegasnya.
Rencananya, pelatihan akan diselenggarakan pada bulan April atau Mei 2026 di Tenggarong dengan melibatkan instruktur bersertifikasi dari Balai Latihan Kerja (BLK) Samarinda.
“Pesertanya akan mendapatkan sertifikasi yang membuktikan kompetensi mereka di bidang tersebut, sehingga siap bersaing dan terjun langsung ke dunia kerja maupun usaha mandiri,” pungkasnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: KerajinanUMKM