Bupati Kukar Gencarkan Strategi Dokter Lokal untuk Atasi Krisis di Tabang

Bupati Aulia Rahman Basri. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Keberhasilan Muara Muntai dan Kota Bangun menghadirkan dokter tetap menjadi pijakan baru bagi Bupati Aulia Rahman Basri dalam mengatasi krisis tenaga medis di wilayah terpencil, seperti Kecamatan Tabang.

Dari pengalaman itu, ia menilai bahwa kunci utama penyelesaian krisis ini justru terletak pada ketersediaan dokter yang berasal dari anak daerah sendiri.

“Jangan berharap permasalahan dokter di Tabang itu selesai kalau bukan anak Tabang yang menjadi dokter,” ujarnya, Jumat malam (17/4/2026).

Menurutnya, pola tersebut telah terbukti efektif. Di Muara Muntai dan Kota Bangun misalnya, keberadaan dokter dapat terjaga dan bertahan lama karena tenaga medis yang bertugas adalah putra daerah di wilayahnya.

“Muara Muntai ada dokternya karena anak Muara Muntai sendiri yang jadi dokter di sana. Kota Bangun juga begitu,” jelasnya.

Sebaliknya, kondisi berbeda justru terjadi di Kecamatan Tabang. Wilayah yang tergolong terpencil ini mengalami kekosongan dokter hampir satu tahun terakhir. Jarak yang jauh serta minimnya daya tarik menjadi faktor utama tenaga medis enggan bertugas di sana.

Aulia mengakui bahwa persoalan distribusi dokter memang tidak merata. Wilayah tengah dan pesisir relatif tidak mengalami kendala, namun daerah hulu yang jauh dari pusat layanan kesehatan masih menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah.

“Kalau kita bicara daerah yang agak jauh, itu memang menjadi isu, karena masalah jarak,” terangnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Kukar mulai menyiapkan program beasiswa pendidikan kedokteran bagi anak-anak dari wilayah terpencil, termasuk Tabang. Program tersebut diharapkan dapat mencetak tenaga medis lokal yang nantinya kembali mengabdi di daerah asal.

Upaya tersebut turut melibatkan pihak swasta. Pemerintah Kabupaten Kukar menggandeng Bayan Group untuk mendukung pembiayaan pendidikan calon mahasiswa kedokteran dari daerah tersebut.

Selain itu, dukungan juga datang dari dunia akademik. Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Mulawarman (Unmul) telah menyatakan kesiapan menerima mahasiswa dari pelosok Kukar ke Fakultas Kedokteran.

“Unhas dan Unmul juga sudah memberikan goodwill untuk menerima anak-anak dari pelosok Kukar masuk Fakultas Kedokteran. Ini sedang kita siapkan prosesnya,” bebernya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa strategi tersebut membutuhkan waktu panjang untuk membuahkan hasil. Karenanya, pemerintah tetap menjalankan langkah jangka pendek agar pelayanan kesehatan di Tabang tetap berjalan.

Saat ini, layanan di Puskesmas Tabang tetap dioperasikan dengan memaksimalkan peran tenaga perawat yang didukung oleh sistem telemedicine. Dalam praktiknya, perawat melakukan pemeriksaan langsung terhadap pasien, sementara dokter memberikan pemantauan dari jarak jauh.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kukar juga tengah merevisi peraturan terkait peningkatan insentif bagi dokter non-ASN guna menarik minat tenaga medis untuk bertugas di wilayah terpencil.

“Kita tetap berupaya mencari dokter dan menaikkan insentifnya. Tapi untuk jangka panjang, solusi paling tepat itu menyiapkan anak daerah sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: