
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pakistan telah berperan sebagai mediator dalam pertikaian antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran, hingga tercapai kesepakatan gencatan senjata antara AS-Iran, sejak kemarin.
Trump menyebut Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif sebagai salah satu tokoh yang diajak berkomunikasi dan yang berkontribusi pada tercapainya kesepakatan gencatan senjata bersyarat tersebut.
Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Asim Munir, juga disebut dalam unggahan Trump di Truth Social.
“Mereka meminta agar saya menahan kekuatan destruktif yang rencananya akan dikirim ke Iran malam ini,” tulis Trump.
Beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan, muncul sejumlah secercah harapan dari Pakistan.
Berbicara secara anonim, seorang sumber Pakistan mengatakan kepada BBC bahwa perundingan terus berlangsung “dengan cepat”, dan Pakistan bertindak sebagai mediator antara Iran dan AS.
Para perunding dari pihak Pakistan terdiri dari “lingkaran yang sangat kecil”, dan suasana saat itu digambarkan sebagai “muram dan serius, tetapi tetap ada harapan bahwa penghentian permusuhan akan menjadi hasil akhirnya. Masih ada beberapa jam tersisa.”
Sumber tersebut mengatakan bahwa dia tidak termasuk dalam lingkaran kecil itu.
Selama beberapa pekan terakhir, Pakistan telah bertindak sebagai mediator antara Iran dan AS, menyampaikan pesan antara kedua pihak.
Pakistan memiliki hubungan historis dengan Iran, berbagi perbatasan, dan secara rutin menyebut hubungan mereka sebagai hubungan “persaudaraan”.
Adapun hubungan dengan AS, Presiden Trump menyebut Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Marsekal Asim Munir, sebagai marsekal “favoritnya” dan mengatakan bahwa dia mengenal Iran “lebih baik daripada kebanyakan orang.”

Kesepakatan tersebut masih jauh dari kata pasti. Berbicara di hadapan parlemen pada Selasa (07/04) malam, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan:
“Hingga kemarin kami sangat optimistis bahwa segalanya bergerak ke arah yang positif,” sebelum Israel melancarkan serangan ke Iran pada Senin dan Iran menyerang Arab Saudi.
Dia mengatakan bahwa Pakistan “masih berupaya mengelola situasi semaksimal mungkin.”
Marsekal Munir bahkan menyampaikan kritik yang lebih terbuka. Berbicara kepada para pejabat militer pada Selasa, dia mengatakan bahwa serangan terhadap Arab Saudi “merusak upaya‑upaya tulus untuk menyelesaikan konflik melalui cara-cara damai”.
Ini merupakan salah satu bahasa paling keras yang digunakan Pakistan terhadap Iran sejak konflik tersebut dimulai.
Sejumlah analis menyebut bahwa hal ini dapat menambah tekanan terhadap Iran.
Pakistan memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi, yang hingga kini belum diaktifkan, meskipun terjadi serangan berulang terhadap Arab Saudi.
Setelah lewat tengah malam di Pakistan, Perdana Menteri negara itu mengunggah pernyataan di X bahwa “upaya diplomatik… sedang berkembang secara stabil, kuat, dan penuh daya, dengan potensi menghasilkan hasil substantif dalam waktu dekat.”
Dia juga meminta Presiden Trump untuk memperpanjang tenggat waktu selama dua minggu dan agar Iran membuka Selat Hormuz untuk periode yang sama.
Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, mengunggah pernyataan di X sekitar pukul 03.00 waktu setempat bahwa telah terjadi “satu langkah maju dari tahap yang kritis dan sensitif”.
Sesaat sebelum pukul 05.00, Perdana Menteri Pakistan mengumumkan bahwa gencatan senjata telah disepakati dan mengundang kedua pihak untuk bertemu di Islamabad pada Jumat, 10 April, guna “melanjutkan perundingan menuju kesepakatan yang final”.
“Kami masih sangat berhati-hati,” ujar sumber Pakistan kepada BBC, seraya mengatakan bahwa situasi masih memiliki “kerapuhan yang berkelanjutan”.
Masih belum ada kepercayaan antara kedua pihak, kata sumber tersebut.
Sumber: BBC News Indonesia | Editor: Intoniswan
Tag: Irans-ASPakistanPerang