
JAKARTA.NIAGA.ASIA – Direktur Manajemen Risiko Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia (Barantin) Anes Doni Kriswito menyampaikan, Indonesia tengah melakukan berbagai upaya perbaikan, salah satunya di tingkat internal perusahaan.
“Selain itu, Pemerintah Indonesia sedang memetakan dan memitigasi melalui penyesuaian regulasi serta peningkatan pengawasan. Pemerintah Indonesia pun mengharapkan kehadiran otoritas Tiongkok untuk meninjau langsung proses pengawasan dan perbaikan yang telah dilakukan,” kata Anes Doni Kriswito pada China-Indonesia Bird’s Nest Trade Summit pada Senin, (13/4) di Kemendag, Jakarta, yang diikuti 20 pelaku usaha nasional dan menghadirkan asosiasi buyer sarang burung walet dari Tiongkok.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI) Boedi Mranata optimistis permasalahan kadar aluminium pada sarang burung walet dapat diatasi melalui peningkatan teknologi serta pengendalian proses produksi yang lebih baik.
Pengendalian produk yang konsisten dapat menjaga kualitas produk sarang burung walet Indonesia. Selain itu, Boedi menekankan pentingnya kepastian dalam proses pengujian.
“Kita masih menghadapi tantangan dalam hal kepastian hasil uji. Produk yang telah lolos pengujian di Indonesia belum tentu lolos saat diperiksa di Tiongkok sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Oleh karena itu, perlu adanya penyelarasan mekanisme pengujian agar hasil yang diperoleh di Indonesia dapat diakui oleh Tiongkok,” ujar Boedi.
Salah satu perusahaan importir sarang burung walet di Tiongkok adalah Yan TyTy. Presiden Yan TyTy, Li Li, berharap pelaku usaha Indonesia dapat terus memperkuat manajemen internal serta memastikan konsistensi standar produk, baik dari sisi kualitas, stabilitas pasokan, maupun harga.
Ia juga menyatakan kesiapan perusahaannya untuk menjadi penghubung antara konsumen di Tiongkok dan pelaku usaha sarang burung walet Indonesia.
“Kami siap berperan dalam penyesuaian standar kualitas, perbaikan proses, penyampaian kebutuhan pasar, serta penyediaan pasokan yang sesuai untuk membantu produk berkualitas Indonesia masuk ke pasar Tiongkok dengan lebih lancar dan meningkatkan daya saing sarang burung walet Indonesia,” ujar Li Li.
Sementara itu, Ketua China Agricultural Wholesale Market Association (CAWA) Ma Zhengjun mengundang pelaku usaha Indonesia untuk dapat hadir ke Tiongkok dan menghadiri business connection yang digelar pada sekitar musim gugur mendatang agar semakin mengenal kebutuhan kedua negara.
“Pelaku usaha Indonesia dapat mengikuti acara di Tiongkok untuk memahami perkembangan kebutuhan pasarnya, sehingga dapat mencapai potensi-potensi kerja sama yang baru dan semakin produktif,” ujar Ma.
Sumber: Siaran Pers Kemendag | Editor: Intoniswan
Tag: PerdaganganSarang Burung Walet