
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Kenaikan harga plastik dalam sepekan terakhir rupanya mulai dirasakan para pedagang dan pelaku usaha kecil di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Lonjakan harga yang terjadi bahkan disebut mencapai lebih dari 40 persen pada sejumlah jenis plastik.
Karyawan Toko Plastik Azmi wilayah Timbau, Tati (26), mengatakan bahwa hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan, terutama kantong kresek dan kertas pembungkus makanan.
“Kalau naik ya lumayan, kayaknya lebih dari 40 persen dari plastik-plastik itu,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia menyebutkan bahwa salah satu kenaikan paling mencolok terjadi pada plastik kuning ukuran jumbo. Harga ecerannya naik dari Rp33 ribu ke Rp40 ribu per pack. Sementara plastik kresek ukuran tanggung mengalami kenaikan dari Rp14 ribu menjadi Rp20 ribu.

Selain itu, beberapa merek juga mengalami lonjakan harga signifikan. Plastik merek Kitkat misalnya, naik dari Rp14 ribu menjadi Rp20 ribu per pack, dan dalam bentuk ikatan (lima pack) melonjak dari Rp65 ribu menjadi Rp100 ribu. Merek Idola warna hijau juga naik dari Rp15 ribu menjadi Rp18 ribu per pack.
Tak hanya kantong plastik, kenaikan juga terjadi pada produk lain seperti gelas plastik. Gelas merek Mahkota isi 50 pcs kini dijual Rp14 ribu dari sebelumnya hanya sekitar Rp12 ribu.
“Lonjakannya lumayan sih,” tambah Tati.
Untuk ukuran plastik kecil yang paling banyak diminati, yakni ukuran 15, harga juga ikut naik. Plastik tipis dari Rp6.000 menjadi Rp7.500, sementara ukuran tanggung dari Rp8.000 naik menjadi Rp12.000.
Meski demikian, permintaan dari pembeli masih relatif stabil, walaupun ada sedikit penurunan. “Berkurang sih ada, tapi kan kebutuhan. Mau enggak mau tetap beli,” katanya.
Tati menyebut kenaikan ini sudah berlangsung sekitar satu minggu terakhir. Ia juga mengaku belum mengetahui pasti penyebabnya, namun dirinya hanya mendengar isu bahwa faktor global turut mempengaruhi harga bahan baku plastik.
“Kita lihat di berita-berita itu karena perang Iran-Amerika,” tuturnya

Dampak kenaikan ini ternyata turut dirasakan pelaku usaha makanan di Tenggarong. Tarni, pemilik warung soto Lamongan di kawasan Timbau, pun mengaku bahwa pengeluaran operasionalnya meningkat akibat harga plastik yang melonjak.
“Pendapatannya jadi berkurang, istilahnya tambah mahal,” jelasnya.
Wanita berusia 47 tahun ini mencontohkan, plastik kecil yang biasa dibeli seharga Rp11 ribu kini naik menjadi Rp16 ribu hingga Rp18 ribu. Kenaikan ini membuat keuntungan usaha semakin tipis karena harga jual makanan tidak dinaikkan.
“Kalau makanan kan enggak bisa dinaikkan, jadi untungnya tipis,” terangnya.
Tarni tetap mempertahankan harga soto Rp18 ribu per porsi, baik untuk makan di tempat maupun dibungkus. Namun, ia juga mengaku bahwa permintaan pembeli untuk bungkus terpisah membuat penggunaan plastik jadi meningkat.
“Kalau bungkus pisah jadi banyak plastik, tapi mau bagaimana lagi. Kita juga nggak mungkin minta pelanggan bawa wadah sendiri, nanti pelanggan malah kabur semua. Ya sudah, ya siapa tahu nanti turun, kan. Harapannya sih begitu,” harapnya.
Kenaikan harga plastik kali ini disebut sebagai yang paling tinggi dibandingkan sebelumnya. Jika biasanya kenaikan hanya berkisar sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000, kini bisa mencapai Rp5.000 atau lebih per produk.
Para pelaku usaha berharap ada langkah dari pemerintah untuk menstabilkan harga plastik, mengingat dampaknya cukup besar terhadap keberlangsungan usaha kecil.
“Harapannya ya harga bisa kembali normal. Soalnya ini pengaruhnya besar ke jualan,” tutupnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: plastik