Perahu Tambangan di Samarinda Riwayatmu Kini

Menyeberangi Sungai Mahakam menggunakan perahu tambangan, Minggu 5 April 2026. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Suasana di Dermaga Pasar Pagi Samarinda kini tak lagi sama. Antusiasme antrean warga yang dahulu memadati pinggiran Sungai Mahakam untuk menyeberang dari pusat kota menuju Samarinda Seberang menggunakan perahu tambangan perlahan sepi.

Keberadaan transportasi tradisional angkutan sungai itu kian tergerus oleh masifnya pertumbuhan transportasi darat di Kota Tepian.

Kapal tambangan atau dikenal dengan kapal kelotok ini dulunya begitu berjaya di era 1980-an. Kala itu, jumlah kendaraan pribadi maupun transportasi umum di Samarinda masih bisa dihitung jari, belum seramai sekarang.

Apalagi sebelum Jembatan Mahakam berdiri kokoh dan menghubungkan kedua sisi kota, perahu kayu ini menjadi salah satu pilihan utama bagi masyarakat yang ingin melintasi sungai.

Siang ini, salah satu pria paruh baya, Suhardi, 50 tahun, duduk termenung di dermaga tambangan kawasan Jalan Gajah Mada, menanti masyarakat yang ingin menggunakan jasamya menyeberangi sungai.

Motoris tambangan, Suhardi. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Suhardi adalah satu dari puluhan pengemudi perahu kayu yang masih setia bertahan. Dia menjadi motoris perahu tambangan sejak tahun 1989. Dalam ingatannya, Suhardi menceritakan awal kebangkitan usaha perahunya ini berdiri.

“Saat itu 37 tahun yang lalu, masih ingat sekali dermaga ini begitu ramai pengunjung yang ingin menyeberang ke arah terminal. Dulu itu belum ada transportasi pribadi, orang pakai motor bisa dihitung, angkot juga jarang orang naik. Jadi semua orang rata-rata kalau mau menyeberang lewat dermaga ini. Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak terlalu ramai,” kata Suhardi, ditemui niaga.asia di Dermaga Pasar Pagi, Jalan Yos Sudarso, Samarinda, Minggu 5 April 2026.

Dahulu, puncak keramaian biasanya terjadi saat berlangsungnya acara besar di daerah Kutai Kartanegara, seperti festival kebudayaan Erau di Tenggarong. Namun kini, suasana keramaian ini mulai jarang dirasakan.

“Sekarang tidak ada ramai-ramainya. Tapi kemarin lumayan pas Pasar Pagi (gedung baru Pasar Pagi) ini buka kembali setelah direnovasi. Dekat Lebaran itu lumayan orang menyeberang, setelah itu kembali lagi sepi. Hanya beberapa orang saja,” ujar Suhardi.

Dahulu perahu tambangan menjadi primadona sebelum terbangunnya Jembatan Mahakam. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Pada tahun 1989, terhitung dalam sehari hingga empat ribu orang memilih melintas menggunakan perahu tambangan ini dengan ongkos Rp100 per orang. Sekarang hanya sekitar 20 orang yang menyeberang melalui perahu ini.

“Kalau rajin sehari itu tahun 1990-an bisa mencapai Rp400 ribu penghasilan sehari. Sekarang meski setiap hari ada yang naik perahu, paling banyak 20 orang sehari tujuan ke terminal,” terangnya.

Berbeda dengan tahun lalu, saat ini tarif perahu tambangan dipatok antara Rp5 ribu hingga Rp 20 ribu per orang, tergantung jumlah muatan.

Transportasi sungai ini tersedia setiap hari, Senin sampai Minggu mulai pukul 08.00-17.00 Wita, dengan kapasitas satu perahu hingga 15 orang. Meski tergolong tradisional, perahu milik Suhardi telah dilengkapi standar keselamatan, mulai dari kelengkapan surat hingga pelampung (life jacket).

Perahu tambangan mencoba terus eksis di tengah hiruk pikuk kendaraan pribadi warga kota. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Kalau dia (penumpang) sendirian dan mau cepat, bayarnya Rp20 ribu. Berdua orang Rp10 ribu per prang. Kalau lima orang normal harganya Rp5 ribu per orang. Berapa pun jumlahnya dilayani kalau mau nyeberang,” ucapnya.

Bagi Suhardi, bertahan sebagai pengemudi perahu bukan sekadar soal uang, melainkan perahu ini memiliki kenangan tersendiri.

“Saat ini juga masih ada yang menyeberang, jadi bertahan saja. Sulit juga mencari kerja sekarang. Bekerja di tempat lain juga sama hasil sehari di sini. Alhamdulillah, anak tiga-tiganya sudah kerja semua,” demikian Suhardi di akhir perbincangan.

Bagi masyarakat yang ingin melintas menggunakan perahu tambangan ini tersedia tiga rute yang ditawarkan yakni rute menuju Terminal Bus Banjar, rute Mangkupalas dan rute menuju ke Masjid Shirathal Mustaqiem di Samarinda Seberang.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: