Bangunan SDN 06 Krayan Barat Rusak Berat

Kondisi ruang belajar yang digunakan siswa-siswi SDN 06 Kecamatan Krayan Barat, rusak berat. (Foto : Juen Ferson/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Bangunan  SDN 06 Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara dalam kondisi rusak berat. Sekolah yang dibangun tahun 1984 ini, tidak pernah direhabiltasi dan dapat perawatan, akibatnya bangunan sekolah dari kayu jadi lapuk dimakan usia.

Plt Kepala SDN 06 Kecamatan Krayan Barat, Juen Ferson, mengatakan,  bangunan sekolah sudah tidak layak lagi dipakai, karena dinding, lantai dan plafon yang terbuat dari kayu sudah lapuk, dan jendelanya sudah tidak ada lagi.

“Kalau lantainya jabuk dan diinjak kaki tembus, kami tambal pakai papan seadanya, begitu pula bagian dinding,” kata Juen pada Niaga.Asia, Senin (04/05/2026).

Setiap hari para guru dan murid harus memperhatikan bagian plapon yang sudah dimakan rayap dan khawatir patah menimpa guru dan murid.

Dari 6 rombongan belajar (atau kelas), terdapat 1 kelas dalam kondisi sangat memprihatinkan, tidak aman lagi dipakai atau difungsikan, dan ketika musim hujan, air masuk kelas, karen atap sudah bocor.

“SDN 06 Krayan Barat berada di daerah sangat tertinggal di Desa Long Puak, sekolah ini asalnya SD Inpres yang digagas Presiden Soeharto melalui Inpres Nomor 10 Tahun 1973,” ungkap Juen.

Bangunan SDN 06 Kecamatan Krayan Barat ini asalnya SD Inpres yang dibangun tahun 1984. (Foto : Juen Ferson/Niaga.Asia)

Permasalahan lain yang dihadapi, kata Juen, minat  orang tua menyekolahkan anak-anaknya di SDN 06 Krayan Barat sangat rendah, jumlah siswa kelas I hingga VI saat  hanya 15 orang. SDN 06 Krayan Barat masih akreditasi C, tiap bulan sekolah menerima dana Bosnas sebesar Rp 7 juta dan Bosda Rp 1 juta.

Menurut Juen, pemerintah pusat di tahun 2014 pernah melakukan perbaikan gedung sekolah melalui  dana alokasi khusus (DAK), tapi hanya untuk 3 Rombel, sedangkan 3 Rombel lainnya  tak disediakan dananya.

Saat ini kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan dengan keterbatasan sarana dan prasarana, meski begitu, para guru tetap menunjukan semangat pantang menyerah demi mencerdaskan generasi anak bangsa di perbatasan.

“Guru PNS hanya saya, sisanya guru PPPK penuh waktu dan PPPK paruh waktu termasuk tenaga teknis,” bebernya.

Kerusakan bangunan sekolah sudah berulang kali disampaikan ke pemerintah desa dan Dinas Pendidikan (Disdik) Nunukan, namun pihak Disdik hanya memberikan jawaban mohon Data Pokok Pendidikan (Dapodik) diperbaiki.

Ditengah kondisi memprihatinkan, Juen meminta semua guru tetap bersabar dan memberikan pelayanan pendidikan secara maksimal meskipun sarana sekolah hampir-hampir tidak memenuhi syarat keselamatan.

Penulis: Budi Anshori | Editor: Intoniswan

Tag: