Harga Plastik di Samarinda Melonjak Naik 70 Persen, Omzet Pedagang Anjlok

Salah satu toko plastik di Jalan AM Sangaji, Samarinda. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Harga berbagai jenis produk plastik di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, melonjak drastis hingga 70 persen sejak pertengahan Maret 2026 lalu. Kenaikan harga kemasan itu berimbas penurunan omzet pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Pemilik Toko Lancar Abadi Plastik di Jalan AM Sangaji Samarinda, Harvey Gufron, 44 tahun, menerangkan harga paling mencolok terjadi pada plastik jenis Polietilen (PE) atau plastik gula dan plastik bening, yang umum digunakan sebagai pembungkus makanan.

Kenaikan ini mulai terasa sejak pertengahan Ramadan lalu. Kenaikan harga modal dari distributor di Pulau Jawa memicu kenaikan harga daerah.

“Kenaikan paling tinggi sampai 70 persen. Itu plastik gula dan plastik bening itu harga beli per karungnya berkisar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu. Sekarang sudah Rp1,5 juta per karung,” kata Gufron ditemui di tokonya, Minggu 12 April 2026.

Pemilik Toko Lancar Abadi Plastik di Jalan AM Sangaji Samarinda, Harvey Gufron. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Kenaikan harga di tingkat grosir ini memaksa pedagang menyesuaikan harga eceran. Harvey mencontohkan, plastik PE ukuran seperempat kilogram yang sebelumnya dibanderol Rp6 ribu, kini harus dijual seharga Rp10 ribu kepada konsumen.

Tidak hanya plastik bening, produk plastik berwarna pun ikut naik, sekitar 40 hingga 50 persen. Plastik warna ukuran besar yang semula dijual Rp90 ribu per pak, kini menembus harga Rp140 ribu.

Bahkan, perlengkapan penunjang bisnis kuliner seperti cup minuman juga mengalami kenaikan dari Rp9 ribu menjadi Rp13 ribu per paj.

“Hampir seluruh lini produk plastik naik. Pasokan kami datangkan dari Pulau Jawa, dan dari agen di sana harganya memang sudah tinggi sekali,” jelasnya.

Melonjaknya harga produk turunan plastik ini ditengarai imbas konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak.

Gangguan ini mendorong kenaikan harga minyak, yang otomatis menaikkan biaya bahan baku petrokimia seperti nafta, yang menjadi bahan baku utama plastik. Kenaikan ini kemudian mendorong lonjakan harga plastik di pasaran.

Harga jual plastik di kota Samarinda naik 70 persen. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi para pedagang plastik di Samarinda. Harvey mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli antara 30-50 persen, yang berujung pada merosotnya omzet harian toko yang telah dia kelola sejak tahun 2004.

“Plastik bening itu paling dibutuhkan orang untuk membungkus makanan. Sekarang daya beli masyarakat sangat terdampak, jumlah pembeli berkurang sampai setengahnya,” jelas Harvey.

Meskipun begitu, sebagian besar pelanggan tetap membeli karena plastik merupakan komponen utama kemasan yang belum tergantikan dalam industri makanan.

“Rata-rata konsumen tetap membeli karena memang butuh untuk membungkus makanan. Mereka tidak mungkin beralih ke plastik warna karena faktor higienitas dan aturan keamanan pangan,” demikian Harvey Gufron.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: