Samarinda Beli Speedboat Rp 1,69 M Untuk Armada Penyelamatan di Sungai Mahakam

Speedboat senilai Rp1,69 Miliar sebagai armada penyelamatan di perairan Sungai Mahakam (Dokumentasi Kominfo Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pemerintah Kota Samarinda memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar di media sosial, soal anggaran pengadaan satu unit perahu cepat (speedboat) senilai Rp 1,69 miliar pada tahun 2025.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso menjelaskan, kapal motor cepat senilai Rp 1,69 miliar itu bukan merupakan kapal biasa.

Kapal itu dirancang khusus dengan spesifikasi teknis tinggi sebagai armada penyelamat (rescue) bagi masyarakat di perairan Sungai Mahakam.

Secara teknis, kapal berjenis Rigid Hull Aluminium Boat dengan panjang 7 meter, lebar 2,2 meter, dan tinggi lambung 0,7 meter. Memiliki penyimpanan sedalam 0,35 meter, armada ini diklaim mampu bermanuver optimal di wilayah sungai, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap benturan.

Dari sisi performa, kapal motor ini juga dibekali mesin ganda yang mampu menghasilkan kecepatan operasional berkisar 28 hingga 30 knot, sehingga mendukung respons cepat dalam situasi darurat.

“Ini bukan speedboat penumpang. Dari awal memang dirancang untuk kebutuhan penyelamatan, termasuk dukungan alat navigasi khusus untuk operasi rescue,” kata Suwarso, melalui keterangan tertulis diterima niaga.asia, Jumat 3 April 2026.

Kapal cepat itu berkapasitas 7 orang, dilengkapi ruang untuk tim penyelamat dan peralatan evakuasi, bukan untuk angkutan massal.

“Material aluminium marine dipilih karena lebih kuat, tahan benturan, dan lebih aman untuk operasi penyelamatan di sungai seperti Mahakam,” jelas Suwarso.

Kehadiran armada ini diperuntukkan untuk mengantisipasi kondisi darurat pada agenda besar tahunan, seperti Festival Mahakam dan Festival Karang Mumus. Selain itu, kapal ini juga akan berfungsi sebagai sarana patroli pengamanan aktivitas masyarakat di sepanjang tepian sungai

Dengan spesifikasi tersebut, BPBD Samarinda optimistis efektivitas penanganan kondisi darurat di perairan akan meningkat signifikan.

“Harapannya, ini bisa menjadi tulang punggung operasi penyelamatan di Samarinda, terutama di kawasan perairan yang selama ini cukup rawan,” demikian Suwarso.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi | Advertorial

Tag: